Ukraina Klaim Serang Pangkalan Rusia, Jet Tempur MiG-31 hingga Sistem Rudal Pantsir-2 Hancur
Jum'at, 19 Desember 2025 - 09:17 WIB
loading...
Ukraina klaim serang pangkalan udara Rusia di Crimea. Jet tempur MiG-31, dua sistem radar, dan sistem rudal Pantsir-2 diklaim hancur. Foto/SBU
A
A
A
KYIV - Dinas Keamanan Ukraina (SBU) mengeklaim telah meluncurkan serangan terbaru terhadap Pangkalan Udara Belbek milik Rusia di Crimea.
Menurut SBU, serangan ini telah menghancurkan peralatan militer Rusia senilai ratusan juta dolar, termasuk jet tempur MiG-31 yang sarat dengan senjata, dua sistem deteksi radar jarak jauh Nebo-SVU, radar 92N6, dan sistem rudal pertahanan rudal Pantsir-S2.
SBU mengatakan drone-drone jarak jauh dari Pusat Operasi Khusus Alpha melakukan serangan pada 17 Desember, yang menghantam pangkalan udara di kota pelabuhan Sevastopol, Crimea.
Baca Juga: Putin: 'Babi-babi Rusia Ingin Pesta atas Runtuhnya Rusia, tapi...'
Klaim tersebut belum bisa diverifikasi, tetapi SBU memberikan gambar yang menurut mereka berasal dari rekaman serangan tersebut. Sedangkan Rusia tidak berkomentar.
Gubernur Sevastopol, Mikhail Razvozhaev, mengatakan dalam sebuah unggahan di Telegram bahwa kota itu diserang oleh pesawat nirawak Ukraina pada 17 Desember. Menurutnya, serangan itu berhasil dipukul mundur oleh pertahanan udara dan Armada Laut Hitam Rusia, yang menurutnya menembak jatuh 11 pesawat nirawak.
"Menurut Dinas Penyelamatan Sevastopol, tidak ada fasilitas di kota yang rusak," kata Razvozhaev, seperti dikutip dari Newsweek, Jumat (19/12/2025).
Rusia mencaplok Crimea dari Ukraina dalam invasi tahun 2014, namun Moskow menolak narasi aneksasi dan menegaskan bahwa itu adalah hasil referendum rakyat Crimea. Ukraina, yang tidak mengakui referendum itu menyebut Crimea—semenanjung yang strategis di Laut Hitam yang merupakan rumah bagi pangkalan Rusia di Sevastopol—sebagai wilayah yang diduduki sementara.
Ukraina berusaha menekan Rusia dan memanfaatkan pengaruhnya di mana pun memungkinkan, seiring pasukan Moskow perlahan maju di sepanjang garis depan timur.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang pemerintahannya menjadi penengah negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung saat ini, mengatakan Ukraina kalah dan mendorong Kyiv untuk menerima kompromi yang menyakitkan dengan Kremlin untuk mengakhiri perang.
Kremlin mengatakan pada hari Kamis bahwa mereka mengantisipasi kontak baru dengan AS setelah pembicaraan Washington dengan Ukraina dan Eropa di Berlin, yang menghasilkan serangkaian proposal perdamaian yang direvisi. Negosiasi tetap buntu pada isu konsesi teritorial dan keamanan masa depan Ukraina.
Rusia ingin Ukraina menyerahkan wilayah, termasuk beberapa wilayah yang masih dikuasai Kyiv, tetapi Kyiv menolak hal ini. Kremlin menolak proposal Kyiv-Eropa untuk menempatkan pasukan penjaga perdamaian Barat di Ukraina setelah perang untuk memastikan Rusia tidak menyerang lagi.
Di Brussels pada hari Kamis, Dewan Eropa sedang membahas usulan pinjaman reparasi untuk Ukraina yang dibiayai dengan aset Rusia yang dibekukan. Meskipun sebagian besar setuju, beberapa negara anggota khawatir tentang risiko hukum dan keuangan yang besar jika melakukannya.
Hongaria, yang memiliki hubungan hangat dengan Rusia, juga percaya bahwa hal itu akan memicu perang alih-alih mengamankan perdamaian.
Menurut SBU, serangan ini telah menghancurkan peralatan militer Rusia senilai ratusan juta dolar, termasuk jet tempur MiG-31 yang sarat dengan senjata, dua sistem deteksi radar jarak jauh Nebo-SVU, radar 92N6, dan sistem rudal pertahanan rudal Pantsir-S2.
SBU mengatakan drone-drone jarak jauh dari Pusat Operasi Khusus Alpha melakukan serangan pada 17 Desember, yang menghantam pangkalan udara di kota pelabuhan Sevastopol, Crimea.
Baca Juga: Putin: 'Babi-babi Rusia Ingin Pesta atas Runtuhnya Rusia, tapi...'
Klaim tersebut belum bisa diverifikasi, tetapi SBU memberikan gambar yang menurut mereka berasal dari rekaman serangan tersebut. Sedangkan Rusia tidak berkomentar.
Gubernur Sevastopol, Mikhail Razvozhaev, mengatakan dalam sebuah unggahan di Telegram bahwa kota itu diserang oleh pesawat nirawak Ukraina pada 17 Desember. Menurutnya, serangan itu berhasil dipukul mundur oleh pertahanan udara dan Armada Laut Hitam Rusia, yang menurutnya menembak jatuh 11 pesawat nirawak.
"Menurut Dinas Penyelamatan Sevastopol, tidak ada fasilitas di kota yang rusak," kata Razvozhaev, seperti dikutip dari Newsweek, Jumat (19/12/2025).
Rusia mencaplok Crimea dari Ukraina dalam invasi tahun 2014, namun Moskow menolak narasi aneksasi dan menegaskan bahwa itu adalah hasil referendum rakyat Crimea. Ukraina, yang tidak mengakui referendum itu menyebut Crimea—semenanjung yang strategis di Laut Hitam yang merupakan rumah bagi pangkalan Rusia di Sevastopol—sebagai wilayah yang diduduki sementara.
Ukraina berusaha menekan Rusia dan memanfaatkan pengaruhnya di mana pun memungkinkan, seiring pasukan Moskow perlahan maju di sepanjang garis depan timur.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang pemerintahannya menjadi penengah negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung saat ini, mengatakan Ukraina kalah dan mendorong Kyiv untuk menerima kompromi yang menyakitkan dengan Kremlin untuk mengakhiri perang.
Kremlin mengatakan pada hari Kamis bahwa mereka mengantisipasi kontak baru dengan AS setelah pembicaraan Washington dengan Ukraina dan Eropa di Berlin, yang menghasilkan serangkaian proposal perdamaian yang direvisi. Negosiasi tetap buntu pada isu konsesi teritorial dan keamanan masa depan Ukraina.
Rusia ingin Ukraina menyerahkan wilayah, termasuk beberapa wilayah yang masih dikuasai Kyiv, tetapi Kyiv menolak hal ini. Kremlin menolak proposal Kyiv-Eropa untuk menempatkan pasukan penjaga perdamaian Barat di Ukraina setelah perang untuk memastikan Rusia tidak menyerang lagi.
Di Brussels pada hari Kamis, Dewan Eropa sedang membahas usulan pinjaman reparasi untuk Ukraina yang dibiayai dengan aset Rusia yang dibekukan. Meskipun sebagian besar setuju, beberapa negara anggota khawatir tentang risiko hukum dan keuangan yang besar jika melakukannya.
Hongaria, yang memiliki hubungan hangat dengan Rusia, juga percaya bahwa hal itu akan memicu perang alih-alih mengamankan perdamaian.
(mas)
Lihat Juga :