Ibu Negara Prancis Minta Maaf karena Memaki Aktivis dengan Sebutan Jalang Tolol
Selasa, 16 Desember 2025 - 11:19 WIB
loading...
Ibu Negara Prancis Brigitte Macron (kiri) minta maaf setelah memaki aktivis dengan ucapan jalang tolol. Foto/Wikimedia
A
A
A
PARIS - Ibu Negara Prancis Brigitte Macron telah menyampaikan permintaan maaf karena menggunakan memaki para aktivis dengan kata-kata kasar pada awal bulan ini. Permintaan maaf istri Presiden Emmanuel Macron ini disampaikan hari Senin untuk meredam trending topic makiannya di media sosial.
"Saya minta maaf jika saya menyakiti para korban perempuan," kata Ibu Negara berusia 72 tahun itu, menyebut pernyataan yang terekam dalam video awal bulan ini sebagai komentar pribadi.
Namun, dia menambahkan: "Saya tidak bisa menyesalinya. Memang benar, saya adalah istri presiden republik, tetapi di atas segalanya saya adalah diri saya sendiri. Jadi ketika saya berada di tempat pribadi, saya bisa bersikap tidak sepenuhnya pantas."
Baca Juga: Presiden Macron Akan Beber Foto dan Bukti Ilmiah Istrinya Perempuan, Bukan Transgender
Mengutip laporan AFP, Selasa (16/12/2025), Brigitte Macron merujuk pada deskripsi yang dia buat tentang para aktivis yang mengganggu pertunjukan stand-up comedy pada 7 Desember yang dia hadiri, yang menampilkan seorang aktor Prancis yang dituduh melakukan pemerkosaan tapi tidak didakwa.
Berbicara kepada aktor tersebut, Ary Abittan, di belakang panggung, Brigitte Macron menyebut para aktivis itu "jalang tolol" ("sales connes" dalam bahasa Prancis).
Ketika video percakapan tersebut dipublikasikan keesokan harinya, tanda pagar (tagar) #SalesConnes mulai menjadi trending topic di media sosial, dan beberapa aktor terkenal—termasuk Marion Cotillard yang memenangkan Oscar—kemudian menggunakannya dalam unggahan media sosial.
Meskipun upaya kantor Ibu Negara untuk menyajikan makian tersebut sebagai "metode radikal" kritik terhadap para aktivis, reaksi negatif tidak mereda.
Greve Feministe, sebuah kelompok yang terdiri dari sekitar 60 kelompok feminis yang namanya diterjemahkan sebagai "Pemogokan Feminis", telah menuntut permintaan maaf publik dari Ibu Negara.
Para aktivis yang mengganggu pertunjukan komedi tersebut mengenakan topeng Abittan bertuliskan "pemerkosa", dan meneriakkan "Abittan pemerkosa".
Aktor dan komedian tersebut telah dituduh melakukan pemerkosaan pada tahun 2021 oleh seorang wanita yang menuduhnya telah memaksanya melakukan tindakan seksual tanpa persetujuan.
Pada tahun 2023, para penyelidik menghentikan kasus terhadapnya, dan pengadilan banding pada bulan Januari menguatkan keputusan tersebut.
Prancis, setelah gerakan #MeToo, diguncang oleh serangkaian tuduhan pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap tokoh-tokoh budaya terkenal.
Ikon layar lebar Gerard Depardieu pada bulan Mei dinyatakan bersalah atas pelecehan seksual terhadap dua wanita di lokasi syuting film pada tahun 2021, dan akan diadili atas tuduhan memerkosa seorang aktor pada tahun 2018. Dia membantah melakukan kesalahan apa pun.
Presiden Emmanuel Macron pada tahun 2023 mengatakan bahwa Depardieu menjadi target "perburuan" dan bahwa dia percaya pada asas praduga tak bersalah.
"Saya minta maaf jika saya menyakiti para korban perempuan," kata Ibu Negara berusia 72 tahun itu, menyebut pernyataan yang terekam dalam video awal bulan ini sebagai komentar pribadi.
Namun, dia menambahkan: "Saya tidak bisa menyesalinya. Memang benar, saya adalah istri presiden republik, tetapi di atas segalanya saya adalah diri saya sendiri. Jadi ketika saya berada di tempat pribadi, saya bisa bersikap tidak sepenuhnya pantas."
Baca Juga: Presiden Macron Akan Beber Foto dan Bukti Ilmiah Istrinya Perempuan, Bukan Transgender
Mengutip laporan AFP, Selasa (16/12/2025), Brigitte Macron merujuk pada deskripsi yang dia buat tentang para aktivis yang mengganggu pertunjukan stand-up comedy pada 7 Desember yang dia hadiri, yang menampilkan seorang aktor Prancis yang dituduh melakukan pemerkosaan tapi tidak didakwa.
Berbicara kepada aktor tersebut, Ary Abittan, di belakang panggung, Brigitte Macron menyebut para aktivis itu "jalang tolol" ("sales connes" dalam bahasa Prancis).
Ketika video percakapan tersebut dipublikasikan keesokan harinya, tanda pagar (tagar) #SalesConnes mulai menjadi trending topic di media sosial, dan beberapa aktor terkenal—termasuk Marion Cotillard yang memenangkan Oscar—kemudian menggunakannya dalam unggahan media sosial.
Meskipun upaya kantor Ibu Negara untuk menyajikan makian tersebut sebagai "metode radikal" kritik terhadap para aktivis, reaksi negatif tidak mereda.
Greve Feministe, sebuah kelompok yang terdiri dari sekitar 60 kelompok feminis yang namanya diterjemahkan sebagai "Pemogokan Feminis", telah menuntut permintaan maaf publik dari Ibu Negara.
Para aktivis yang mengganggu pertunjukan komedi tersebut mengenakan topeng Abittan bertuliskan "pemerkosa", dan meneriakkan "Abittan pemerkosa".
Aktor dan komedian tersebut telah dituduh melakukan pemerkosaan pada tahun 2021 oleh seorang wanita yang menuduhnya telah memaksanya melakukan tindakan seksual tanpa persetujuan.
Pada tahun 2023, para penyelidik menghentikan kasus terhadapnya, dan pengadilan banding pada bulan Januari menguatkan keputusan tersebut.
Prancis, setelah gerakan #MeToo, diguncang oleh serangkaian tuduhan pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap tokoh-tokoh budaya terkenal.
Ikon layar lebar Gerard Depardieu pada bulan Mei dinyatakan bersalah atas pelecehan seksual terhadap dua wanita di lokasi syuting film pada tahun 2021, dan akan diadili atas tuduhan memerkosa seorang aktor pada tahun 2018. Dia membantah melakukan kesalahan apa pun.
Presiden Emmanuel Macron pada tahun 2023 mengatakan bahwa Depardieu menjadi target "perburuan" dan bahwa dia percaya pada asas praduga tak bersalah.
(mas)
Lihat Juga :