Hamas Tawarkan Gencatan Senjata 10 Tahun dan Kubur Senjata Jika Israel Mundur Total dari Gaza
Rabu, 10 Desember 2025 - 11:05 WIB
loading...
A
A
A
Beberapa dilaporkan ditahan dalam kondisi yang digambarkan kelompok-kelompok hak asasi manusia sebagai diet tingkat kelaparan, yang diberlakukan menteri keamanan nasional sayap kanan, Itamar Ben Gvir.
Pejabat senior Palestina tersebut membela keputusan Hamas memasuki gencatan senjata meskipun ada kekurangannya.
Ia mengatakan pasukan Israel tetap berada di sepanjang apa yang mereka sebut "garis kuning", yang berarti Israel masih menduduki sekitar 53% Jalur Gaza, termasuk beberapa lahan pertaniannya yang paling produktif.
"Tentu saja Hamas menganggap perjanjian itu tidak baik. Tetapi prioritas utamanya adalah menghentikan perang. Trump menawarkan menjamin berakhirnya perang, jadi Hamas menerimanya," ujar pejabat itu.
"Namun, masih banyak hal dalam perjanjian yang tidak diterima Hamas dan kini menjadi bahan dialog internal di antara faksi-faksi Palestina. Strategi gerakan ini adalah menghentikan perang dan kemudian menangani isu-isu lainnya," ungkap dia.
Ketika ditanya berapa lama Hamas akan menoleransi pelanggaran gencatan senjata oleh Israel sebelum merespons secara militer, pejabat tersebut mengakui gencatan senjata berada pada "tahap yang sangat sulit".
"Banyak hal yang sangat buruk, tetapi strategi kami adalah menyelamatkan rakyat kami. Hari-hari ini memang sulit, tetapi itu hanyalah satu momen dalam perjuangan panjang,” papar dia.
"Israel tidak akan mundur hanya karena tuntutan Trump," lanjutnya. "Kami percaya Hamas dan rakyatnya dapat membangun kondisi yang akan memaksa Israel untuk menghormati dan mengakui tuntutan serta hak-hak rakyat kami. Masalahnya bukan hanya Gaza. Strategi Israel adalah mendominasi wilayah tersebut.”
Baca juga: Badai Byron Mengancam Gaza Saat Serangan Brutal Israel Berlanjut
Pejabat senior Palestina tersebut membela keputusan Hamas memasuki gencatan senjata meskipun ada kekurangannya.
Ia mengatakan pasukan Israel tetap berada di sepanjang apa yang mereka sebut "garis kuning", yang berarti Israel masih menduduki sekitar 53% Jalur Gaza, termasuk beberapa lahan pertaniannya yang paling produktif.
"Tentu saja Hamas menganggap perjanjian itu tidak baik. Tetapi prioritas utamanya adalah menghentikan perang. Trump menawarkan menjamin berakhirnya perang, jadi Hamas menerimanya," ujar pejabat itu.
"Namun, masih banyak hal dalam perjanjian yang tidak diterima Hamas dan kini menjadi bahan dialog internal di antara faksi-faksi Palestina. Strategi gerakan ini adalah menghentikan perang dan kemudian menangani isu-isu lainnya," ungkap dia.
Ketika ditanya berapa lama Hamas akan menoleransi pelanggaran gencatan senjata oleh Israel sebelum merespons secara militer, pejabat tersebut mengakui gencatan senjata berada pada "tahap yang sangat sulit".
"Banyak hal yang sangat buruk, tetapi strategi kami adalah menyelamatkan rakyat kami. Hari-hari ini memang sulit, tetapi itu hanyalah satu momen dalam perjuangan panjang,” papar dia.
"Israel tidak akan mundur hanya karena tuntutan Trump," lanjutnya. "Kami percaya Hamas dan rakyatnya dapat membangun kondisi yang akan memaksa Israel untuk menghormati dan mengakui tuntutan serta hak-hak rakyat kami. Masalahnya bukan hanya Gaza. Strategi Israel adalah mendominasi wilayah tersebut.”
Baca juga: Badai Byron Mengancam Gaza Saat Serangan Brutal Israel Berlanjut
(sya)
Lihat Juga :