Trump Murka setelah Imigran Afghanistan Tembak 2 Tentara Garda Nasional AS di Dekat Gedung Putih
Kamis, 27 November 2025 - 09:35 WIB
loading...
Presiden Donald Trump marah setelah seorang imigran Afghanistan menembak 2 tentara Garda Nasional AS hingga kritis di dekat Gedung Putih. Foto/The New York Times
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump marah setelah seorang imigran asal Afghanistan menembak dua tentara Garda Nasional West Virginia hingga kritis di dekat Gedung Putih, Washington DC, pada Rabu sore. Dia menyebut tersangka sebagai "binatang" yang harus membayar mahal.
Trump juga memerintahkan pengerahan 500 anggota Garda Nasional tambahan ke ibu kota AS tersebut setelah insiden penembakan.
Tersangka penembakan adalah warga negara Afghanistan berusia 29 tahun, Rahmanullah Lakanwal. Dia datang ke AS selama penarikan pasukan Amerika yang kacau dari Afghanistan pada 2021. Lakanwal juga terkena empat tembakan setelah baku tembak dengan salah satu tentara Garda Nasional.
Baca Juga: 2 Tentara Garda Nasional AS Ditembak di Dekat Gedung Putih, Kondisinya Kritis
Trump mengatakan kedua tentara itu berada dalam kondisi kritis di dua rumah sakit terpisah. Dia tidak merinci identitas dua tentara tersebut.
"Binatang yang menembak kedua anggota Garda Nasional, dengan keduanya terluka parah, dan sekarang berada di dua rumah sakit terpisah, juga terluka parah, tetapi terlepas dari itu, akan membayar harga yang sangat mahal," tulis Trump di Truth Social, seperti dikutip AP, Kamis (27/11/2025).
"Tuhan memberkati Garda Nasional kita yang agung, dan seluruh militer dan penegak hukum kita. Mereka sungguh Orang-orang hebat. Saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, dan semua orang yang terkait dengan Kantor Kepresidenan, bersama Anda!" imbuh Trump.
Menurut laporan New York Post, penembakan terarah di dekat Gedung Putih terjadi pada Rabu sore pukul 14.15 ketika penyerang melepaskan tembakan ke arah seorang tentara wanita, pertama di dada dan kemudian di kepala.
Penyerang kemudian menembak tentara kedua, hingga akhirnya tentara ketiga yang ditempatkan di dekat lokasi penembakan bergegas datang dan melumpuhkan tersangka.
Baca Juga: Penembak 2 Tentara Garda Nasional AS di Dekat Gedung Putih Bernama Rahmanullah
Gubernur West Virginia Patrick Morrisey awalnya mengatakan bahwa kedua tentara tersebut telah tewas, tetapi dalam waktu kurang dari 30 menit dia menarik kembali pernyataannya dan mengatakan bahwa kantornya menerima "laporan yang saling bertentangan tentang kondisi kedua anggota Garda Nasional".
"Doa kami menyertai para anggota Garda Nasional yang berani ini, keluarga mereka, dan seluruh komunitas Garda Nasional," tulisnya dalam sebuah unggahan di X.
Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan duka cita atas penembakan tersebut.
"Kami semua berduka atas kehilangan para prajurit Garda Nasional kita yang pemberani. Mereka yang terbaik di dunia, kita beruntung memiliki mereka, dan hari ini adalah pengingat yang brutal tentang apa yang kita minta mereka lakukan setiap hari," tulisnya di X.
Mantan Presiden Barack Obama ikut mengecam keras penembakan tersebut. "Kekerasan tidak punya tempat di Amerika," tulisnya di media sosial.
"Michelle dan saya berdoa untuk para prajurit yang tertembak di Washington DC hari ini, dan mengirimkan cinta kami kepada keluarga mereka saat mereka memasuki musim liburan ini dalam keadaan yang paling tragis," imbuh Obama.
Trump juga memerintahkan pengerahan 500 anggota Garda Nasional tambahan ke ibu kota AS tersebut setelah insiden penembakan.
Tersangka penembakan adalah warga negara Afghanistan berusia 29 tahun, Rahmanullah Lakanwal. Dia datang ke AS selama penarikan pasukan Amerika yang kacau dari Afghanistan pada 2021. Lakanwal juga terkena empat tembakan setelah baku tembak dengan salah satu tentara Garda Nasional.
Baca Juga: 2 Tentara Garda Nasional AS Ditembak di Dekat Gedung Putih, Kondisinya Kritis
Trump mengatakan kedua tentara itu berada dalam kondisi kritis di dua rumah sakit terpisah. Dia tidak merinci identitas dua tentara tersebut.
"Binatang yang menembak kedua anggota Garda Nasional, dengan keduanya terluka parah, dan sekarang berada di dua rumah sakit terpisah, juga terluka parah, tetapi terlepas dari itu, akan membayar harga yang sangat mahal," tulis Trump di Truth Social, seperti dikutip AP, Kamis (27/11/2025).
"Tuhan memberkati Garda Nasional kita yang agung, dan seluruh militer dan penegak hukum kita. Mereka sungguh Orang-orang hebat. Saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, dan semua orang yang terkait dengan Kantor Kepresidenan, bersama Anda!" imbuh Trump.
Menurut laporan New York Post, penembakan terarah di dekat Gedung Putih terjadi pada Rabu sore pukul 14.15 ketika penyerang melepaskan tembakan ke arah seorang tentara wanita, pertama di dada dan kemudian di kepala.
Penyerang kemudian menembak tentara kedua, hingga akhirnya tentara ketiga yang ditempatkan di dekat lokasi penembakan bergegas datang dan melumpuhkan tersangka.
Baca Juga: Penembak 2 Tentara Garda Nasional AS di Dekat Gedung Putih Bernama Rahmanullah
Gubernur West Virginia Patrick Morrisey awalnya mengatakan bahwa kedua tentara tersebut telah tewas, tetapi dalam waktu kurang dari 30 menit dia menarik kembali pernyataannya dan mengatakan bahwa kantornya menerima "laporan yang saling bertentangan tentang kondisi kedua anggota Garda Nasional".
"Doa kami menyertai para anggota Garda Nasional yang berani ini, keluarga mereka, dan seluruh komunitas Garda Nasional," tulisnya dalam sebuah unggahan di X.
Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan duka cita atas penembakan tersebut.
"Kami semua berduka atas kehilangan para prajurit Garda Nasional kita yang pemberani. Mereka yang terbaik di dunia, kita beruntung memiliki mereka, dan hari ini adalah pengingat yang brutal tentang apa yang kita minta mereka lakukan setiap hari," tulisnya di X.
Mantan Presiden Barack Obama ikut mengecam keras penembakan tersebut. "Kekerasan tidak punya tempat di Amerika," tulisnya di media sosial.
"Michelle dan saya berdoa untuk para prajurit yang tertembak di Washington DC hari ini, dan mengirimkan cinta kami kepada keluarga mereka saat mereka memasuki musim liburan ini dalam keadaan yang paling tragis," imbuh Obama.
(mas)
Lihat Juga :