China Ekspor Model Pemerintahan ke Negara Lain, Untuk Apa?
Senin, 24 November 2025 - 09:25 WIB
loading...
A
A
A
Salah satu jalur yang dijalankan sistem ini adalah pertukaran politik tingkat tinggi. Ketika delegasi asing tiba di Beijing, mereka tidak disambut oleh pejabat protokol tingkat menengah, melainkan oleh menteri dan wakil menteri.
Pertemuan-pertemuan ini berfokus pada pertukaran pengalaman tata kelola dan kerja sama pelatihan kader. Fungsi utamanya adalah menciptakan saluran langsung antara pimpinan politik CCP dan elite partai asing.
Delegasi kemudian diperlihatkan institusi-institusi Partai, termasuk pengarahan di Sekolah Partai Pusat, kunjungan ke departemen organisasi, dan diskusi terstruktur mengenai bagaimana CCP melatih, mengelola, dan mengevaluasi kadernya. Interaksi langsung ini menjadi kesan yang bertahan lama, sekaligus memperkuat jaringan pribadi serta membuka jalan bagi pelatihan yang lebih terinstitusionalisasi.
Pertukaran politik tersebut kemudian diformalkan melalui arsitektur MoU bilateral dan rencana kerja sama partai multi-tahunan. Seiring waktu, perjanjian ini menjadi semakin rinci. Dokumen-dokumen tersebut tidak hanya menentukan tema kerja sama, tetapi juga lokasi, lembaga pelaksana, dan frekuensi pelatihan.
Rencana Kerja Sama Partai CCP–Lao PDR menjadi contoh yang jelas: perjanjian tersebut menetapkan sekolah-sekolah partai provinsi tertentu sebagai basis pelatihan jangka panjang bagi kader Laos, sehingga secara efektif menciptakan jalur berkelanjutan bagi pelatihan tata kelola.
“Kesepakatan seperti ini kini menjadi hal umum dalam diplomasi partai CCP, mengubah kunjungan satu kali menjadi sistem pendidikan politik yang berkesinambungan, dikelola bersama namun terutama dijalankan oleh lembaga-lembaga China,” sebut Mehta.
Saluran kedua dari strategi ini ialah pendirian pusat pelatihan tetap di luar negeri. Dengan mengeksternalisasi fungsi sekolah partai yang dibangun bersama negara mitra, Beijing secara bertahap mengekspor model pemerintahannya.
Contoh paling menonjol adalah Nyerere Leadership School (NLS) di Tanzania, yang dijalankan oleh Six Sister Parties dengan dukungan politik dan material dari China. Fasilitas tersebut dibangun antara 2018 dan 2022 oleh perusahaan yang terafiliasi dengan negara China dan diresmikan dengan pesan ucapan selamat dari Xi Jinping.
Pertemuan-pertemuan ini berfokus pada pertukaran pengalaman tata kelola dan kerja sama pelatihan kader. Fungsi utamanya adalah menciptakan saluran langsung antara pimpinan politik CCP dan elite partai asing.
Delegasi kemudian diperlihatkan institusi-institusi Partai, termasuk pengarahan di Sekolah Partai Pusat, kunjungan ke departemen organisasi, dan diskusi terstruktur mengenai bagaimana CCP melatih, mengelola, dan mengevaluasi kadernya. Interaksi langsung ini menjadi kesan yang bertahan lama, sekaligus memperkuat jaringan pribadi serta membuka jalan bagi pelatihan yang lebih terinstitusionalisasi.
Pertukaran politik tersebut kemudian diformalkan melalui arsitektur MoU bilateral dan rencana kerja sama partai multi-tahunan. Seiring waktu, perjanjian ini menjadi semakin rinci. Dokumen-dokumen tersebut tidak hanya menentukan tema kerja sama, tetapi juga lokasi, lembaga pelaksana, dan frekuensi pelatihan.
Rencana Kerja Sama Partai CCP–Lao PDR menjadi contoh yang jelas: perjanjian tersebut menetapkan sekolah-sekolah partai provinsi tertentu sebagai basis pelatihan jangka panjang bagi kader Laos, sehingga secara efektif menciptakan jalur berkelanjutan bagi pelatihan tata kelola.
“Kesepakatan seperti ini kini menjadi hal umum dalam diplomasi partai CCP, mengubah kunjungan satu kali menjadi sistem pendidikan politik yang berkesinambungan, dikelola bersama namun terutama dijalankan oleh lembaga-lembaga China,” sebut Mehta.
Pusat Pelatihan di Luar Negeri
Saluran kedua dari strategi ini ialah pendirian pusat pelatihan tetap di luar negeri. Dengan mengeksternalisasi fungsi sekolah partai yang dibangun bersama negara mitra, Beijing secara bertahap mengekspor model pemerintahannya.
Contoh paling menonjol adalah Nyerere Leadership School (NLS) di Tanzania, yang dijalankan oleh Six Sister Parties dengan dukungan politik dan material dari China. Fasilitas tersebut dibangun antara 2018 dan 2022 oleh perusahaan yang terafiliasi dengan negara China dan diresmikan dengan pesan ucapan selamat dari Xi Jinping.
Lihat Juga :