Kisah PM China Lolos dari Pesawat Maut yang Meledak di Langit Natuna Indonesia
Minggu, 16 November 2025 - 12:24 WIB
loading...
A
A
A
Dalam tulisan peneliti Steve Tsang di The China Quarterly, bom itu diduga dipasang oleh seorang petugas kebersihan Bandara Kai Tak, Hong Kong. Dia diduga bekerja untuk intelijen Taiwan (pemerintah Partai Kuomintang)— musuh utama pemerintah komunis China pada masa itu.
Dugaan itu mengarah pada beberapa motif penting. Yakni, melemahkan legitimasi pemerintahan Mao Zedong di China, menghilangkan Zhou yang merupakan diplomat paling efektif China, dan mengacaukan kehadiran China pada KAA Bandung.
Beberapa sejarawan berspekulasi bahwa intelijen Barat mungkin mengetahui rencana itu—atau membiarkannya. Ini masih menjadi perdebatan, tetapi konteksnya jelas bahwa Amerika Serikat saat itu mendukung Taiwan dan memusuhi Beijing. Namun, tidak ada bukti resmi keterlibatan langsung pihak Barat.
Beberapa sumber historiografi China menyebut bahwa agen keamanan memberikan informasi kepada Zhou mengenai ancaman pembunuhan. Atas dasar itu, dia mengubah rute perjalanan—sebuah manuver rahasia yang tak diumumkan ke publik.
China tidak pernah menyalahkan Indonesia—saat di bawah Presiden Soekarno—dalam insiden itu. Sebaliknya, hubungan diplomatik kedua negara justru menghangat.
Keputusan terpenting terjadi setelah tragedi itu adalah PM Zhou Enlai tetap datang ke Indonesia.
Dia menempuh rute alternatif melalui Rangoon, Myanmar. Ketika tiba di Jakarta, dunia terkejut bukan oleh tragedi itu, melainkan oleh ketenangan dan sikap diplomatik Zhou.
Andai Zhou Enlai benar-benar tewas hari itu, arah sejarah Asia–Afrika bisa berubah total. KAA Bandung mungkin terguncang, solidaritas Asia-Afrika bisa runtuh, dan dinamika Perang Dingin akan berbeda.
Meski merupakan tragedi, insiden mengerikan itu justru melahirkan solidaritas yang lebih kuat, yang membentuk wajah Asia dan Afrika hingga hari ini.
Dugaan itu mengarah pada beberapa motif penting. Yakni, melemahkan legitimasi pemerintahan Mao Zedong di China, menghilangkan Zhou yang merupakan diplomat paling efektif China, dan mengacaukan kehadiran China pada KAA Bandung.
Beberapa sejarawan berspekulasi bahwa intelijen Barat mungkin mengetahui rencana itu—atau membiarkannya. Ini masih menjadi perdebatan, tetapi konteksnya jelas bahwa Amerika Serikat saat itu mendukung Taiwan dan memusuhi Beijing. Namun, tidak ada bukti resmi keterlibatan langsung pihak Barat.
Bagaimana PM Zhou Enlai Selamat?
Beberapa sumber historiografi China menyebut bahwa agen keamanan memberikan informasi kepada Zhou mengenai ancaman pembunuhan. Atas dasar itu, dia mengubah rute perjalanan—sebuah manuver rahasia yang tak diumumkan ke publik.
China tidak pernah menyalahkan Indonesia—saat di bawah Presiden Soekarno—dalam insiden itu. Sebaliknya, hubungan diplomatik kedua negara justru menghangat.
Keputusan terpenting terjadi setelah tragedi itu adalah PM Zhou Enlai tetap datang ke Indonesia.
Dia menempuh rute alternatif melalui Rangoon, Myanmar. Ketika tiba di Jakarta, dunia terkejut bukan oleh tragedi itu, melainkan oleh ketenangan dan sikap diplomatik Zhou.
Andai Zhou Enlai benar-benar tewas hari itu, arah sejarah Asia–Afrika bisa berubah total. KAA Bandung mungkin terguncang, solidaritas Asia-Afrika bisa runtuh, dan dinamika Perang Dingin akan berbeda.
Meski merupakan tragedi, insiden mengerikan itu justru melahirkan solidaritas yang lebih kuat, yang membentuk wajah Asia dan Afrika hingga hari ini.
(mas)
Lihat Juga :