PM Jepang Sanae Takaichi Gelar Rapat Jam 03.00 Pagi, Pemimpin Oposisi: Kebijakan Gila
Sabtu, 15 November 2025 - 19:18 WIB
loading...
A
A
A
Kontroversi ini muncul ketika Jepang memperdebatkan pelonggaran batas waktu lembur sebesar 45 jam per bulan, yang diberlakukan setelah kasus bunuh diri seorang karyawan periklanan muda yang melakukan lebih dari 100 jam lembur pada tahun 2016.
Takaichi mendukung diperbolehkannya lebih banyak waktu lembur untuk mendapatkan penghasilan tambahan, namun menurutnya hal tersebut tidak boleh membahayakan kesehatan pekerja.
Takaichi, yang telah lama memproyeksikan dirinya sebagai pekerja keras yang tiada henti, telah berjanji selama kampanye kepemimpinannya bahwa dia akan “bekerja dan bekerja dan bekerja” begitu menjabat – sebuah sikap yang telah membuat marah keluarga korban kerja paksa.
Baru tiga minggu menjabat, ia telah memiliki jadwal yang padat, termasuk menjamu Presiden AS Donald Trump dan menghadiri pertemuan puncak di Malaysia dan Korea Selatan.
Meskipun demikian, para ahli mengatakan rapat pukul 3 pagi menciptakan preseden yang meresahkan. "Pukul tiga pagi terlalu pagi, apa pun yang terjadi," kata mantan pejabat ekonomi Shigeaki Koga, dilansir Mint. Dia menambahkan bahwa perdana menteri mungkin tidak akan pernah sepenuhnya beristirahat, tetapi seharusnya tidak memaksakan jam istirahat tersebut kepada staf.
Takaichi mendukung diperbolehkannya lebih banyak waktu lembur untuk mendapatkan penghasilan tambahan, namun menurutnya hal tersebut tidak boleh membahayakan kesehatan pekerja.
Takaichi, yang telah lama memproyeksikan dirinya sebagai pekerja keras yang tiada henti, telah berjanji selama kampanye kepemimpinannya bahwa dia akan “bekerja dan bekerja dan bekerja” begitu menjabat – sebuah sikap yang telah membuat marah keluarga korban kerja paksa.
Baru tiga minggu menjabat, ia telah memiliki jadwal yang padat, termasuk menjamu Presiden AS Donald Trump dan menghadiri pertemuan puncak di Malaysia dan Korea Selatan.
Meskipun demikian, para ahli mengatakan rapat pukul 3 pagi menciptakan preseden yang meresahkan. "Pukul tiga pagi terlalu pagi, apa pun yang terjadi," kata mantan pejabat ekonomi Shigeaki Koga, dilansir Mint. Dia menambahkan bahwa perdana menteri mungkin tidak akan pernah sepenuhnya beristirahat, tetapi seharusnya tidak memaksakan jam istirahat tersebut kepada staf.
(ahm)
Lihat Juga :