NATO Bisa Lumpuhkan Jet-jet Tempur Rusia Tanpa Senjata Canggih, Ini Caranya
Selasa, 11 November 2025 - 08:49 WIB
loading...
A
A
A
Biro desain Sukhoi bertanggung jawab atas produksi sebagian besar kekuatan udara Rusia yang masih beroperasi, termasuk pesawat tempur siluman Su-57 milik Kremlin yang jarang terlihat. Sukhoi yang berkantor pusat di Moskow bergabung dengan beberapa perusahaan pertahanan lain di bawah naungan United Aircraft Corporation pada tahun 2022.
Laporan RUSI merujuk pada pesawat Sukhoi yang masih diproduksi, yaitu Su-30MK, Su-30SM, Su-34, Su-35S, dan Su-57. Moskow juga mengoperasikan jenis pesawat lain, termasuk pesawat pengebom strategis Tu-95 dan pesawat angkut Il-78.
Menurut para analis, Rusia kesulitan menemukan pengganti material dan peralatan yang diimpornya dari luar negeri, dan justru meningkatkan ketergantungannya pada impor di beberapa bidang. Negara-negara yang sebelumnya tertarik membeli pesawat Rusia kini memilih tawaran dari China atau NATO, seperti India yang memilih jet Rafale Prancis.
“Anggota NATO perlu mempertimbangkan tawaran mereka untuk bersaing dengan Rusia dan yang lebih penting, China, di negara-negara yang harus segera mengganti armada udara tempur yang menua,” kata para pakar dalam analisis mereka.
Pesawat tempur Rusia tidak dapat menandingi kemampuan rival-rival NATO atau pun China, menurut para analis. "Tetapi pesawat-pesawat itu masih menjalankan fungsi-fungsi penting di medan perang sehingga prevalensi dan pengembangannya yang berkelanjutan harus menjadi perhatian NATO," lanjut para pakar RUSI tersebut.
Sanksi yang menargetkan pemasok di rantai pasokan Sukhoi, jika dilaksanakan dengan benar, dapat memutus akses Rusia ke sumber peralatan utama di Eropa, imbuh laporan RUSI.
Laporan RUSI merujuk pada pesawat Sukhoi yang masih diproduksi, yaitu Su-30MK, Su-30SM, Su-34, Su-35S, dan Su-57. Moskow juga mengoperasikan jenis pesawat lain, termasuk pesawat pengebom strategis Tu-95 dan pesawat angkut Il-78.
Menurut para analis, Rusia kesulitan menemukan pengganti material dan peralatan yang diimpornya dari luar negeri, dan justru meningkatkan ketergantungannya pada impor di beberapa bidang. Negara-negara yang sebelumnya tertarik membeli pesawat Rusia kini memilih tawaran dari China atau NATO, seperti India yang memilih jet Rafale Prancis.
“Anggota NATO perlu mempertimbangkan tawaran mereka untuk bersaing dengan Rusia dan yang lebih penting, China, di negara-negara yang harus segera mengganti armada udara tempur yang menua,” kata para pakar dalam analisis mereka.
Pesawat tempur Rusia tidak dapat menandingi kemampuan rival-rival NATO atau pun China, menurut para analis. "Tetapi pesawat-pesawat itu masih menjalankan fungsi-fungsi penting di medan perang sehingga prevalensi dan pengembangannya yang berkelanjutan harus menjadi perhatian NATO," lanjut para pakar RUSI tersebut.
Sanksi yang menargetkan pemasok di rantai pasokan Sukhoi, jika dilaksanakan dengan benar, dapat memutus akses Rusia ke sumber peralatan utama di Eropa, imbuh laporan RUSI.
Lihat Juga :