Sejarah Skandal Seks Andrew Cuomo saat Jadi Gubernur New York
Jum'at, 07 November 2025 - 14:28 WIB
loading...
Andrew Cuomo, politisi Amerika Serikat yang lengser dari jabatannya sebagai gubernur New York gara-gara skandal seks. Foto/The New York Times
A
A
A
NEW YORK - Mantan gubernur New York Andrew Cuomo kembali jadi sorotan media Amerika Serikat (AS) setelah dikalahkan politisi Muslim Zohran Mamdani dalam pemilihan wali kota New York City pada 4 November lalu.
Keduanya sebenarnya sama-sama dari Partai Demokrat, namun Cuomo tersingkir dalam bursa kandidat wali kota New York City di Partai Demokrat. Kekalahan itu membuatnya maju melalui jalur independen, karena tiket Partai Demokrat dimiliki Mamdani. Pilihan Cuomo maju melalui jalur independen tetap saja dikalahkan Mamdani dalam persaingan puncak pemilihan wali kota.
Setelah kalah, masa lalu Cuomo sebagai mantan gubernur New York kembali jadi sorotan media AS.
Baca Juga: Saatnya Menagih Janji Zohran Mamdani Menangkap PM Israel Benjamin Netanyahu
Pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020, nama Andrew Cuomo dielu-elukan warga New York dan seluruh Amerika Serikat. Dia tampil hampir setiap hari di televisi, berbicara dengan tenang namun tegas, menjelaskan data, memberi harapan, dan menenangkan publik di tengah ketakutan global.
Saat Presiden Donald Trump diserang karena dianggap abai atas pandemi, Cuomo justru dipuji sebagai “pemimpin krisis sejati”.
Namun hanya setahun kemudian, sosok yang pernah dijuluki “batu karang New York” itu "runtuh"—bukan oleh lawan politik, tapi oleh cerita-cerita perempuan yang pernah bekerja bersamanya. Cerita tentang sentuhan, pelukan, dan komentar yang tak seharusnya keluar dari seorang gubernur.
Semuanya bermula dari seorang perempuan bernama Lindsey Boylan, mantan penasihat ekonomi Cuomo saat aktif sebagai gubernur Neww York. Pada Desember 2020, Boylan menulis di Twitter—yang kini bernama X—bahwa sang gubernur “secara rutin melecehkannya selama bekerja di Albany”. Awalnya publik terbelah antara percaya dan ragu. Cuomo pun membantah, dengan mengatakan “tak pernah melakukan hal semacam itu”.
Tapi tak lama kemudian, muncul nama lain: Charlotte Bennett, mantan staf kesehatan yang mengatakan Cuomo sering mengajukan pertanyaan pribadi dan seksual tentang hidupnya, bahkan menanyakan apakah dia “terbuka untuk berhubungan dengan pria yang lebih tua”.
Lalu satu per satu muncul lagi: Anna Ruch, yang mengaku dipeluk dan dicium di pipi tanpa izin saat resepsi pernikahan; perempuan staf lainnya yang menceritakan tangan gubernur “meraba punggung dan perut” mereka dengan alasan bercanda.
Cerita-cerita itu membentuk pola. Bukan sekadar kesalahpahaman atau candaan sosial, tapi relasi kuasa—seorang pejabat tertinggi negara bagian dengan staf muda yang merasa tak berdaya untuk menolak.
Meningkatnya tekanan publik membuat Jaksa Agung New York, Letitia James, membentuk tim penyelidik independen. Dalam laporan setebal 165 halaman yang dirilis 3 Agustus 2021, tim itu menulis dengan gamblang: “Gubernur Andrew Cuomo melecehkan secara seksual beberapa perempuan, termasuk staf negara bagian saat ini dan mantan staf, serta menciptakan lingkungan kerja beracun.”
Laporan tersebut berisi kesaksian 11 perempuan, ratusan wawancara, dan lebih dari 74.000 bukti dokumen. Investigator menyebut pola perilaku Cuomo mencakup penyentuhan yang tak diinginkan, ciuman yang tak diinginkan, komentar bernada seksual, hingga candaan yang merendahkan.
Cuomo menolak semua tuduhan itu. Dalam konferensi persnya saat itu dia berkata: “Saya tidak pernah menyentuh siapa pun dengan cara yang tidak pantas.”
Namun publik sudah terlanjur menilai. Di media sosial, tanda pagar #CuomoResign menjadi tren nasional. Bahkan Presiden AS saat itu, Joe Biden, yang dulu pernah memujinya, ikut bersuara: “Saya pikir dia harus mundur.”
Tekanan politik datang dari segala arah. DPR Negara Bagian New York memulai proses impeachment. Puluhan staf senior mengundurkan diri. Ruang kantor gubernur menjadi sepi, penuh kecanggungan.
Cuomo yang pernah disebut “raja Albany” tiba-tiba sendirian. Dalam pidato televisi 10 Agustus 2021, dengan suara bergetar, dia berkata: “Saya mencintai New York dan akan selalu mencintainya. Karena itu, yang terbaik bagi negara ini adalah saya mundur dari jabatan gubernur.”
Dia memberi waktu dua minggu bagi transisi kekuasaan. Pada 24 Agustus 2021, Kathy Hochul resmi menjadi gubernur perempuan pertama dalam sejarah New York.
Setelah mengundurkan diri, Cuomo masih menghadapi beberapa tuntutan hukum. Jaksa di Albany sempat mengajukan dakwaan pidana ringan terhadapnya. Namun pada awal 2022, sebagian besar jaksa distrik menutup penyelidikan karena bukti tidak cukup untuk memenuhi standar pidana.
Tidak ada vonis bersalah, tapi luka reputasinya tetap menganga. Buku memoarnya yang dulu laris—American Crisis: Leadership Lessons from the COVID-19 Pandemic—ditarik dari beberapa rak toko. Kontrak jutaan dolar untuk edisi lanjutan dibatalkan.
Kantor Gubernur New York bahkan memerintahkan Cuomo mengembalikan sekitar USD5 juta royalti buku karena dianggap ditulis dengan bantuan staf negara bagian saat jam kerja.
Keduanya sebenarnya sama-sama dari Partai Demokrat, namun Cuomo tersingkir dalam bursa kandidat wali kota New York City di Partai Demokrat. Kekalahan itu membuatnya maju melalui jalur independen, karena tiket Partai Demokrat dimiliki Mamdani. Pilihan Cuomo maju melalui jalur independen tetap saja dikalahkan Mamdani dalam persaingan puncak pemilihan wali kota.
Setelah kalah, masa lalu Cuomo sebagai mantan gubernur New York kembali jadi sorotan media AS.
Baca Juga: Saatnya Menagih Janji Zohran Mamdani Menangkap PM Israel Benjamin Netanyahu
Pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020, nama Andrew Cuomo dielu-elukan warga New York dan seluruh Amerika Serikat. Dia tampil hampir setiap hari di televisi, berbicara dengan tenang namun tegas, menjelaskan data, memberi harapan, dan menenangkan publik di tengah ketakutan global.
Saat Presiden Donald Trump diserang karena dianggap abai atas pandemi, Cuomo justru dipuji sebagai “pemimpin krisis sejati”.
Namun hanya setahun kemudian, sosok yang pernah dijuluki “batu karang New York” itu "runtuh"—bukan oleh lawan politik, tapi oleh cerita-cerita perempuan yang pernah bekerja bersamanya. Cerita tentang sentuhan, pelukan, dan komentar yang tak seharusnya keluar dari seorang gubernur.
Sejarah Skandal Seks yang Akhiri Kekuasaan Andrew Cuomo
Semuanya bermula dari seorang perempuan bernama Lindsey Boylan, mantan penasihat ekonomi Cuomo saat aktif sebagai gubernur Neww York. Pada Desember 2020, Boylan menulis di Twitter—yang kini bernama X—bahwa sang gubernur “secara rutin melecehkannya selama bekerja di Albany”. Awalnya publik terbelah antara percaya dan ragu. Cuomo pun membantah, dengan mengatakan “tak pernah melakukan hal semacam itu”.
Tapi tak lama kemudian, muncul nama lain: Charlotte Bennett, mantan staf kesehatan yang mengatakan Cuomo sering mengajukan pertanyaan pribadi dan seksual tentang hidupnya, bahkan menanyakan apakah dia “terbuka untuk berhubungan dengan pria yang lebih tua”.
Lalu satu per satu muncul lagi: Anna Ruch, yang mengaku dipeluk dan dicium di pipi tanpa izin saat resepsi pernikahan; perempuan staf lainnya yang menceritakan tangan gubernur “meraba punggung dan perut” mereka dengan alasan bercanda.
Cerita-cerita itu membentuk pola. Bukan sekadar kesalahpahaman atau candaan sosial, tapi relasi kuasa—seorang pejabat tertinggi negara bagian dengan staf muda yang merasa tak berdaya untuk menolak.
Meningkatnya tekanan publik membuat Jaksa Agung New York, Letitia James, membentuk tim penyelidik independen. Dalam laporan setebal 165 halaman yang dirilis 3 Agustus 2021, tim itu menulis dengan gamblang: “Gubernur Andrew Cuomo melecehkan secara seksual beberapa perempuan, termasuk staf negara bagian saat ini dan mantan staf, serta menciptakan lingkungan kerja beracun.”
Laporan tersebut berisi kesaksian 11 perempuan, ratusan wawancara, dan lebih dari 74.000 bukti dokumen. Investigator menyebut pola perilaku Cuomo mencakup penyentuhan yang tak diinginkan, ciuman yang tak diinginkan, komentar bernada seksual, hingga candaan yang merendahkan.
Cuomo menolak semua tuduhan itu. Dalam konferensi persnya saat itu dia berkata: “Saya tidak pernah menyentuh siapa pun dengan cara yang tidak pantas.”
Namun publik sudah terlanjur menilai. Di media sosial, tanda pagar #CuomoResign menjadi tren nasional. Bahkan Presiden AS saat itu, Joe Biden, yang dulu pernah memujinya, ikut bersuara: “Saya pikir dia harus mundur.”
Hari-Hari Terakhir Cuomo dalam Kekuasaan
Tekanan politik datang dari segala arah. DPR Negara Bagian New York memulai proses impeachment. Puluhan staf senior mengundurkan diri. Ruang kantor gubernur menjadi sepi, penuh kecanggungan.
Cuomo yang pernah disebut “raja Albany” tiba-tiba sendirian. Dalam pidato televisi 10 Agustus 2021, dengan suara bergetar, dia berkata: “Saya mencintai New York dan akan selalu mencintainya. Karena itu, yang terbaik bagi negara ini adalah saya mundur dari jabatan gubernur.”
Dia memberi waktu dua minggu bagi transisi kekuasaan. Pada 24 Agustus 2021, Kathy Hochul resmi menjadi gubernur perempuan pertama dalam sejarah New York.
Setelah mengundurkan diri, Cuomo masih menghadapi beberapa tuntutan hukum. Jaksa di Albany sempat mengajukan dakwaan pidana ringan terhadapnya. Namun pada awal 2022, sebagian besar jaksa distrik menutup penyelidikan karena bukti tidak cukup untuk memenuhi standar pidana.
Tidak ada vonis bersalah, tapi luka reputasinya tetap menganga. Buku memoarnya yang dulu laris—American Crisis: Leadership Lessons from the COVID-19 Pandemic—ditarik dari beberapa rak toko. Kontrak jutaan dolar untuk edisi lanjutan dibatalkan.
Kantor Gubernur New York bahkan memerintahkan Cuomo mengembalikan sekitar USD5 juta royalti buku karena dianggap ditulis dengan bantuan staf negara bagian saat jam kerja.
(mas)
Lihat Juga :