Dari Dinasti Qing hingga Xi Jinping: Ambisi Panjang China atas Tibet

Rabu, 05 November 2025 - 08:36 WIB
loading...
A A A
Hal inilah yang menjelaskan mengapa pada masa Dinasti Qing tidak terjadi konflik dengan institusi Dalai Lama, sementara di bawah kepemimpinan Xi, pemerintah China berupaya menghapuskan institusi tersebut—atau setidaknya menempatkan Dalai Lama versi mereka di Lhasa setelah Dalai Lama ke-14, yang kini berusia 90 tahun, wafat.

Tibet dan Dalai Lama


Selama Dalai Lama masih ada, sulit bagi Beijing untuk melepaskan warga Tibet dari akar spiritual Vajrayana Buddhisme yang memberi identitas khas bagi mereka.

Kekuasaan Dinasti Qing, atau Dinasti Manchu, di China berlangsung dari 1644 hingga 1912, dengan wilayah kekaisaran yang tiga kali lebih luas dibandingkan Dinasti Ming sebelumnya.

“Tidak ada bukti bahwa Tibet berada di bawah kekuasaan Dinasti Manchu,” tulis sejarawan Melvyn C. Goldstein dalam karyanya A History of Modern Tibet.

Pengaruh China di pemerintahan Lhasa melalui komisaris Manchu disebut “marginal". Bahkan, pemilihan Dalai Lama ke-13 dilakukan tanpa sistem undian golden urn yang diperkenalkan oleh Kekaisaran Manchu tahun 1793.

Dengan kata lain, kontrol China saat itu bersifat longgar, yang oleh banyak sejarawan disebut sebagai “suzerainitas”—berbeda dengan klaim “kedaulatan penuh” yang diberlakukan China saat ini.

Sejak awal abad ke-18 hingga akhir pemerintahan Manchu pada 1912, enam Dalai Lama memimpin di Lhasa, dengan campur tangan Beijing yang lebih simbolik daripada nyata. Tibet menjalankan pemerintahannya sendiri, bahkan berperang melawan Dogra pada 1841, Nepal pada 1857, dan menghadapi invasi Inggris 1903–1904 tanpa bantuan dari China. Pada masa Dalai Lama ke-13, yang meninggal pada 1933, Tibet menikmati kedaulatan penuh hingga invasi oleh komunis China pada 1950.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Ini Alasan Trump Puji...
Ini Alasan Trump Puji Putin dan Xi Jinping atas Kesepakatan Damai AS-Iran
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Standar Keselamatan...
Standar Keselamatan Kendaraan Listrik Baru China Lebih Ketat!
MoU Ditandatangani,...
MoU Ditandatangani, Iran Nyatakan Kemenangan Atas AS
Mengejutkan! 92% Warga...
Mengejutkan! 92% Warga Israel Yakin Negaranya Kalah Perang Lawan Iran
Rekomendasi
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
APHI Dorong Pemegang...
APHI Dorong Pemegang PBPH Manfaatkan Permenhut untuk Kembangkan Proyek Karbon
Dari Sopir Bus Mendadak...
Dari Sopir Bus Mendadak Jadi Pemimpin Negara? Ini Serunya Microdrama Love In A Fallen Nation di V+Short
Berita Terkini
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved