200 Pejuang Hamas di Belakang Garis Kuning Gaza, Bagaimana Nasib Mereka Nanti?

Selasa, 04 November 2025 - 15:21 WIB
loading...
200 Pejuang Hamas di...
Pejuang Hamas saat pembebasan sandera di Gaza. Foto/media al qassam
A A A
JALUR GAZA - Laporan yang saling bertentangan muncul pada hari Senin (3/11/2025) mengenai apakah Israel akan mengizinkan sekitar 200 anggota Gerakan Perlawanan Palestina, Hamas, untuk meninggalkan wilayah yang dikuasai tentara Israel di Jalur Gaza.

Surat kabar Israel, Haaretz, mengutip satu sumber politik yang mengatakan, “Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak akan mengizinkan perjalanan aman bagi 200 anggota Hamas yang berada di wilayah yang dikuasai tentara ke wilayah Palestina."

Surat kabar tersebut melaporkan, “Para pejuang tersebut telah terjebak di wilayah Gaza yang dikuasai Israel setelah gencatan senjata berlaku. Para mediator telah mengusulkan agar Israel mengizinkan mereka pindah ke wilayah Jalur Gaza yang dikelola Palestina.” Identitas para mediator tidak diungkapkan.

Menurut sumber politik yang sama, keputusan Netanyahu memblokir perjalanan mereka menyusul tekanan dari menteri sayap kanan Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich, yang keduanya menentang langkah apa pun yang dianggap lunak terhadap Hamas.

Namun, Channel 12 Israel melaporkan hal sebaliknya, mengutip sumber keamanan yang mengatakan Israel kemungkinan akan mengizinkan 200 pejuang meninggalkan Gaza selatan, "dengan syarat mereka menyerahkan senjata mereka."

Saluran tersebut mengutip pernyataan para pejabat yang mengatakan, "Para pemimpin politik akan menyetujui kepulangan mereka, sebagian karena langkah luar biasa ini akan memungkinkan perlindungan yang lebih baik terhadap nyawa tentara di wilayah tersebut, sekaligus memfasilitasi pencarian jenazah tawanan Israel yang hilang.”

Saluran tersebut juga mengutip sumber keamanan Israel lain yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan, "Kami melakukan ini untuk melindungi nyawa tentara kami dan melucuti senjata mereka, dan ini juga akan memungkinkan kami untuk mencari sandera tambahan."

Sementara itu, sumber-sumber mengatakan kepada Al-Jazeera bahwa para mediator sedang menghubungi Hamas dan Israel untuk memastikan keluarnya para pejuang yang terdampar di luar apa yang disebut "garis kuning" — batas de facto yang memisahkan wilayah-wilayah di bawah kendali militer Israel dari wilayah-wilayah di bawah administrasi Palestina setelah gencatan senjata 10 Oktober.

Menurut sumber yang sama, pengaturan yang diusulkan mengharuskan para pejuang meninggalkan Gaza melalui kendaraan Palang Merah di koridor yang telah ditentukan dan aman untuk menghindari potensi bentrokan dengan pasukan Israel.

Para mediator dilaporkan telah memperoleh persetujuan Hamas atas rencana tersebut dan sedang menunggu tanggapan Israel.

Militer Israel mundur pada 10 Oktober dari wilayah terdalam Jalur Gaza ke "garis kuning", sebagaimana ditetapkan dalam fase pertama perjanjian gencatan senjata yang ditengahi oleh Qatar, Mesir, Turki, dan Amerika Serikat.

Berdasarkan pengaturan ini, pasukan Israel akan tetap menguasai sekitar 50% wilayah Gaza hingga fase kedua, yang berfokus pada pertukaran tahanan dan jenazah, dilaksanakan.

Baca juga: Trump Ancam Politisi Muslim Zohran Mamdani Jika Menang Pemilihan Wali Kota New York
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
India Tuntut Pertanggungjawaban...
India Tuntut Pertanggungjawaban atas Para Pelaku Pemboman Sekolah
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
PBB Ungkap Israel Bunuh...
PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
Dubes Iran Tegas Tolak...
Dubes Iran Tegas Tolak Gencatan Senjata di Gaza: Palestina Harus Dibebaskan!
Gempa Dahsyat Venezuela,...
Gempa Dahsyat Venezuela, Bandara Internasional Ditutup hingga Warga Berhamburan ke Jalan
Dobrak Tradisi, Raja...
Dobrak Tradisi, Raja Charles Ungkap Bayar Tagihan Pajak Rp306 Miliar Setahun
Rekomendasi
Survei Puspoll Indonesia,...
Survei Puspoll Indonesia, Kepuasan Publik Atas Kinerja Presiden Prabowo Capai 64,8 Persen
Jokowi Minta Kader PSI...
Jokowi Minta Kader PSI Hidupkan Mesin Partai sampai Tingkat Desa
Jangan Lewatkan! Spesial...
Jangan Lewatkan! Spesial Akhir Pekan di Alfamidi, Banyak Bonus Menanti
Berita Terkini
UEA Keluarkan Alarm...
UEA Keluarkan Alarm Rudal Iran, Beberapa Detik Kemudian Dicabut, Pemerintah Minta Maaf
Pesawat Tabrak Gedung...
Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi di China, 1 Jam Setelahnya Tampak Normal
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur Bahrain
Korut Masih Andalkan...
Korut Masih Andalkan Senjata Besar, Korsel Beralih ke 500.000 Prajurit Drone, Siapa Lebih Unggul?
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Infografis
Amnesty Internasional...
Amnesty Internasional Tegaskan Israel Lakukan Genosida di Gaza
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved