AS Ungkap Tes Senjata Nuklirnya Tak Akan Libatkan Ledakan dan Awan Jamur

Senin, 03 November 2025 - 07:58 WIB
loading...
AS Ungkap Tes Senjata...
Amerika Serikat menyatakan tes senjata nuklirnya tidak akan melibatkan ledakan nuklir dan awan jamur. Foto/TWZ
A A A
WASHINGTON - Tes senjata nuklir Amerika Serikat (AS) yang diperintahkan oleh Presiden Donald Trump tidak akan melibatkan ledakan nuklir dan awan jamur. Demikian diungkap Menteri Energi AS Chris Wright.

Wright mengklarifikasi bahwa uji coba tersebut akan melibatkan bagian lain dari senjata nuklir untuk memastikannya berfungsi dengan baik.

Komentar Wright muncul empat hari setelah Trump mengumumkan bahwa dia telah memerintahkan militer AS untuk melanjutkan uji coba senjata nuklir atas dasar yang sama dengan negara-negara lain. Perintah Trump tersebut telah meningkatkan kekhawatiran akan kembalinya masa-masa terburuk Perang Dingin.

Baca Juga: Trump Perintahkan AS Uji Senjata Nuklir, Rusia Janji Bertindak Serupa

"Saya pikir uji coba yang kita bicarakan saat ini adalah uji coba sistem," kata Wright dalam sebuah wawancara di acara "The Sunday Briefing" Fox News.

"Ini bukan ledakan nuklir. Ini adalah apa yang kita sebut ledakan nonkritis," ujarnya, yang dikutip The New York Times, Senin (3/11/2025).

Wright mengatakan warga Amerika di tempat-tempat seperti Nevada, tempat Amerika Serikat memiliki lokasi uji coba nuklir yang lebih besar daripada negara bagian Rhode Island, seharusnya tidak berharap melihat awan jamur.

Pada Rabu pekan lalu—beberapa menit sebelum bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan—Trump mengatakan dalam sebuah unggahan media sosial bahwa dia memerintahkan Pentagon untuk meningkatkan uji coba senjata nuklir.

"Kami telah menghentikannya bertahun-tahun—bertahun-tahun yang lalu," kata Trump kepada media, merujuk pada uji coba senjata nuklir terakhir AS pada tahun 1992.

"Tetapi dengan negara lain yang melakukan pengujian, saya pikir sudah sepantasnya kami juga melakukannya," katanya lagi.

Namun, uji coba detonasi sudah tidak umum lagi. Satu-satunya negara yang secara rutin melakukan uji coba nuklir dalam seperempat abad terakhir adalah Korea Utara, dan uji coba peledakan terakhirnya terjadi pada September 2017.

China telah dengan cepat memperluas cadangan nuklirnya dan menempatkan rudal di silo-silo baru, tetapi belum menguji senjata nuklir sejak 1996.

Rusia belum melakukan uji coba yang terkonfirmasi sejak 1990, meskipun baru-baru ini menyatakan telah menguji dua kendaraan pengiriman eksotis untuk senjata nuklir: rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik dan torpedo bawah laut, yang disebut Poseidon, yang dapat melintasi Pasifik ke Pantai Barat Amerika Serikat.

Pada 1993, pemerintahan Bill Clinton mengumumkan rencana perjanjian yang mewajibkan negara-negara untuk tidak melakukan uji coba senjata nuklir. Meskipun perjanjian larangan uji coba tahun 1996 tidak pernah resmi berlaku, perjanjian tersebut menciptakan norma global untuk tidak menguji bom-bom penghancur tersebut.

Washington saat ini sedang berupaya mengganti hulu ledaknya dengan versi yang diperbarui. Total biaya program yang meluas selama tiga dekade ini diperkirakan mencapai USD1,7 triliun.

Pada hari Minggu, Wright mengatakan bahwa pengujian sedang dilakukan pada sistem nuklir baru tersebut.

“Dan sekali lagi, ini akan menjadi ledakan non-nuklir,” kata Wright. “Ini hanyalah pengembangan sistem canggih agar senjata nuklir pengganti kita bahkan lebih baik daripada sebelumnya.”
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Infantino Pastikan Trump...
Infantino Pastikan Trump Hadiri Final Piala Dunia 2026
Israel Bom Lebanon,...
Israel Bom Lebanon, Iran Murka Bakal Kembali Tutup Selat Hormuz
Trump Sebut Aset Iran...
Trump Sebut Aset Iran Akan Dikendalikan AS, Ini Respons Keras Teheran
Rekomendasi
Cerita Nurma, dari Belajar...
Cerita Nurma, dari Belajar di Perpustakaan hingga Malam Kini Bisa Kuliah Gratis di UGM
BNPP Perkuat Pengawasan...
BNPP Perkuat Pengawasan Perbatasan RI-Timor Leste via Survei Pengendalian Jalur Tak Resmi di Belu
Desak Beri Kompensasi...
Desak Beri Kompensasi Akibat Mati Listrik Bergilir, DPR: Jangan Tiap Masalah Rakyat Diminta Sabar
Berita Terkini
Pertama Kali, Dokter...
Pertama Kali, Dokter Belanda Suntik Mati Seorang Anak di Bawah Usia 12 Tahun
PBB Mulai Evakuasi 11.000...
PBB Mulai Evakuasi 11.000 Pelaut yang Terdampar di Selat Hormuz
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Oman dan Iran Bentuk...
Oman dan Iran Bentuk Kelompok Kerja Bersama untuk Bahas Pengelolaan Selat Hormuz
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Infografis
AS Kerahkan 15.000 Prajurit...
AS Kerahkan 15.000 Prajurit dan 100 Jet Tempur Amankan Selat Hormuz
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved