Trump: Xi Jinping Menyadari Konsekuensi Jika China Nekat Menginvasi Taiwan
Senin, 03 November 2025 - 06:52 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump sebut Presiden China Xi Jinping sudah menyadari konsekuensi jika Beijing nekat menginvasi Taiwan. Foto/Yonhap
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Presiden China Xi Jinping menyadari betul konsekuensinya jika Beijing nekat menginvasi Taiwan. Namun, Trump menolak untuk secara spesifik mengatakan Washington akan mempertahankan pulau itu.
Trump mengatakan Taiwan bahkan tidak pernah muncul sebagai topik pembicaraan ketika dia bertemu dengan Xi Jinping di Korea Selatan pada Kamis lalu untuk pertemuan tatap muka pertama mereka dalam enam tahun.
Ketika ditanya di acara "60 Minutes" CBS apakah dia akan memerintahkan pasukan AS untuk bertindak jika China bergerak secara militer di Taiwan, Trump berkata: "Anda akan tahu jika itu terjadi, dan dia mengerti jawabannya."
Baca Juga: Jenderal Taiwan Waspada Latihan Militer China untuk Persiapan Perang, Bersumpah Akan Melawan
Namun Trump menolak untuk menjelaskan apa yang dia maksud dalam wawancara yang dilakukan pada hari Jumat di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida, dan menambahkan: "Saya tidak bisa membocorkan rahasia saya. Pihak lain tahu."
Presiden AS itu mengeklaim bahwa Xi Jinping dan orang-orang dekatnya telah secara terbuka mengatakan: "Kami tidak akan pernah melakukan apa pun selama Presiden Trump menjadi presiden", karena mereka tahu konsekuensinya.
Beijing selama ini mengeklaim Taiwan yang telah memiliki pemerintahan sendiri sebagai wilayah China. Berdasarkan kebijakan yang telah lama berlaku, Amerika Serikat hanya mengakui Beijing tetapi menyediakan senjata untuk pertahanan diri pulau itu.
Isu ini terus memicu ketegangan, yang tampaknya dihindari oleh Trump dan Xi Jinping dalam pertemuan puncak mereka, dan justru berfokus pada meredakan perang dagang antara Washington dan Beijing.
Sementara itu, Menteri Perang AS Pete Hegseth mengatakan Amerika dan China telah sepakat untuk membuka kembali saluran-saluran komunikasi militer-ke-militer tingkat atas menyusul pertemuan bilateral baru-baru ini antara para petinggi mereka di Malaysia.
Komunikasi tersebut merupakan mekanisme de-eskalasi utama yang dihentikan Beijing pada tahun 2022 setelah kunjungan resmi ke Taiwan oleh Ketua DPR saat itu, Nancy Pelosi.
Akhir tahun lalu, di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden saat itu, kedua belah pihak melanjutkan dialog militer mengenai kawasan Indo-Pasifik, tetapi jalur yang lebih luas tetap terputus.
Hegseth bertemu dengan Menteri Pertahanan China Laksamana Dong Jun di KTT ASEAN di Kuala Lumpur pada hari Sabtu, hanya beberapa hari setelah Trump dan Xi Jinping menandatangani kesepakatan perdagangan yang meredakan ketegangan selama berminggu-minggu di tengah pecahnya perang dagang.
“Laksamana Dong dan saya...sepakat bahwa kita harus membangun jalur militer-ke-militer untuk meredakan konflik dan meredakan masalah apa pun yang muncul,” tulis Hegseth di X pada hari Minggu.
“Kami akan segera mengadakan pertemuan lebih lanjut mengenai hal itu,” imbuh dia.
Namun, sehari sebelumnya, di pertemuan ASEAN, Hegseth mendesak negara-negara tetangga Beijing untuk memperkuat kekuatan maritim mereka guna melawan apa yang disebutnya “ancaman yang kita semua hadapi dari agresi China.”
Bos Pentagon itu menuduh Beijing melakukan "kegiatan ilegal" di Laut China Selatan, yang diklaim Beijing sebagai perairan kedaulatannya, dan yang menjadi subjek sejumlah klaim yang tumpang tindih oleh negara-negara tetangganya.
Dong memuji pembicaraannya dengan Hegseth sebagai "berhasil", dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita Xinhua,Senin (3/11/2025).
Dia juga menyatakan harapan bahwa Washington akan menghormati komitmennya untuk tidak mencoba "mengekang" China atau melanjutkan konflik, serta mengambil sikap tegas terhadap "kemerdekaan Taiwan".
Trump mengatakan Taiwan bahkan tidak pernah muncul sebagai topik pembicaraan ketika dia bertemu dengan Xi Jinping di Korea Selatan pada Kamis lalu untuk pertemuan tatap muka pertama mereka dalam enam tahun.
Ketika ditanya di acara "60 Minutes" CBS apakah dia akan memerintahkan pasukan AS untuk bertindak jika China bergerak secara militer di Taiwan, Trump berkata: "Anda akan tahu jika itu terjadi, dan dia mengerti jawabannya."
Baca Juga: Jenderal Taiwan Waspada Latihan Militer China untuk Persiapan Perang, Bersumpah Akan Melawan
Namun Trump menolak untuk menjelaskan apa yang dia maksud dalam wawancara yang dilakukan pada hari Jumat di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida, dan menambahkan: "Saya tidak bisa membocorkan rahasia saya. Pihak lain tahu."
Presiden AS itu mengeklaim bahwa Xi Jinping dan orang-orang dekatnya telah secara terbuka mengatakan: "Kami tidak akan pernah melakukan apa pun selama Presiden Trump menjadi presiden", karena mereka tahu konsekuensinya.
Beijing selama ini mengeklaim Taiwan yang telah memiliki pemerintahan sendiri sebagai wilayah China. Berdasarkan kebijakan yang telah lama berlaku, Amerika Serikat hanya mengakui Beijing tetapi menyediakan senjata untuk pertahanan diri pulau itu.
Isu ini terus memicu ketegangan, yang tampaknya dihindari oleh Trump dan Xi Jinping dalam pertemuan puncak mereka, dan justru berfokus pada meredakan perang dagang antara Washington dan Beijing.
AS-China Buka Lagi Hotline Militer
Sementara itu, Menteri Perang AS Pete Hegseth mengatakan Amerika dan China telah sepakat untuk membuka kembali saluran-saluran komunikasi militer-ke-militer tingkat atas menyusul pertemuan bilateral baru-baru ini antara para petinggi mereka di Malaysia.
Komunikasi tersebut merupakan mekanisme de-eskalasi utama yang dihentikan Beijing pada tahun 2022 setelah kunjungan resmi ke Taiwan oleh Ketua DPR saat itu, Nancy Pelosi.
Akhir tahun lalu, di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden saat itu, kedua belah pihak melanjutkan dialog militer mengenai kawasan Indo-Pasifik, tetapi jalur yang lebih luas tetap terputus.
Hegseth bertemu dengan Menteri Pertahanan China Laksamana Dong Jun di KTT ASEAN di Kuala Lumpur pada hari Sabtu, hanya beberapa hari setelah Trump dan Xi Jinping menandatangani kesepakatan perdagangan yang meredakan ketegangan selama berminggu-minggu di tengah pecahnya perang dagang.
“Laksamana Dong dan saya...sepakat bahwa kita harus membangun jalur militer-ke-militer untuk meredakan konflik dan meredakan masalah apa pun yang muncul,” tulis Hegseth di X pada hari Minggu.
“Kami akan segera mengadakan pertemuan lebih lanjut mengenai hal itu,” imbuh dia.
Namun, sehari sebelumnya, di pertemuan ASEAN, Hegseth mendesak negara-negara tetangga Beijing untuk memperkuat kekuatan maritim mereka guna melawan apa yang disebutnya “ancaman yang kita semua hadapi dari agresi China.”
Bos Pentagon itu menuduh Beijing melakukan "kegiatan ilegal" di Laut China Selatan, yang diklaim Beijing sebagai perairan kedaulatannya, dan yang menjadi subjek sejumlah klaim yang tumpang tindih oleh negara-negara tetangganya.
Dong memuji pembicaraannya dengan Hegseth sebagai "berhasil", dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita Xinhua,Senin (3/11/2025).
Dia juga menyatakan harapan bahwa Washington akan menghormati komitmennya untuk tidak mencoba "mengekang" China atau melanjutkan konflik, serta mengambil sikap tegas terhadap "kemerdekaan Taiwan".
(mas)
Lihat Juga :