Netanyahu Nyaris Pingsan Marahi Menteri Israel yang Menghina Arab Saudi dengan Narasi Unta

Selasa, 28 Oktober 2025 - 14:15 WIB
loading...
Netanyahu Nyaris Pingsan...
PM Israel Benjamin Netanyahu nyaris pingsan setelah meluapkan kemarahannya kepada Menteri Keuangan Bezalel Smotrich atas rentetan komentar yang menghina Arab Saudi. Foto/Yonatan Sindel/Flash90
A A A
TEL AVIV - Para ajudan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hampir memanggil dokter karena kondisinya hampir pingsan setelah dia meluapkan amarahnya kepada Menteri Keuangan Bezalel Smotrich atas pernyataan-pernyataan yang menghina Arab Saudi.

Netanyahu menjadi marah setelah mendengar menteri sayap kanan tersebut mengatakan dalam sebuah konferensi bahwa jika diminta untuk mengakui Negara Palestina sebagai imbalan normalisasi hubungan dengan Riyadh, dia akan mengatakan kepada Arab Saudi bahwa mereka harus "terus menunggang unta".

Netanyahu khawatir komentar-komentar Smotrich yang merendahkan itu dapat menghancurkan prospek normalisasi dengan Arab Saudi. Lantaran begitu marahnya dalam sebuah pertemuan sehingga para ajudannya khawatir dia akan pingsan, menurut anggota Knesset sayap kanan, Avigdor Liberman.

Baca Juga: Menteri Zionis Hina Arab Saudi: Teruslah Menunggang Unta di Padang Pasir Jika Tak Mau Normalisasi dengan Israel

"Seseorang yang berada di ruangan itu memberi tahu saya bahwa setelah komentar Smotrich tentang unta, teriakan dari Kantor Perdana Menteri terdengar di Kedumim dan semua permukiman di Samaria (Tepi Barat yang diduduki)," ujarnya kepada media Israel, Walla, yang dikutip The New Arab, Selasa (28/10/2025).

"Bibi [Benjamin Netanyahu] berteriak. Mereka [para ajudan] ingin memanggil dokter karena takut dia akan pingsan. Tidak ada yang mendengar teriakan seperti itu sejak Kantor Perdana Menteri didirikan. Bukan kebetulan Smotrich bergegas meminta maaf. Netanyahu mengandalkan kesepakatan dengan Arab Saudi," lanjut Liberman.

Netanyahu, menurut laporan tersebut, berharap untuk menambahkan Arab Saudi ke dalam Perjanjian Abraham, serangkaian perjanjian normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab termasuk Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko, karena kemajuannya terhenti total selama perang brutal di Gaza.

Smotich, seorang pemimpin kunci dalam gerakan pemukim ilegal Israel, sangat menentang pengakuan apa pun terhadap Negara Palestina dan menginginkan pembentukan Israel Raya yang mencakup wilayah Palestina tahun 1948, Gaza, dan Tepi Barat.

Arab Saudi bersikeras hanya akan mengakui Israel jika Negara Palestina merdeka didirikan, sesuatu yang ditolak keras oleh Smotrich.

“Jika Arab Saudi mengatakan kepada kami ‘normalisasi dengan imbalan negara Palestina', teman-teman - tidak, terima kasih. Teruslah menunggang unta di padang pasir di Arab Saudi, dan kami akan terus berkembang dengan ekonomi, masyarakat, dan negara serta hal-hal hebat yang kami ketahui,” ujar Smotrich dalam sebuah konferensi.

Komentar ini memicu kemarahan di kalangan oposisi Israel, yang memandang normalisasi dengan Arab Saudi sebagai kunci integrasi negara tersebut ke dalam kawasan MENA [Timur Tengah dan Afrika Utara]. Sebagian besar negara Arab tidak memiliki hubungan dengan Israel, tetapi akan terbuka untuk melakukannya jika negara Palestina didirikan.

Smotrich terpaksa menyampaikan permintaan maaf yang memalukan setelah komentarnya, yang tidak diragukan lagi terkait dengan luapan amarah Netanyahu.

“Komentar saya tentang Arab Saudi sama sekali tidak pantas, dan saya mohon maaf atas penghinaan yang ditimbulkannya,” katanya.

"Saya berharap Saudi tidak menyakiti kami dan tidak mengingkari warisan, tradisi, dan hak-hak kaum Yahudi atas tanah air bersejarah mereka di Yudea dan Samaria, serta membangun perdamaian sejati dengan kami."
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jelang Pemilu, Netanyahu...
Jelang Pemilu, Netanyahu Ngotot Usir Warga Palestina dari Gaza
Militer Israel Kembangkan...
Militer Israel Kembangkan Senjata Laser Antariksa untuk Serang Satelit
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Iran: Sifat Dasar AS...
Iran: Sifat Dasar AS Adalah Mengingkari Janji!
Diperiksa 4 Jam, Mantan...
Diperiksa 4 Jam, Mantan Menpora Dito Ariotedjo Dicecar 10 Pertanyaan KPK soal Kunjungan ke Arab Saudi
Gempa Venezuela: Korban...
Gempa Venezuela: Korban Tewas Meningkat Menjadi 1.943 Orang, 10.571 Terluka
Daftar Poin Perjanjian...
Daftar Poin Perjanjian yang Dituntut Iran ke AS, Penarikan Pasukan Israel hingga Selat Hormuz
Rekomendasi
Gratis! Kemnaker Buka...
Gratis! Kemnaker Buka Pendaftaran Sertifikasi Kompetensi untuk Lulusan Magang Nasional
PLN EPI Bangun Ekosistem...
PLN EPI Bangun Ekosistem Bioenergi Perkuat Ketahanan Energi Nasional
ASEAN Diminta Jaga Sentralitas...
ASEAN Diminta Jaga Sentralitas di Tengah Tarik-Menarik Kepentingan Laut China Selatan
Berita Terkini
Italia Blokir Bantuan...
Italia Blokir Bantuan Militer NATO kepada Ukraina Senilai Rp1.436 Triliun, Sinyal Kemenangan bagi Rusia?
Kurangi Ketergantungan...
Kurangi Ketergantungan Eropa dari AS, Mampukah Turki Ingin Memperkuat NATO 3.0?
Israel Sebut Mojtaba...
Israel Sebut Mojtaba Jadi Target Pembunuhan, Iran Marah Besar!
Direktur CIA: Dunia...
Direktur CIA: Dunia Terancam dengan Senjata Nuklir Digital yang Didukung AI
Jalanan di Inggris Meleleh...
Jalanan di Inggris Meleleh pada Suhu 45 Derajat Celsius, Ini 3 Alasannya
Paksa Rusia Mengakhiri...
Paksa Rusia Mengakhiri Perang, Ukraina Intensifkan Serangan Drone ke Moskow
Infografis
6 Strategi Iran Memperpanjang...
6 Strategi Iran Memperpanjang Durasi Perang dengan AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved