AS Kerahkan Kapal Induk Tercanggih, Dikhawatirkan Menginvasi Venezuela
Sabtu, 25 Oktober 2025 - 10:57 WIB
loading...
Pentagon kerahkan kapal induk tercanggih AS, USS Gerald Ford, ke Karibia. Dikhawatirkan AS benar-benar akan menginvasi Venezuela. Foto/Naval Technology
A
A
A
WASHINGTON - Pentagon mengumumkan pada hari Jumat bahwa mereka telah mengerahkan kapal induk tercanggih Amerika Serikat (AS); USS Gerald Ford, ke Karibia. Ini merupakan eskalasi besar dalam perang melawan kartel narkoba, tapi juga dikhawatirkan akan menginvasi Venezuela juga.
USS Gerald Ford diperkuat dengan puluhan jet tempur siluman dan pesawat pengintai, serta kapal-kapal perang lain yang menyertainya.
Mengirimkan gugus tugas tempur kapal induk ke Karibia merupakan tanda paling jelas hingga saat ini bahwa pemerintah Presiden Donald Trump bermaksud memperluas cakupan kampanye militer mematikannya secara drastis, dari menyerang kapal-kapal kecil yang diduga membawa narkoba menuju AS hingga target di darat.
Baca Juga: Presiden Venezuela Nicolas Maduro kepada AS: Jangan Perang Gila, Saya Mohon!
Kapal induk USS Gerald Ford memiliki puluhan jet F-18 Super Hornet yang meningkatkan daya tembak ofensif dan kemampuan AS untuk menyerang sistem pertahanan udara di Venezuela. Hal itu akan membuka jalan bagi operasi khusus atau drone AS untuk menghancurkan target di darat, kata pejabat aktif dan mantan pejabat Washington.
"Kehadiran Angkatan Laut yang diperluas akan memperkuat kapasitas AS untuk mendeteksi, memantau, dan mengganggu aktor dan aktivitas ilegal yang membahayakan keselamatan dan kemakmuran tanah air Amerika Serikat serta keamanan kita di belahan bumi barat," kata juru bicara Pentagon, Sean Parnell, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu (25/10/2025).
Di Caracas, Presiden Venezuela Nicolás Maduro mengecam peningkatan kehadiran militer AS.
"Mereka berjanji tidak akan pernah terlibat lagi dalam perang, dan mereka justru 'mengada-adakan' perang," katanya kepada media pemerintah pada Jumat malam.
Selama berminggu-minggu, pemerintahan Trump telah mempertimbangkan untuk meningkatkan kampanye militer melawan kartel narkoba—serta upayanya untuk menggoyahkan pemerintahan presiden Venezuela–setelah kampanye awal serangan terhadap setidaknya sembilan kapal yang diduga sebagai kapal penyelundup narkoba.
Trump juga mengonfirmasi kepada para wartawan di Gedung Putih pada hari Kamis bahwa tahap selanjutnya dari kampanye militernya adalah menyerang target di darat.
"Darat akan menjadi target berikutnya," kata Trump. "Narkoba darat jauh lebih berbahaya bagi mereka. Akan jauh lebih berbahaya. Anda akan segera melihatnya," ujarnya.
Trump tidak membahas target negara mana yang akan diserang AS. Namun, dia mengarahkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang duduk di sampingnya di acara Gedung Putih tentang pembatasan aliran narkoba ilegal ke AS, untuk memberi tahu Kongres tentang rencana pemerintah.
Ketika ditanya apakah dia akan mendeklarasikan perang terhadap kartel narkoba, Trump mengisyaratkan akan melanjutkan serangan individual.
"Saya pikir kita hanya akan membunuh orang-orang yang membawa narkoba ke negara kita, oke?" katanya. "Kita akan membunuh mereka, Anda tahu mereka akan, seperti, mati."
Trump mengumumkan apa yang tampaknya merupakan serangan pertama terhadap sebuah kapal pada 3 September, dengan merilis video singkat serangan tersebut.
Dalam minggu-minggu berikutnya, pemerintah Trump mengumumkan lebih banyak serangan tanpa mengungkapkan detail selain jumlah orang yang tewas dan klaim bahwa kapal-kapal tersebut membawa narkoba.
Sejak awal kampanye militer, pemerintah Trump telah memberikan justifikasi hukum yang meragukan atas serangan tersebut, dengan mengeklaim bahwa kapal-kapal tersebut berafiliasi dengan "organisasi teroris yang ditunjuk" atau DTO, yang kini terlibat dalam konflik bersenjata non-internasional dengan AS.
Namun, pemerintah Trump belum memberikan bukti konkret hingga saat ini bahwa mereka yang tewas dalam serangan kapal tersebut menyelundupkan narkoba ke AS. Dalam pengarahan kepada Kongres, para pejabat Pentagon pada dasarnya mengatakan bahwa kapal-kapal tersebut merupakan target yang sah karena Trump telah menetapkan mereka sebagai aset kartel yang dianggap sebagai DTO, menurut sumber-sumber AS yang mengetahui masalah tersebut.
Kampanye militer ini juga melibatkan Badan Intelijen Pusat (CIA). Trump mengonfirmasi pada 15 Oktober bahwa dia telah mengizinkan apa yang disebut "tindakan rahasia" oleh CIA di Venezuela.
The Guardian melaporkan bahwa CIA telah menyediakan sebagian besar data intelijen yang digunakan dalam serangan udara tersebut.
USS Gerald Ford diperkuat dengan puluhan jet tempur siluman dan pesawat pengintai, serta kapal-kapal perang lain yang menyertainya.
Mengirimkan gugus tugas tempur kapal induk ke Karibia merupakan tanda paling jelas hingga saat ini bahwa pemerintah Presiden Donald Trump bermaksud memperluas cakupan kampanye militer mematikannya secara drastis, dari menyerang kapal-kapal kecil yang diduga membawa narkoba menuju AS hingga target di darat.
Baca Juga: Presiden Venezuela Nicolas Maduro kepada AS: Jangan Perang Gila, Saya Mohon!
Kapal induk USS Gerald Ford memiliki puluhan jet F-18 Super Hornet yang meningkatkan daya tembak ofensif dan kemampuan AS untuk menyerang sistem pertahanan udara di Venezuela. Hal itu akan membuka jalan bagi operasi khusus atau drone AS untuk menghancurkan target di darat, kata pejabat aktif dan mantan pejabat Washington.
"Kehadiran Angkatan Laut yang diperluas akan memperkuat kapasitas AS untuk mendeteksi, memantau, dan mengganggu aktor dan aktivitas ilegal yang membahayakan keselamatan dan kemakmuran tanah air Amerika Serikat serta keamanan kita di belahan bumi barat," kata juru bicara Pentagon, Sean Parnell, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu (25/10/2025).
Di Caracas, Presiden Venezuela Nicolás Maduro mengecam peningkatan kehadiran militer AS.
"Mereka berjanji tidak akan pernah terlibat lagi dalam perang, dan mereka justru 'mengada-adakan' perang," katanya kepada media pemerintah pada Jumat malam.
Selama berminggu-minggu, pemerintahan Trump telah mempertimbangkan untuk meningkatkan kampanye militer melawan kartel narkoba—serta upayanya untuk menggoyahkan pemerintahan presiden Venezuela–setelah kampanye awal serangan terhadap setidaknya sembilan kapal yang diduga sebagai kapal penyelundup narkoba.
Trump juga mengonfirmasi kepada para wartawan di Gedung Putih pada hari Kamis bahwa tahap selanjutnya dari kampanye militernya adalah menyerang target di darat.
"Darat akan menjadi target berikutnya," kata Trump. "Narkoba darat jauh lebih berbahaya bagi mereka. Akan jauh lebih berbahaya. Anda akan segera melihatnya," ujarnya.
Trump tidak membahas target negara mana yang akan diserang AS. Namun, dia mengarahkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang duduk di sampingnya di acara Gedung Putih tentang pembatasan aliran narkoba ilegal ke AS, untuk memberi tahu Kongres tentang rencana pemerintah.
Ketika ditanya apakah dia akan mendeklarasikan perang terhadap kartel narkoba, Trump mengisyaratkan akan melanjutkan serangan individual.
"Saya pikir kita hanya akan membunuh orang-orang yang membawa narkoba ke negara kita, oke?" katanya. "Kita akan membunuh mereka, Anda tahu mereka akan, seperti, mati."
Trump mengumumkan apa yang tampaknya merupakan serangan pertama terhadap sebuah kapal pada 3 September, dengan merilis video singkat serangan tersebut.
Dalam minggu-minggu berikutnya, pemerintah Trump mengumumkan lebih banyak serangan tanpa mengungkapkan detail selain jumlah orang yang tewas dan klaim bahwa kapal-kapal tersebut membawa narkoba.
Sejak awal kampanye militer, pemerintah Trump telah memberikan justifikasi hukum yang meragukan atas serangan tersebut, dengan mengeklaim bahwa kapal-kapal tersebut berafiliasi dengan "organisasi teroris yang ditunjuk" atau DTO, yang kini terlibat dalam konflik bersenjata non-internasional dengan AS.
Namun, pemerintah Trump belum memberikan bukti konkret hingga saat ini bahwa mereka yang tewas dalam serangan kapal tersebut menyelundupkan narkoba ke AS. Dalam pengarahan kepada Kongres, para pejabat Pentagon pada dasarnya mengatakan bahwa kapal-kapal tersebut merupakan target yang sah karena Trump telah menetapkan mereka sebagai aset kartel yang dianggap sebagai DTO, menurut sumber-sumber AS yang mengetahui masalah tersebut.
Kampanye militer ini juga melibatkan Badan Intelijen Pusat (CIA). Trump mengonfirmasi pada 15 Oktober bahwa dia telah mengizinkan apa yang disebut "tindakan rahasia" oleh CIA di Venezuela.
The Guardian melaporkan bahwa CIA telah menyediakan sebagian besar data intelijen yang digunakan dalam serangan udara tersebut.
(mas)
Lihat Juga :