Arab Saudi Bangun Jalur Kereta Api Landbridge Rp116 Triliun, Jeddah-Riyadh Bisa Ditempuh 4 Jam

Jum'at, 24 Oktober 2025 - 10:21 WIB
loading...
Arab Saudi Bangun Jalur...
Arab Saudi mulai membangun jalur kereta api Landbridge senilai lebih dari Rp116 triliun. Jalur ini akan membentang lebih dari 1.400 km, yang bisa memangkas waktu perjalanan darat Jeddah-Riyadh dari 12 jam menjadi 4 jam. Foto/CR Online
A A A
RIYADH - Kerajaan Arab Saudi mulai membangun jalur kereta api Landbridge senilai USD7 miliar (lebih dari Rp116 triliun) yang telah lama ditunggu-tunggu. Jalur ini akan membentang lebih dari 1.400 km, yang bisa memangkas waktu perjalanan darat Jeddah-Riyadh dari 12 jam menjadi empat jam.

Jalur kereta api Landbridge membentang dari Jeddah di Laut Merah hingga Dammam di Teluk Arab, menghubungkan pusat-pusat industri, pelabuhan, dan pusat logistik utama, serta menciptakan koridor timur-barat untuk angkutan barang dan penumpang.

Jalur ini merupakan salah satu proyek infrastruktur terbesar di Timur Tengah, dan salah satu yang paling ambisius di dunia.

Baca Juga: Menteri Zionis Hina Arab Saudi: Teruslah Menunggang Unta di Padang Pasir Jika Tak Mau Normalisasi dengan Israel

Para pejabat memperkirakan proyek ini dapat menghemat biaya transportasi kerajaan sebesar USD4,2 miliar (lebih dari Rp69,8 triliun) setiap tahun dan menciptakan 200.000 lapangan kerja di berbagai sektor terkait.

Menghubungkan Kota Utama Kerajaan Arab Saudi


Menurut laporan GCR, Jumat (24/10/2025), di jantung Landbridge terdapat jalur sepanjang 950 km yang menghubungkan Riyadh dan Jeddah, yang membentang sejauh 146 km ke utara dari Jeddah hingga Pelabuhan King Abdullah).

Jaringan ini juga mencakup jalur sepanjang 115 km dari Dammam ke Jubail, peningkatan jalur Riyadh–Dammam, jalan pintas Riyadh, dan perpanjangan sepanjang 172 km dari Pelabuhan King Abdullah ke Kota Industri Yanbu.

Setelah selesai, pengiriman barang akan berjalan secara efisien antara Jeddah, Dammam, Jubail, Riyadh, Bandara King Khalid, Pelabuhan King Abdullah, dan Yanbu.

Proyek ini juga akan menampilkan tujuh pusat logistik baru di sepanjang rute-rute utama, yang akan meningkatkan kemampuan transportasi multimoda kerajaan.

Fase awal yang krusial adalah jalur kereta api Riyadh, jalur sepanjang 35 km yang membentang dari utara ke selatan kota.

Saudi Arabia Railways telah mengundang kontraktor terkemuka untuk mengajukan pernyataan minat guna membangun ruas ini, yang akan menghubungkan Jalur Kereta Api Utara–Selatan dengan Jaringan Kereta Api Timur.

Kontrak tersebut mencakup pembangunan viaduk, sistem persinyalan, utilitas, dan pekerjaan sipil, untuk memastikan jalur kereta api tersebut memenuhi standar internasional.

Ruas ini akan mengintegrasikan jaringan Landbridge baru dengan jalur yang sudah ada dan memperlancar sirkulasi barang di seluruh kerajaan.

Jalur kereta api Riyadh juga merupakan bagian penting dari inisiatif Landbridge senilai USD7 miliar, melengkapi 1.500 km jalur baru, termasuk jalur Riyadh–Jeddah sepanjang 900 km, dan menghubungkan Pelabuhan King Abdullah dengan Yanbu, di samping peningkatan jalur Riyadh–Dammam.

Proyek Libatkan China


Proyek ini sedang dilaksanakan oleh Saudi China Landbridge Consortium, sebuah kemitraan antara Saudi Arabia Railways dan China Civil Engineering Construction Company, dengan dukungan lokal dari Al-Ayuni Contracting.

Perusahaan internasional yang terlibat antara lain Systra, Thales, WSP, Aldhabaan & Partners/Eversheds Sutherland, ALG Infrastructure, dan Calx Consultancy.

Hill International (Amerika Serikat), Italferr (Italia), dan Sener (Spanyol) ditunjuk pada Desember 2023 untuk menyediakan layanan manajemen proyek.

Landbridge memiliki sejarah panjang. Awalnya diumumkan pada tahun 2004, proyek ini dihentikan sementara pada tahun 2010 sebelum dihidupkan kembali pada tahun 2011.

Kerja sama dengan China ditegaskan kembali selama kunjungan Presiden Xi Jinping pada tahun 2022, dengan kedua negara berkomitmen untuk mempercepat proyek tersebut.

Investasi China di Arab Saudi telah melonjak, dengan stok FDI mencapai USD8,2 miliar pada tahun 2024, naik 29% dari tahun 2023.

Pada tahun 2023, China menjadi sumber investasi greenfield terbesar, menjanjikan USD16,8 miliar di bidang energi, manufaktur, dan logistik berdasarkan Visi 2030.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Arab Saudi Kebut Pembangunan...
Arab Saudi Kebut Pembangunan Jeddah Tower 1.000 Meter, Gedung Tertinggi di Dunia Kalahkan Burj Khalifa
AS dan Iran Berdamai,...
AS dan Iran Berdamai, MBS: Semua untuk Kepentingan Bersama
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Petani dan Pelaku UMKM...
Petani dan Pelaku UMKM Sumut, Riau, hingga Aceh Kirim Hasil Kerajinan Lidi ke China
AS dan Iran Setujui...
AS dan Iran Setujui Kesepakatan untuk Akhiri Perang di Timur Tengah, Ini Isinya
Menteri Radikal Israel...
Menteri Radikal Israel Ben Gvir Batal ke AS, Dipersulit Dapat Visa?
Rekomendasi
Di Hadapan Mahasiswa,...
Di Hadapan Mahasiswa, Dasco Telepon Nanik dan Bahlil
Dina Masyusin Salurkan...
Dina Masyusin Salurkan Bantuan Kursi Roda untuk Warga Rawa Buaya
Mantan Wakapolri: Polisi...
Mantan Wakapolri: Polisi yang Bawa Dokter Tifa ke RS Polri Pernah Dampingi Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis Temui Jokowi
Berita Terkini
Hizbullah Tegaskan Terapkan...
Hizbullah Tegaskan Terapkan Gencatan Senjata dengan Israel Segera
4 Tentara Israel Tewas,...
4 Tentara Israel Tewas, Menteri-menteri Ekstremis Ancam Bakar Seluruh Lebanon, Buka Gerbang Neraka
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Netanyahu Keras Kepala,...
Netanyahu Keras Kepala, Israel Tak akan Mundur dari Lebanon Selatan
Hizbullah Peringatkan...
Hizbullah Peringatkan Israel Punya Waktu 60 hari untuk Mundur dari Lebanon
Infografis
4 Kesepakatan Bersejarah...
4 Kesepakatan Bersejarah Amerika Serikat-Arab Saudi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved