China Bangun Kota Taipei Tiruan untuk Latihan Menginvasi Taiwan
Jum'at, 10 Oktober 2025 - 11:23 WIB
loading...
China membangun Kota Taipei tiruan untuk latihan menginvasi Taiwan. Foto/Copernicus
A
A
A
BEIJING - China telah membangun replika pusat administrasi Taiwan, Taipei, di sebuah pangkalan pelatihan militer di Daerah Otonomi Mongolia Dalam. Menurut para analis, Kota Taipei tirun itu dibangun untuk latihan invasi.
Citra satelit Sentinel-2 milik Badan Antariksa Eropa menunjukkan lokasi tersebut—yang berpusat pada replika gedung yang menampung Kantor Kepresidenan Taiwan—kini berukuran tiga kali lipat dari ukuran pada tahun 2020. Demikian diungkap analisis lembaga think tank Japan Institute for National Fundamentals (JINF).
Pangkalan Pelatihan Taktik Gabungan Zhurihe, lokasi pelatihan terbesar Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), mencakup area yang hampir seluas Los Angeles. Kompleks yang luas ini dirancang untuk mereplikasi kondisi medan perang yang realistis di berbagai medan.
Baca Juga: China: Presiden Taiwan Lai Ching-te Menjilat Asing dan Melacurkan Diri
Para analis mengatakan replika Taipei dimaksudkan untuk memperkuat pelatihan untuk potensi "operasi pemenggalan kepala" yang menargetkan kepemimpinan Taiwan.
China mengeklaim Taiwan sebagai wilayahnya, meskipun pemerintah Partai Komunis Beijing tidak pernah memerintah pulau itu.
Presiden Xi Jinping telah menyatakan penyatuan "tak terelakkan", dan PLA telah meningkatkan operasi di sekitar Taiwan sambil dengan cepat membangun kemampuan invasinya.
Menurut analisis JINF yang diterbitkan surat kabar Sankei Shimbun, selain "Gedung Kantor Kepresidenan" yang selesai dibangun pada tahun 2015, situs Zhurihe kini memiliki replika otoritas peradilan tertinggi Taiwan, Yuan Yudisial.
Pengerjaan replika Yuan Yudisial dimulai pada Agustus 2020 dan sebagian besar selesai pada tahun 2021, menurut lembaga think tank tersebut, yang juga mencatat apa yang digambarkannya sebagai terowongan bawah tanah sepanjang 280 meter (918 kaki) yang menghubungkan struktur tersebut dengan "Kantor Kepresidenan".
Citra satelit juga menunjukkan bangunan beratap merah di seberang gedung pengadilan. JINF mengatakan bangunan tersebut menyerupai struktur di dalam Markas Besar Komando Cadangan Pertahanan Nasional Taiwan, badan yang bertugas memobilisasi cadangan militer.
Situs itu telah diperluas hingga tiga kali ukuran aslinya selama lima tahun terakhir, dan citra satelit telah sering mendeteksi latihan militer China.
Menurut JINF, Kendaraan lapis baja terlihat membersihkan rintangan yang dipasang oleh pasukan pertahanan tiruan sebelum bergerak menuju replika gedung kepresidenan dan kementerian luar negeri dalam sebuah simulasi yang tampaknya bertujuan untuk menetralisir kepemimpinan pulau itu.
Situs tersebut mungkin juga dimaksudkan sebagai alat perang psikologis melawan Taiwan, imbuh JINF.
“Di bawah pemerintahan Xi Jinping, pangkalan pelatihan Zhurihe telah diperluas dengan cepat untuk persiapan tempur yang realistis. Dengan menambahkan ‘Yuan Yudisial tiruan’ dan bahkan membangun terowongan bawah tanah, PLA mengirimkan pesan kepada Taiwan—bahwa meskipun Anda membangun rute pelarian, tidak akan ada jalan keluar," kata Maki Nakagawa, seorang peneliti di Institut Nasional untuk Penelitian Informasi, yang dikutip dari Sankei Shimbun, Jumat (10/10/2025).
Presiden Taiwan Lai Ching-te telah menyinggung aktivitas militer China di dekat pulau tersebut dalam pidatonya 2 September kepada personel militer. “Dalam beberapa tahun terakhir, komunis China terus-menerus melakukan aktivitas intensitas tinggi dengan pesawat dan kapal militer di sekitar Selat Taiwan. Persatuan memastikan kemenangan, sementara agresi pasti gagal," katanya.
Guo Jiakun, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, mengatakan dalam konferensi pers pada 29 September: "Masa depan kawasan Taiwan terletak pada penyatuan kembali China... Tidak ada yang akan menghentikan penyatuan kembali China."
Para pejabat AS mengatakan mereka yakin Xi telah memerintahkan militer China agar mampu merebut Taiwan pada tahun 2027, meskipun mereka menekankan hal ini tidak berarti ia telah memilih tahun tersebut—atau tahun lainnya—untuk menyerang pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut.
Citra satelit Sentinel-2 milik Badan Antariksa Eropa menunjukkan lokasi tersebut—yang berpusat pada replika gedung yang menampung Kantor Kepresidenan Taiwan—kini berukuran tiga kali lipat dari ukuran pada tahun 2020. Demikian diungkap analisis lembaga think tank Japan Institute for National Fundamentals (JINF).
Pangkalan Pelatihan Taktik Gabungan Zhurihe, lokasi pelatihan terbesar Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), mencakup area yang hampir seluas Los Angeles. Kompleks yang luas ini dirancang untuk mereplikasi kondisi medan perang yang realistis di berbagai medan.
Baca Juga: China: Presiden Taiwan Lai Ching-te Menjilat Asing dan Melacurkan Diri
Para analis mengatakan replika Taipei dimaksudkan untuk memperkuat pelatihan untuk potensi "operasi pemenggalan kepala" yang menargetkan kepemimpinan Taiwan.
China mengeklaim Taiwan sebagai wilayahnya, meskipun pemerintah Partai Komunis Beijing tidak pernah memerintah pulau itu.
Presiden Xi Jinping telah menyatakan penyatuan "tak terelakkan", dan PLA telah meningkatkan operasi di sekitar Taiwan sambil dengan cepat membangun kemampuan invasinya.
Menurut analisis JINF yang diterbitkan surat kabar Sankei Shimbun, selain "Gedung Kantor Kepresidenan" yang selesai dibangun pada tahun 2015, situs Zhurihe kini memiliki replika otoritas peradilan tertinggi Taiwan, Yuan Yudisial.
Pengerjaan replika Yuan Yudisial dimulai pada Agustus 2020 dan sebagian besar selesai pada tahun 2021, menurut lembaga think tank tersebut, yang juga mencatat apa yang digambarkannya sebagai terowongan bawah tanah sepanjang 280 meter (918 kaki) yang menghubungkan struktur tersebut dengan "Kantor Kepresidenan".
Citra satelit juga menunjukkan bangunan beratap merah di seberang gedung pengadilan. JINF mengatakan bangunan tersebut menyerupai struktur di dalam Markas Besar Komando Cadangan Pertahanan Nasional Taiwan, badan yang bertugas memobilisasi cadangan militer.
Situs itu telah diperluas hingga tiga kali ukuran aslinya selama lima tahun terakhir, dan citra satelit telah sering mendeteksi latihan militer China.
Menurut JINF, Kendaraan lapis baja terlihat membersihkan rintangan yang dipasang oleh pasukan pertahanan tiruan sebelum bergerak menuju replika gedung kepresidenan dan kementerian luar negeri dalam sebuah simulasi yang tampaknya bertujuan untuk menetralisir kepemimpinan pulau itu.
Situs tersebut mungkin juga dimaksudkan sebagai alat perang psikologis melawan Taiwan, imbuh JINF.
“Di bawah pemerintahan Xi Jinping, pangkalan pelatihan Zhurihe telah diperluas dengan cepat untuk persiapan tempur yang realistis. Dengan menambahkan ‘Yuan Yudisial tiruan’ dan bahkan membangun terowongan bawah tanah, PLA mengirimkan pesan kepada Taiwan—bahwa meskipun Anda membangun rute pelarian, tidak akan ada jalan keluar," kata Maki Nakagawa, seorang peneliti di Institut Nasional untuk Penelitian Informasi, yang dikutip dari Sankei Shimbun, Jumat (10/10/2025).
Presiden Taiwan Lai Ching-te telah menyinggung aktivitas militer China di dekat pulau tersebut dalam pidatonya 2 September kepada personel militer. “Dalam beberapa tahun terakhir, komunis China terus-menerus melakukan aktivitas intensitas tinggi dengan pesawat dan kapal militer di sekitar Selat Taiwan. Persatuan memastikan kemenangan, sementara agresi pasti gagal," katanya.
Guo Jiakun, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, mengatakan dalam konferensi pers pada 29 September: "Masa depan kawasan Taiwan terletak pada penyatuan kembali China... Tidak ada yang akan menghentikan penyatuan kembali China."
Para pejabat AS mengatakan mereka yakin Xi telah memerintahkan militer China agar mampu merebut Taiwan pada tahun 2027, meskipun mereka menekankan hal ini tidak berarti ia telah memilih tahun tersebut—atau tahun lainnya—untuk menyerang pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut.
(mas)
Lihat Juga :