Mungkinkah Hamas dapat Jaminan Gencatan Senjata yang Langgeng dari Israel?
Rabu, 08 Oktober 2025 - 15:18 WIB
loading...
Hamas ingin mendapatkan jaminan gencatan yang langgeng dari Israel. Foto/X/@stairwayto3dom
A
A
A
GAZA - Negosiator utama Hamas mengatakan kelompoknya membutuhkan jaminan perdamaian yang langgeng karena perundingan tidak langsung dengan Israel untuk mencapai kesepakatan mengenai implementasi fase pertama rencana perdamaian Trump untuk Gaza memasuki hari ketiga. Itu dikarenakan Israel kerap ingkar janji.
Pejabat senior Hamas dan pemimpin tim negosiasi di Mesir, Khalil al-Hayya, mengatakan bahwa kelompok tersebut membutuhkan "jaminan nyata" berupa gencatan senjata yang langgeng sebagai bagian dari kesepakatan untuk memulangkan 48 sandera yang masih ditawan di Gaza.
Perundingan damai antara Israel dan Hamas telah mencapai momentum di kota resor Laut Merah Mesir, Sharm el Sheikh, sementara para negosiator melanjutkan diskusi yang bertujuan untuk menjembatani kesenjangan dan mewujudkan fase pertama dari rencana perdamaian yang diusulkan Presiden AS Donald Trump.
Komentar tersebut muncul dalam apa yang tampaknya merupakan penampilan publik pertama al-Hayya sejak serangan Israel yang menargetkan dirinya dan pejabat tinggi Hamas lainnya dalam serangan di ibu kota Qatar, Doha, bulan lalu, yang menewaskan enam orang, termasuk putra dan manajer kantornya.
"Di Sharm el-Sheikh, kota perdamaian, negosiasi sedang berlangsung antara pihak Israel dan Palestina untuk mencapai kesepakatan pada tahap pertama perjanjian ini," kata Abdelatty.
"Melalui upaya pembebasan para sandera dan sejumlah tahanan Palestina serta penempatan kembali pasukan Israel untuk mempersiapkan situasi di lapangan guna menyelesaikan langkah pembebasan para sandera," lanjut diplomat tinggi Mesir tersebut.
Baca Juga: 10 Prediksi Kuno yang Menjadi Kenyataan, Salah Satunya Zaman Perubahan pada 2012
"Kendala utama dalam negosiasi saat ini adalah implementasi perjanjian. Kita harus menemukan solusi praktis untuk memastikan pelaksanaan perjanjian ini dengan cepat," kata Majed al-Ansari, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar.
"Memungkinkan komunitas internasional memasuki Jalur Gaza dengan lancar sambil segera mengaktifkan mekanisme pemantauan untuk mencegah memburuknya situasi lebih lanjut," tambahnya.
Qatar mengatakan perdana menteri dan diplomat tertingginya, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani, akan bertolak ke Mesir pada hari Rabu untuk bergabung dalam negosiasi.
Netanyahu telah menerima rencana Trump, yang menyerukan pembebasan segera para sandera. Rencana tersebut juga menyerukan agar Gaza ditempatkan di bawah pemerintahan internasional dan Hamas dilucuti senjatanya, elemen-elemen yang belum diterima oleh para militan.
Kantor Netanyahu mengatakan pada hari Selasa bahwa Israel "optimis namun berhati-hati," membingkai perundingan tersebut sebagai negosiasi teknis atas rencana yang telah disetujui kedua belah pihak.
Rencana Trump telah menerima dukungan internasional yang luas. Pada hari Senin, presiden AS mengatakan kepada para wartawan bahwa ia yakin ada "peluang yang sangat bagus" bahwa kesepakatan yang langgeng akan segera tercapai, mungkin selama perundingan di Mesir.
Pejabat senior Hamas dan pemimpin tim negosiasi di Mesir, Khalil al-Hayya, mengatakan bahwa kelompok tersebut membutuhkan "jaminan nyata" berupa gencatan senjata yang langgeng sebagai bagian dari kesepakatan untuk memulangkan 48 sandera yang masih ditawan di Gaza.
Perundingan damai antara Israel dan Hamas telah mencapai momentum di kota resor Laut Merah Mesir, Sharm el Sheikh, sementara para negosiator melanjutkan diskusi yang bertujuan untuk menjembatani kesenjangan dan mewujudkan fase pertama dari rencana perdamaian yang diusulkan Presiden AS Donald Trump.
Komentar tersebut muncul dalam apa yang tampaknya merupakan penampilan publik pertama al-Hayya sejak serangan Israel yang menargetkan dirinya dan pejabat tinggi Hamas lainnya dalam serangan di ibu kota Qatar, Doha, bulan lalu, yang menewaskan enam orang, termasuk putra dan manajer kantornya.
Mungkinkah Hamas dapat Jaminan Gencatan Senjata yang Langgeng dari Israel?
1. Mewujudkan Fase Pertama Proposal Trump
Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty mengatakan bahwa negosiasi sedang berlangsung dan bertujuan untuk segera mencapai kesepakatan mengenai implementasi fase pertama dari rencana Trump."Di Sharm el-Sheikh, kota perdamaian, negosiasi sedang berlangsung antara pihak Israel dan Palestina untuk mencapai kesepakatan pada tahap pertama perjanjian ini," kata Abdelatty.
"Melalui upaya pembebasan para sandera dan sejumlah tahanan Palestina serta penempatan kembali pasukan Israel untuk mempersiapkan situasi di lapangan guna menyelesaikan langkah pembebasan para sandera," lanjut diplomat tinggi Mesir tersebut.
Baca Juga: 10 Prediksi Kuno yang Menjadi Kenyataan, Salah Satunya Zaman Perubahan pada 2012
2. Mencegah Situasi Memburuk
Qatar, yang telah lama menjadi mediator utama antara Israel dan Hamas, mencatat bahwa hambatan besar dalam implementasi perjanjian dapat mencegah terwujudnya kesepakatan tersebut."Kendala utama dalam negosiasi saat ini adalah implementasi perjanjian. Kita harus menemukan solusi praktis untuk memastikan pelaksanaan perjanjian ini dengan cepat," kata Majed al-Ansari, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar.
"Memungkinkan komunitas internasional memasuki Jalur Gaza dengan lancar sambil segera mengaktifkan mekanisme pemantauan untuk mencegah memburuknya situasi lebih lanjut," tambahnya.
Qatar mengatakan perdana menteri dan diplomat tertingginya, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani, akan bertolak ke Mesir pada hari Rabu untuk bergabung dalam negosiasi.
3. AS Turun Tangan
Utusan Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, serta penasihat utama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Ron Dermer, juga diperkirakan akan bergabung dalam perundingan tersebut.Netanyahu telah menerima rencana Trump, yang menyerukan pembebasan segera para sandera. Rencana tersebut juga menyerukan agar Gaza ditempatkan di bawah pemerintahan internasional dan Hamas dilucuti senjatanya, elemen-elemen yang belum diterima oleh para militan.
Kantor Netanyahu mengatakan pada hari Selasa bahwa Israel "optimis namun berhati-hati," membingkai perundingan tersebut sebagai negosiasi teknis atas rencana yang telah disetujui kedua belah pihak.
Rencana Trump telah menerima dukungan internasional yang luas. Pada hari Senin, presiden AS mengatakan kepada para wartawan bahwa ia yakin ada "peluang yang sangat bagus" bahwa kesepakatan yang langgeng akan segera tercapai, mungkin selama perundingan di Mesir.
(ahm)
Lihat Juga :