Israel Terancam Diisolasi Dunia dan Defisit Keuangan Jika Rencana Trump Akhiri Perang Gaza Gagal

Selasa, 07 Oktober 2025 - 09:12 WIB
loading...
Israel Terancam Diisolasi...
Israel terancam diisolasi dunia internasional dan defisit keuangan jika rencana Presiden AS Donald Trump mengakhiri perang Gaza gagal dilaksanakan. Foto/Emanuel Fabian/Times of Israel
A A A
TEL AVIV - Sebuah studi ekonomi Israel telah memperingatkan dampak buruk bagi negara Yahudi tersebut jika rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza gagal dilaksanakan. Trump telah mengajukan proposal perdamaian 20 poin untuk perdamaian Gaza, yang telah direspons positif oleh Hamas.

Laporan studi tersebut, yang diterbitkan oleh Aharon Institute for Economic Policy di Reichman University dan dikutip oleh harian bisnis Calcalist, menguraikan tiga kemungkinan skenario buruk yang dihadapi Israel.

"Pendudukan penuh atas Gaza akan mengakibatkan isolasi internasional, defisit keuangan yang besar, dan penurunan tajam standar hidup," bunyi laporan tersebut, yang dikutip Middle East Monitor, Selasa (7/10/2025).

Baca Juga: Trump Semprot Netanyahu soal Gaza: Kau Selalu Negatif Sialan!

Melanjutkan permusuhan tanpa penyelesaian, imbuh laporan itu, juga akan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi Israel.

Menurut studi tersebut, hanya implementasi proposal 20 poin Trump yang dapat mengembalikan Israel "ke jalur yang benar" dengan menghentikan pertempuran dan menstabilkan ekonomi.

Lebih lanjut, laporan itu mencatat bahwa dua tahun setelah apa yang digambarkannya sebagai "kegagalan keamanan terburuk Israel sejak negara itu berdiri", perang Gaza telah menjerat ekonomi Israel secara mendalam.

Meskipun rencana Trump menunjukkan tanda-tanda kemajuan selama akhir pekan, inisiatif tersebut belum sepenuhnya mengakhiri permusuhan Israel-Hamas di Gaza.

Trump, pada hari Senin, telah memperingatkan Israel dan Hamas untuk "bergerak cepat" dalam mengimplementasikan proposal perdamaian Gaza yang diusulkan Washington. Dia mengatakan bahwa kegagalan untuk melakukannya dapat menyebabkan "pertumpahan darah besar-besaran".

Peringatan itu muncul ketika Israel dan Hamas akan mengadakan negosiasi di Mesir di tengah harapan kemungkinan gencatan senjata.

"Saya diberitahu bahwa fase pertama harus diselesaikan minggu ini, dan saya meminta semua orang untuk BERGERAK CEPAT. Saya akan terus memantau 'konflik' yang telah berlangsung berabad-abad ini. WAKTU SANGAT PENTING ATAU, PERTUMPAHAN DARAH BESAR AKAN TERJADI—SESUATU YANG TAK INGIN DILIHAT SIAPA PUN!" tulis Trump dengan campuran huruf kapital khasnya dalam sebuah unggahan di Truth Social.

Menurut presiden dari Partai Republik tersebut, telah ada "diskusi positif" dengan Hamas dan negara-negara lain mengenai rencana perdamaian Gaza.

"Telah terjadi diskusi yang sangat positif dengan Hamas, dan negara-negara dari seluruh dunia (Arab, Muslim, dan lainnya) akhir pekan ini, untuk membebaskan para sandera, mengakhiri perang di Gaza, tetapi yang lebih penting, akhirnya perdamaian di Timur Tengah yang telah lama dinantikan. Perundingan ini sangat sukses, dan berjalan cepat. Tim teknis akan bertemu kembali pada hari Senin, di Mesir, untuk membahas dan mengklarifikasi detail akhir," papar Trump.

Fase pertama rencana perdamaian Gaza kemungkinan akan berfokus pada pembebasan para sandera Israel yang ditawan Hamas di Gaza.

Hamas pada Jumat malam menerima beberapa bagian dari rencana perdamaian Gaza yang diusulkan Trump, termasuk mengakhiri perang, penarikan pasukan Israel, pembebasan sandera Israel dan tahanan Palestina, upaya bantuan dan pemulihan, serta penolakan terhadap pengusiran warga Palestina dari wilayah tersebut.

Respons Hamas itu muncul setelah Trump mengeluarkan ultimatum kepada kelompok perlawanan Palestina tersebut untuk menerima rencana perdamaiannya atau menghadapi "neraka".

Trump kemudian memperingatkan Hamas untuk "bergerak cepat" dan menyetujui perjanjian damai dengan Israel atau "mengancam kehancuran lebih lanjut" di Gaza.

Hamas juga memperingatkan Israel untuk menghentikan pengeboman di Gaza. Namun, beberapa jam setelah peringatan Trump, Israel dilaporkan masih menyerang Gaza, menewaskan enam orang. Sehari kemudian, Trump mengeklaim bahwa Israel menyetujui garis penarikan awal, dan setelah konfirmasi Hamas, akan ada gencatan senjata.

Apa Kata PM Israel?


Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa dia berharap dapat mengumumkan pembebasan semua sandera dari Gaza "dalam beberapa hari mendatang".

"Saudara-saudariku, warga negara Israel, kita berada di ambang pencapaian yang sangat besar. Ini masih belum final. Kita sedang mengerjakannya dengan tekun, dan saya berharap dalam beberapa hari mendatang, masih selama hari raya Sukkot, saya dapat mengumumkan kepada Anda kembalinya semua sandera kita, baik yang hidup maupun yang mati," katanya.

"Pada saat yang sama, IDF (militer Israel) tetap berada di kedalaman Jalur Gaza dan di wilayah-wilayah yang dikuasainya," lanjut dia dalam pesan video berbahasa Ibrani.

Namun, Netanyahu berjanji untuk melucuti senjata Hamas dengan "cara mudah atau sulit". Dia juga mengisyaratkan bahwa Israel tidak akan menarik diri sepenuhnya dari Gaza—sesuatu yang telah lama dituntut Hamas.

"Militer Israel akan terus mempertahankan wilayah yang dikuasainya di Gaza, dan Hamas akan dilucuti pada tahap kedua rencana tersebut, secara diplomatis, atau melalui jalur militer oleh kami. Anda dengar Trump, dia tidak akan menerima penundaan tambahan. Pada tahap kedua, Hamas akan dilucuti, dan Gaza akan didemiliterisasi. Ini akan terjadi baik secara diplomatis melalui rencana Trump maupun secara militer oleh kami. Ini akan terjadi baik dengan cara mudah maupun sulit," ujarnya.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Iran: Sifat Dasar AS...
Iran: Sifat Dasar AS Adalah Mengingkari Janji!
Ancaman Nyata Zionis...
Ancaman Nyata Zionis Bukan Iran, Industri Militer Israel Berlomba Melawan Drone Hizbullah
Berani Tanpa AS, Netanyahu:...
Berani Tanpa AS, Netanyahu: Kami akan Masuk ke Iran
WHO: Gelombang Panas...
WHO: Gelombang Panas Eropa Sebabkan 1.300 Kematian, Terbanyak di Prancis
AS dan Iran Sepakat...
AS dan Iran Sepakat Hentikan Serangan, Berunding di Qatar 30 Juni
Rekomendasi
Sidang Lanjutan Praperadilan...
Sidang Lanjutan Praperadilan Roy Suryo, Polda Metro Jaya Bacakan Jawaban
Topremit Catat 300.000...
Topremit Catat 300.000 Pengguna, Remitansi Digital Kian Digemari
QuickPro Ajak Trader...
QuickPro Ajak Trader Emas Bangun Kemandirian Analisa
Berita Terkini
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Momen Penyelamatan...
5 Momen Penyelamatan Korban Gempa Venezuela yang Mengharukan
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Infografis
1.525 Tentara Lapis...
1.525 Tentara Lapis Baja Israel Tuntut Diakhirinya Perang Gaza
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved