Pemerintah Trump Mencap Kota AS Ini sebagai Zona Perang, Jadi Dalih Kerahkan 300 Tentara
Selasa, 07 Oktober 2025 - 07:37 WIB
loading...
Pemerintah Presiden Donald Trump mencap kota terbesar ketiga AS, Chicago, sebagai zona perang. Ini jadi dalih pembenaran atas pengerahan 300 tentara Garda Nasional. Foto/Ashlee Rezin/Chicago Sun-Times
A
A
A
WASHINGTON - Pemerintahan Presiden Donald Trump mencap kota terbesar ketiga Amerika Serikat (AS), Chicago, sebagai "zona perang". Ini sebagai dalih pembenaran untuk mengerahkan 300 tentara Garda Nasional, yang ditentang para pejabat setempat dari Partai Demokrat.
Hakim telah memblokir keputusan Gedung Putih untuk mengirim pasukan ke kota lain yang dipimpin kubu Partai Demokrat.
Krisis politik yang meningkat di seluruh negeri mengadu domba langkah anti-kejahatan dan migrasi Presiden Trump dengan oposisi dari Partai Demokrat yang menuduhnya melakukan perebutan kekuasaan secara otoriter.
Baca Juga: Trump Kerahkan 800 Garda Nasional untuk 'Kudeta' Kepolisian Ibu Kota AS
Dalam titik panas terbaru, Trump pada Sabtu malam mengizinkan pengerahan 300 tentara Garda Nasional ke Chicago, meskipun ditentang oleh para pemimpin terpilih termasuk wali kota dan gubernur negara bagian JB Pritzker.
Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem membela langkah Trump tersebut, mengeklaim di Fox News bahwa Chicago adalah "zona perang".
Namun Pritzker, berbicara di acara "State of the Union" CNN, menuduh Partai Republik bertujuan untuk menebar kekacauan di lapangan. "Mereka ingin menciptakan zona perang, agar mereka dapat mengirim lebih banyak pasukan," katanya.
Jajak pendapat CBS yang dirilis hari Minggu menemukan bahwa 58 persen warga Amerika menentang pengerahan tentara Garda Nasional ke kota-kota AS.
Trump—yang Selasa lalu berbicara tentang penggunaan militer untuk "perang dari dalam"—tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur dari kampanye garis kerasnya.
Dalam klaimnya pada hari Minggu, dia berkata: "Portland terbakar habis. Para pemberontak ada di mana-mana."
Sekutu kunci Trump, Ketua DPR dari Partai Republik; Mike Johnson, menggemakan retorika presiden pada hari Minggu, mengatakan dalam acara "Meet the Press" di NBC bahwa pasukan Garda Nasional yang dikerahkan di Ibu Kota AS, Washington DC, telah merespons "zona perang sungguhan"—sebuah karakterisasi yang bertentangan dengan kenyataan.
Kampanye Trump untuk menggunakan militer di tanah air menemui hambatan pada Sabtu malam di Portland, Oregon, ketika pengadilan memutuskan pengerahan tersebut melanggar hukum.
Trump telah berulang kali menyebut Portland "rusak akibat perang", tetapi Hakim Distrik AS Karin Immergut mengeluarkan pemblokiran sementara, dengan mengatakan: "Keputusan presiden tidak berlandaskan fakta."
"Ini adalah negara hukum konstitusional, bukan darurat militer," tulis Immergut dalam putusannya.
Menurutnya, meskipun Portland telah mengalami serangan-serangan yang tersebar terhadap petugas dan properti federal, pemerintahan Trump gagal menunjukkan bahwa episode-episode kekerasan tersebut merupakan bagian dari upaya terorganisir untuk menggulingkan pemerintah secara keseluruhan—sehingga membenarkan penggunaan kekuatan militer.
Salah satu penasihat utama Trump, Stephen Miller, menyebut perintah hakim tersebut sebagai "pemberontakan yang sah".
Pada hari Minggu, Gubernur California Gavin Newsom, yang berada di garis depan gerakan Demokrat melawan Trump, mengatakan bahwa presiden AS telah mengerahkan tentara Garda Nasional Negara Bagian California ke Oregon, dan bahwa dia akan menuntut atas tindakan tersebut.
"Pengerahan Garda Nasional California ke Oregon bukan tentang kejahatan. Ini tentang kekuasaan. Dia menggunakan militer kita sebagai pion politik untuk membangun egonya sendiri," kata Newsom.
Tindakan keras Trump dipelopori oleh ICE (Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai). Departemen tersebut sedang diperluas dengan cepat baik dari segi personel maupun tugas.
Penggerebekan petugas ICE di seluruh negeri—terutama di kota-kota yang dipimpin oleh Partai Demokrat—telah menyaksikan sekelompok pria bertopeng dan bersenjata dengan mobil dan kendaraan lapis baja tanpa tanda yang menyasar permukiman dan bisnis, memicu protes.
Ketegangan yang terjadi selama berhari-hari di Chicago berubah menjadi kekerasan pada hari Sabtu ketika seorang petugas federal menembak seorang pengendara yang menurut Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) bersenjata dan menabrak salah satu kendaraan patroli mereka.
Pejabat DHS mengatakan bahwa petugas ICE juga menembak dan membunuh imigran berusia 38 tahun, Silverio Villegas Gonzalez, saat melakukan pemeriksaan lalu lintas pada 12 September, menuduhnya mencoba melarikan diri dari tempat kejadian perkara dan menyeret seorang petugas ICE dengan kendaraannya.
Hakim telah memblokir keputusan Gedung Putih untuk mengirim pasukan ke kota lain yang dipimpin kubu Partai Demokrat.
Krisis politik yang meningkat di seluruh negeri mengadu domba langkah anti-kejahatan dan migrasi Presiden Trump dengan oposisi dari Partai Demokrat yang menuduhnya melakukan perebutan kekuasaan secara otoriter.
Baca Juga: Trump Kerahkan 800 Garda Nasional untuk 'Kudeta' Kepolisian Ibu Kota AS
Dalam titik panas terbaru, Trump pada Sabtu malam mengizinkan pengerahan 300 tentara Garda Nasional ke Chicago, meskipun ditentang oleh para pemimpin terpilih termasuk wali kota dan gubernur negara bagian JB Pritzker.
Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem membela langkah Trump tersebut, mengeklaim di Fox News bahwa Chicago adalah "zona perang".
Namun Pritzker, berbicara di acara "State of the Union" CNN, menuduh Partai Republik bertujuan untuk menebar kekacauan di lapangan. "Mereka ingin menciptakan zona perang, agar mereka dapat mengirim lebih banyak pasukan," katanya.
Jajak pendapat CBS yang dirilis hari Minggu menemukan bahwa 58 persen warga Amerika menentang pengerahan tentara Garda Nasional ke kota-kota AS.
Trump—yang Selasa lalu berbicara tentang penggunaan militer untuk "perang dari dalam"—tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur dari kampanye garis kerasnya.
Dalam klaimnya pada hari Minggu, dia berkata: "Portland terbakar habis. Para pemberontak ada di mana-mana."
Sekutu kunci Trump, Ketua DPR dari Partai Republik; Mike Johnson, menggemakan retorika presiden pada hari Minggu, mengatakan dalam acara "Meet the Press" di NBC bahwa pasukan Garda Nasional yang dikerahkan di Ibu Kota AS, Washington DC, telah merespons "zona perang sungguhan"—sebuah karakterisasi yang bertentangan dengan kenyataan.
Tidak untuk Darurat Militer
Kampanye Trump untuk menggunakan militer di tanah air menemui hambatan pada Sabtu malam di Portland, Oregon, ketika pengadilan memutuskan pengerahan tersebut melanggar hukum.
Trump telah berulang kali menyebut Portland "rusak akibat perang", tetapi Hakim Distrik AS Karin Immergut mengeluarkan pemblokiran sementara, dengan mengatakan: "Keputusan presiden tidak berlandaskan fakta."
"Ini adalah negara hukum konstitusional, bukan darurat militer," tulis Immergut dalam putusannya.
Menurutnya, meskipun Portland telah mengalami serangan-serangan yang tersebar terhadap petugas dan properti federal, pemerintahan Trump gagal menunjukkan bahwa episode-episode kekerasan tersebut merupakan bagian dari upaya terorganisir untuk menggulingkan pemerintah secara keseluruhan—sehingga membenarkan penggunaan kekuatan militer.
Salah satu penasihat utama Trump, Stephen Miller, menyebut perintah hakim tersebut sebagai "pemberontakan yang sah".
Pada hari Minggu, Gubernur California Gavin Newsom, yang berada di garis depan gerakan Demokrat melawan Trump, mengatakan bahwa presiden AS telah mengerahkan tentara Garda Nasional Negara Bagian California ke Oregon, dan bahwa dia akan menuntut atas tindakan tersebut.
"Pengerahan Garda Nasional California ke Oregon bukan tentang kejahatan. Ini tentang kekuasaan. Dia menggunakan militer kita sebagai pion politik untuk membangun egonya sendiri," kata Newsom.
Penembakan Chicago
Tindakan keras Trump dipelopori oleh ICE (Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai). Departemen tersebut sedang diperluas dengan cepat baik dari segi personel maupun tugas.
Penggerebekan petugas ICE di seluruh negeri—terutama di kota-kota yang dipimpin oleh Partai Demokrat—telah menyaksikan sekelompok pria bertopeng dan bersenjata dengan mobil dan kendaraan lapis baja tanpa tanda yang menyasar permukiman dan bisnis, memicu protes.
Ketegangan yang terjadi selama berhari-hari di Chicago berubah menjadi kekerasan pada hari Sabtu ketika seorang petugas federal menembak seorang pengendara yang menurut Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) bersenjata dan menabrak salah satu kendaraan patroli mereka.
Pejabat DHS mengatakan bahwa petugas ICE juga menembak dan membunuh imigran berusia 38 tahun, Silverio Villegas Gonzalez, saat melakukan pemeriksaan lalu lintas pada 12 September, menuduhnya mencoba melarikan diri dari tempat kejadian perkara dan menyeret seorang petugas ICE dengan kendaraannya.
(mas)
Lihat Juga :