Kapal Perang Israel Cegat Armada Bantuan Gaza, Aktivis Greta Thunberg Ditangkap Lagi
Kamis, 02 Oktober 2025 - 06:59 WIB
loading...
Kapal perang Israel mencegat armada bantuan Gaza yang membawa banyak aktivis, termasuk Greta Thunberg. Foto/Kementerian Luar Negeri Israel via ABC News
A
A
A
GAZA - Kapal perang Angkatan Laut Israel mencegat armada yang membawa bantuan ke Gaza, yang dikenal sebagai Global Sumud Flotilla, pada hari Rabu. Sejumlah aktivis yang berada di dalam kapal bantuan tersebut, termasuk Greta Thunberg, kembali ditangkap pasukan Zionis.
Pencegatan terhadap Global Sumud Flotilla ini mengakhiri upaya terbarunya untuk mematahkan blokade Israel atas wilayah kantong Palestina yang dilanda perang tersebut.
Armada bantuan Gaza mengaku telah ditindak keras militer Israel. Kementerian Luar Negeri Israel juga mengonfirmasi operasi militer itu.
Baca Juga: Kapal Fregat Italia akan Segera Tinggalkan Pengawalan Armada Bantuan Gaza Jelang Zona Kritis
Global Sumud Flotilla—yang melibatkan sekitar 45 kapal yang membawa politisi dan aktivis, termasuk aktivis iklim Swedia Greta Thunberg—meninggalkan Spanyol bulan lalu, dengan tujuan untuk mematahkan blokade Israel atas Jalur Gaza, tempat PBB menyatakan kelaparan telah melanda. Bagi Thunberg, ini adalah penangkapan kedua oleh pasukan Israel dalam misi serupa.
"Sekitar pukul 20.30 waktu Gaza (17.30 GMT), beberapa kapal Global Sumud Flotilla, termasuk Alma, Sirius, dan Adara, dicegat dan dinaiki secara ilegal oleh pasukan pendudukan Israel di perairan internasional," kata armada tersebut dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip AFP, Kamis (2/10/2025).
"Selain intersepsi yang terkonfirmasi, siaran langsung dan komunikasi dengan beberapa kapal lain telah terputus," imbuh pernyataan tersebut.
Kementerian Luar Negeri Israel menulis di X: "Beberapa kapal dari...armada telah dihentikan dengan selamat dan penumpangnya sedang dipindahkan ke pelabuhan Israel."
"Greta dan teman-temannya selamat dan sehat," katanya, disertai video Thunberg yang sedang mengambil barang-barangnya.
Sebelumnya, Angkatan Laut Israel memperingatkan armada tersebut agar tidak memasuki perairan yang diblokade.
Spanyol dan Italia, yang keduanya mengirimkan kapal perang untuk mengawal armada bantuan Gaza, telah mendesak kapal-kapal bantuan tersebut untuk berhenti sebelum memasuki zona eksklusi Israel di lepas pantai Gaza.
Setelah singgah selama 10 hari di Tunisia, di mana penyelenggara melaporkan dua serangan pesawat nirawak, armada tersebut melanjutkan perjalanannya pada 15 September.
"Salah satu kapal utamanya, Alma, dikepung secara agresif oleh kapal perang Israel," kata armada itu, sebelum kapal lain, Sirius, menjadi sasaran manuver intimidasi serupa.
Armada tersebut sebelumnya telah berjanji untuk terus melanjutkan upayanya mengirimkan bantuan ke wilayah pesisir yang hancur meskipun ada apa yang disebutnya taktik intimidasi oleh militer Israel.
Di X, armada tersebut menyatakan, "Tetap waspada saat memasuki wilayah tempat armada sebelumnya dicegat dan/atau diserang."
Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan bahwa intersepsi pada hari Rabu adalah tindakan terorisme yang merupakan pelanggaran paling serius terhadap hukum internasional dan membahayakan nyawa warga sipil yang tidak bersalah.
Israel memblokir upaya armada bantuan Gaza serupa pada bulan Juni dan Juli.
Sekitar pukul 15.00 GMT pada hari Rabu, armada tersebut menyatakan bahwa mereka berada kurang dari 90 mil laut (sekitar 170 kilometer) dari Jalur Gaza.
"Kami terus berlayar tanpa gentar oleh ancaman dan taktik intimidasi Israel," kata armada tersebut, yang juga membawa cucu Nelson Mandela, Mandla Mandela, dan Rima Hassan, seorang anggota Parlemen Eropa keturunan Prancis-Palestina.
Menteri Transformasi Digital Spanyol, Oscar Lopez, telah mendesak armada tersebut untuk tidak menyeberang ke zona eksklusi yang dinyatakan Israel, yang membentang sejauh 150 mil laut dari Gaza.
"Pesan kami kepada armada sudah jelas: jangan memasuki zona itu," ujarnya kepada televisi publik Spanyol, seraya menambahkan bahwa pengawal Angkatan Laut Spanyol tidak akan menyeberang ke area eksklusi tersebut.
Italia juga mendesak para aktivis untuk "berhenti sekarang" setelah fregatnya juga berhenti di batas 150 mil laut, menyiarkan pesan radio ke kapal-kapal para aktivis yang meminta mereka untuk meninggalkan misi mereka.
Para aktivis mengatakan keputusan Spanyol dan Italia merupakan tindakan untuk "menyabotase" upaya mereka.
Afrika Selatan menyerukan pengekangan diri dan kehati-hatian sepenuhnya terhadap tindakan sepihak apa pun yang dapat memperburuk situasi atau membahayakan nyawa manusia.
"Keselamatan, keamanan, dan integritas fisik semua peserta tak bersenjata di atas armada, termasuk warga negara Afrika Selatan, adalah yang terpenting," kata pemerintah Afrika Selatan.
Dalam pernyataan bersama, Italia dan Yunani mengimbau otoritas Israel untuk menjamin keselamatan dan integritas para peserta armada.
Roma dan Athena juga mendesak armada bantuan untuk menahan diri dari inisiatif apa pun yang dapat dieksploitasi oleh mereka yang masih menolak perdamaian.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan para aktivis tidak mewakili bahaya atau ancaman bagi Israel, dan berharap bahwa pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga tidak akan menjadi ancaman bagi armada tersebut.
Berbicara menjelang pertemuan Dewan Eropa pada hari Rabu, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni meminta para aktivis untuk menghentikan pelayaran mereka, dengan mengatakan hal itu dapat membahayakan rencana perdamaian Gaza terbaru yang diusulkan Presiden AS Donald Trump, yang saat ini masih dalam negosiasi.
"Menghadapi peluang bersejarah ini, saya tidak dapat memahami desakan terhadap inisiatif yang mengandung unsur bahaya dan tidak bertanggung jawab," ujarnya.
Pencegatan terhadap Global Sumud Flotilla ini mengakhiri upaya terbarunya untuk mematahkan blokade Israel atas wilayah kantong Palestina yang dilanda perang tersebut.
Armada bantuan Gaza mengaku telah ditindak keras militer Israel. Kementerian Luar Negeri Israel juga mengonfirmasi operasi militer itu.
Baca Juga: Kapal Fregat Italia akan Segera Tinggalkan Pengawalan Armada Bantuan Gaza Jelang Zona Kritis
Global Sumud Flotilla—yang melibatkan sekitar 45 kapal yang membawa politisi dan aktivis, termasuk aktivis iklim Swedia Greta Thunberg—meninggalkan Spanyol bulan lalu, dengan tujuan untuk mematahkan blokade Israel atas Jalur Gaza, tempat PBB menyatakan kelaparan telah melanda. Bagi Thunberg, ini adalah penangkapan kedua oleh pasukan Israel dalam misi serupa.
"Sekitar pukul 20.30 waktu Gaza (17.30 GMT), beberapa kapal Global Sumud Flotilla, termasuk Alma, Sirius, dan Adara, dicegat dan dinaiki secara ilegal oleh pasukan pendudukan Israel di perairan internasional," kata armada tersebut dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip AFP, Kamis (2/10/2025).
"Selain intersepsi yang terkonfirmasi, siaran langsung dan komunikasi dengan beberapa kapal lain telah terputus," imbuh pernyataan tersebut.
Kementerian Luar Negeri Israel menulis di X: "Beberapa kapal dari...armada telah dihentikan dengan selamat dan penumpangnya sedang dipindahkan ke pelabuhan Israel."
"Greta dan teman-temannya selamat dan sehat," katanya, disertai video Thunberg yang sedang mengambil barang-barangnya.
Sebelumnya, Angkatan Laut Israel memperingatkan armada tersebut agar tidak memasuki perairan yang diblokade.
Spanyol dan Italia, yang keduanya mengirimkan kapal perang untuk mengawal armada bantuan Gaza, telah mendesak kapal-kapal bantuan tersebut untuk berhenti sebelum memasuki zona eksklusi Israel di lepas pantai Gaza.
Setelah singgah selama 10 hari di Tunisia, di mana penyelenggara melaporkan dua serangan pesawat nirawak, armada tersebut melanjutkan perjalanannya pada 15 September.
"Salah satu kapal utamanya, Alma, dikepung secara agresif oleh kapal perang Israel," kata armada itu, sebelum kapal lain, Sirius, menjadi sasaran manuver intimidasi serupa.
Intimidasi Militer Zionis Israel
Armada tersebut sebelumnya telah berjanji untuk terus melanjutkan upayanya mengirimkan bantuan ke wilayah pesisir yang hancur meskipun ada apa yang disebutnya taktik intimidasi oleh militer Israel.
Di X, armada tersebut menyatakan, "Tetap waspada saat memasuki wilayah tempat armada sebelumnya dicegat dan/atau diserang."
Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan bahwa intersepsi pada hari Rabu adalah tindakan terorisme yang merupakan pelanggaran paling serius terhadap hukum internasional dan membahayakan nyawa warga sipil yang tidak bersalah.
Israel memblokir upaya armada bantuan Gaza serupa pada bulan Juni dan Juli.
Sekitar pukul 15.00 GMT pada hari Rabu, armada tersebut menyatakan bahwa mereka berada kurang dari 90 mil laut (sekitar 170 kilometer) dari Jalur Gaza.
"Kami terus berlayar tanpa gentar oleh ancaman dan taktik intimidasi Israel," kata armada tersebut, yang juga membawa cucu Nelson Mandela, Mandla Mandela, dan Rima Hassan, seorang anggota Parlemen Eropa keturunan Prancis-Palestina.
Menteri Transformasi Digital Spanyol, Oscar Lopez, telah mendesak armada tersebut untuk tidak menyeberang ke zona eksklusi yang dinyatakan Israel, yang membentang sejauh 150 mil laut dari Gaza.
"Pesan kami kepada armada sudah jelas: jangan memasuki zona itu," ujarnya kepada televisi publik Spanyol, seraya menambahkan bahwa pengawal Angkatan Laut Spanyol tidak akan menyeberang ke area eksklusi tersebut.
Italia juga mendesak para aktivis untuk "berhenti sekarang" setelah fregatnya juga berhenti di batas 150 mil laut, menyiarkan pesan radio ke kapal-kapal para aktivis yang meminta mereka untuk meninggalkan misi mereka.
Para aktivis mengatakan keputusan Spanyol dan Italia merupakan tindakan untuk "menyabotase" upaya mereka.
Afrika Selatan menyerukan pengekangan diri dan kehati-hatian sepenuhnya terhadap tindakan sepihak apa pun yang dapat memperburuk situasi atau membahayakan nyawa manusia.
"Keselamatan, keamanan, dan integritas fisik semua peserta tak bersenjata di atas armada, termasuk warga negara Afrika Selatan, adalah yang terpenting," kata pemerintah Afrika Selatan.
Dalam pernyataan bersama, Italia dan Yunani mengimbau otoritas Israel untuk menjamin keselamatan dan integritas para peserta armada.
Roma dan Athena juga mendesak armada bantuan untuk menahan diri dari inisiatif apa pun yang dapat dieksploitasi oleh mereka yang masih menolak perdamaian.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan para aktivis tidak mewakili bahaya atau ancaman bagi Israel, dan berharap bahwa pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga tidak akan menjadi ancaman bagi armada tersebut.
Berbicara menjelang pertemuan Dewan Eropa pada hari Rabu, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni meminta para aktivis untuk menghentikan pelayaran mereka, dengan mengatakan hal itu dapat membahayakan rencana perdamaian Gaza terbaru yang diusulkan Presiden AS Donald Trump, yang saat ini masih dalam negosiasi.
"Menghadapi peluang bersejarah ini, saya tidak dapat memahami desakan terhadap inisiatif yang mengandung unsur bahaya dan tidak bertanggung jawab," ujarnya.
(mas)
Lihat Juga :