AS Bakal Gandakan Produksi Rudal untuk Konflik Melawan China

Selasa, 30 September 2025 - 07:08 WIB
loading...
AS Bakal Gandakan Produksi...
Amerika Serikat sedang berupaya menggandakan produksi rudal untuk hadapi potensi konflik dengan China. Foto/Jason Isaacs/US Navy
A A A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) sedang berupaya menggandakan produksi rudal sebagai persiapan menghadapi potensi konflik dengan China. Langkah Amerika ini diungkap Wall Street Journal pada hari Senin, mengutip para pejabat yang mengetahui masalah tersebut.

Pentagon, menurut laporan itu, telah mendesak kontraktor pertahanan untuk menggandakan atau melipatgandakan produksinya di tengah meningkatnya kekhawatiran atas kekurangan stok senjata.

Departemen Pertahanan—yang telah diubah namanya menjadi Departemen Perang—AS meluncurkan upaya tersebut pada bulan Juni, ketika mengundang produsen rudal terkemuka ke meja bundar Pentagon, menurut sumber yang dikutip Wall Street Journal.

Baca Juga: Perbandingan Kekuatan Militer AS vs China 2025, Dua Superpower yang Berseteru

Dipimpin oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, pertemuan tersebut dihadiri oleh kontraktor senjata besar, perusahaan rintisan seperti Anduril Industries, dan pemasok komponen penting.

Wakil Menteri Pertahanan Steve Feinberg memainkan peran langsung yang "tidak biasa" dalam upaya tersebut, yang menurut laporan itu dikenal sebagai Dewan Akselerasi Amunisi.

Wall Street Journal mencatat bahwa pejabat tinggi tersebut secara pribadi menghubungi beberapa eksekutif setiap minggu untuk memantau kemajuan mereka.

"Presiden [Donald] Trump dan Menteri Hegseth sedang menjajaki berbagai cara luar biasa untuk memperluas kekuatan militer kita dan mempercepat produksi amunisi," ujar juru bicara Pentagon, Sean Parnell, kepada surat kabar tersebut.

"Upaya ini merupakan kolaborasi antara para pemimpin industri pertahanan dan pejabat senior Pentagon," ujarnya.

Menurut laporan tersebut, dewan akselerasi yang baru ini berfokus pada 12 senjata yang diinginkan Pentagon untuk menghadapi potensi konflik dengan China.

Beberapa pejabat dan pakar dilaporkan telah menyatakan kekhawatiran bahwa tujuan Pentagon mungkin tidak realistis, dengan menyebutkan fakta bahwa perakitan sistem rudal tertentu dapat memakan waktu hingga dua tahun. Di saat yang sama, sertifikasi pemasok baru membutuhkan ratusan juta dolar untuk memastikan produk tersebut memenuhi standar militer.

Pendanaan tetap menjadi perhatian utama lainnya, menurut para analis yang dikutip surat kabar tersebut. Meskipun "Big, Beautiful Bill [Rancangan Undang-Undang Besar dan Indah]" yang baru-baru ini disetujui oleh Washington memberikan tambahan anggaran amunisi sebesar USD25 miliar selama lima tahun, memenuhi target baru Pentagon dapat membutuhkan dana puluhan miliar lagi.

“Perusahaan tidak membangun hal-hal ini berdasarkan spesifikasi,” kata Tom Karako, pakar dari Center for Strategic and International Studies.

“Perlu ada pernyataan dukungan dengan uang. Tidak bisa hanya kata-kata," imbuh dia.

China dipandang oleh AS sebagai saingan strategis utamanya karena modernisasi militernya yang pesat, pengaruhnya yang meluas di Indo-Pasifik, dan dugaan meningkatnya tekanan terhadap Taiwan. Washington khawatir Beijing mungkin akan mencoba untuk bersatu kembali secara paksa dengan pulau yang berpemerintahan sendiri tersebut, yang berpotensi memicu konflik regional yang dapat menarik pasukan Amerika.

Beijing telah membantah tuduhan tersebut, dengan menyatakan bahwa Taiwan adalah masalah internal dan telah berulang kali menuduh AS memicu ketegangan dengan mempersenjatai pulau tersebut dan mendorong sentimen separatis.

Sementara itu, kontraktor-kontraktor senjata besar, termasuk Lockheed Martin dan RTX, mengatakan mereka telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan skala operasi, menambah pekerja, memperluas ruang lantai, dan menimbun suku cadang penting. Namun, beberapa pihak masih ragu untuk mengalokasikan sumber daya secara penuh tanpa jaminan kontrak pemerintah.

Ketua RTX, Christopher Calio, pernah menulis dalam surat tertanggal 3 Juli kepada Pentagon, yang menyatakan, "Menandakan kekuatan permintaan amunisi penting ini kepada basis pasokan dengan perpanjangan Program of Record...dan pendanaan untuk mendukungnya diperlukan."

Meskipun paket pendanaan USD25 miliar menandai peningkatan yang signifikan, para pelaku industri berpendapat bahwa memenuhi ekspektasi Pentagon, khususnya penggandaan produksi rudal dalam dua tahun, akan membutuhkan investasi dan perencanaan yang jauh lebih berkelanjutan.

Fokus Pentagon adalah pada selusin sistem persenjataan yang dianggap penting untuk potensi konflik dengan China. Sistem-sistem ini termasuk pencegat Patriot, Rudal Anti-Kapal Jarak Jauh, Rudal Standar-6, Rudal Serang Presisi, dan Rudal Jarak Jauh Gabungan Udara-ke-Permukaan.

Lini produksi rudal Patriot khususnya telah menjadi sorotan, karena Lockheed Martin kesulitan memenuhi permintaan yang didorong oleh konflik global baru-baru ini.

Untuk mencapai tujuan ini, Angkatan Darat AS baru-baru ini memberikan Lockheed Martin hampir USD10 miliar untuk memproduksi 2.000 rudal PAC-3 dari tahun 2024 hingga 2026. Pentagon pada akhirnya ingin melipatgandakan produksi tersebut setiap tahunnya.

Lockheed sedang mempertimbangkan investasi lebih lanjut dalam lini produksinya. Boeing, yang memasok komponen pencari penting, memperluas pabriknya seluas 35.000 kaki persegi dan telah mencapai rekor tingkat pengiriman.

Northrop Grumman juga telah berkomitmen USD1 miliar untuk meningkatkan produksi motor roket padat, yang penting untuk beberapa sistem, dan berencana untuk hampir menggandakan produksi dalam empat tahun ke depan.

Pentagon juga sedang melakukan tinjauan mendalam terhadap rantai pasokan amunisinya. Pentagon memetakan pemasok penting dan mengidentifikasi titik-titik kegagalan tunggal yang dapat memperlambat produksi. Salah satu titik kritis tersebut adalah pencari buatan Boeing yang tertanam di moncong rudal Patriot.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Kim Jong-un Janji Kapal...
Kim Jong-un Janji Kapal Perang Korut Dilengkapi Senjata Nuklir, Momok bagi AS
Viral! Kebun Binatang...
Viral! Kebun Binatang China Cari Pemeran Beruang Hitam, Gajinya Rp263,6 Juta
Iran Tuduh NATO Terlibat...
Iran Tuduh NATO Terlibat Perang Gabungan AS-Israel Gara-gara Pengakuan Sekjen Mark Rutte
Kerja Sama Yunani-China...
Kerja Sama Yunani-China Diperdebatkan, Legislator Tolak Status 'Mitra Lemah'
Jepang Sangkal Militernya...
Jepang Sangkal Militernya Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk China
Bukan Utang, Purbaya...
Bukan Utang, Purbaya Tegaskan Pendanaan AIIB Rp303 Triliun Murni Investasi
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri
Venezuela Luluh Lantak...
Venezuela Luluh Lantak Diguncang 2 Gempa Dahsyat, Ini Pemicunya?
Rekomendasi
Sejak 2023, Kabel Udara...
Sejak 2023, Kabel Udara Sepanjang 11 Kilometer di Jakarta Barat Direlokasi
Demo Ricuh di Grahadi...
Demo Ricuh di Grahadi Surabaya, Belasan Pendemo Diduga Provokator Ditangkap
Mensesneg Jelaskan Maksud...
Mensesneg Jelaskan Maksud Prabowo terkait 4 Kali Kalah Pemilu Tak Ganggu Pemegang Mandat
Berita Terkini
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan,...
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan, Korban Tewas Gempa Venezuela Capai 589 Orang
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Hizbullah Sergap Unit...
Hizbullah Sergap Unit Israel di Beit Yahoun, 4 Tentara Zionis Terluka
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Singapura Marah Kapalnya...
Singapura Marah Kapalnya Diserang di Selat Hormuz
Iran Sebut Pernyataan...
Iran Sebut Pernyataan Bersama AS-GCC Provokatif, Serukan Zona Bebas Senjata Nuklir Timur Tengah
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved