Gereja AS Ditembaki dan Dibakar, Trump Sebut Umat Kristen Jadi Target
Senin, 29 September 2025 - 07:06 WIB
loading...
Gereja Mormon yang ramai jemaat di Michigan, AS, ditembaki dan dibakar oleh seorang pria bersenjata. Dua orang tewas dan 8 lainnya terluka. Foto/X/@MarioNawfal
A
A
A
WASHINGTON - Seorang pria bersenjata telah menembaki dan membakar gereja Mormon yang ramai jemaat di Michigan, Amerika Serikat (AS), pada hari Minggu waktu setempat. Dua orang dinyatakan tewas, dan delapan lainnya terluka.
Serangan terjadi saat kebaktian Minggu. “Ada banyak korban dan penembaknya sudah tak berdaya. Tidak ada ancaman bagi publik saat ini. Gereja tersebut sedang terbakar,” kata Departemen Kepolisian Grand Blanc Township dalam sebuah pernyataan singkat, yang mendesak masyarakat untuk menghindari area tersebut.
Video yang beredar di media sosial menunjukkan atap bangunan gereja terbakar dan asap mengepul, dengan sejumlah besar kendaraan darurat dikerahkan ke lokasi kejadian.
Baca Juga: Aktivis Charlie Kirk Ditembak Mati di Depan Publik AS, Dikenal sebagai Pendukung Israel
Jaksa Agung AS Pam Bondi mengutuk penembakan dan kebakaran mengerikan di gereja Mormon tersebut dalam sebuah unggahan di X, Senin (29/9/2025). Menurutnya, para agen FBI dan ATF sedang dalam perjalanan ke lokasi kejadian.
"Kekerasan seperti itu di tempat ibadah sungguh memilukan dan mengerikan. Mari bergabung dengan saya dalam mendoakan para korban tragedi mengerikan ini," ujarnya.
Direktur FBI Kash Patel telah mengonfirmasi bahwa agensinya berada di lokasi kejadian.
"Agen FBI berada di lokasi kejadian untuk membantu pihak berwenang setempat," tulisnya di X.
"Kekerasan di tempat ibadah adalah tindakan pengecut dan kriminal. Doa kami menyertai para korban dan keluarga mereka dalam tragedi mengerikan ini," imbuh dia.
Presiden AS Donald Trump mengecam penembakan mengerikan tersebut. Dalam sebuah unggahan di Truth Social setelah insiden tersebut, Trump mengatakan serangan itu merupakan bagian dari epidemi kekerasan di AS.
"Tersangka sudah tewas, tetapi masih banyak yang harus dipelajari. Ini tampaknya merupakan serangan lainnya yang ditargetkan terhadap umat Kristen di Amerika Serikat," tulisnya.
"Epidemi kekerasan di negara kita harus diakhiri, segera!".
Insiden itu terjadi di Gereja Latter Day Saints yang ramai di kota Grand Blanc, kurang dari setengah jam setelah kebaktian dimulai.
Sekitar pukul 10.25 pagi, seorang tersangka pria berusia 40 tahun menabrakkan mobilnya ke pintu depan gereja dan menembaki jemaat dengan senapan serbu, menurut Kepala Kepolisian Grand Blanc Township, William Renye, dalam konferensi pers.
Menurutnya, petugas segera merespons dan menangani penembak, yang tewas dalam baku tembak berikutnya.
"Sepuluh korban tembakan telah dibawa ke rumah sakit setempat saat ini, termasuk satu orang yang telah meninggal dunia," imbuh dia. Menurutnya, korban lainnya meninggal dunia di rumah sakit akibat luka-lukanya.
"Terjadi kebakaran, dan kami yakin itu sengaja dilakukan oleh tersangka ini," kata Renye.
Menurut Renye, pihak berwenang memperkirakan lebih banyak korban akan ditemukan setelah tempat kejadian perkara dibersihkan.
Beberapa hari sebelumnya, Trump berjanji untuk menindak tegas apa yang disebutnya "terorisme kiri radikal", menyusul penembakan di fasilitas ICE di Dallas.
Serangan terjadi saat kebaktian Minggu. “Ada banyak korban dan penembaknya sudah tak berdaya. Tidak ada ancaman bagi publik saat ini. Gereja tersebut sedang terbakar,” kata Departemen Kepolisian Grand Blanc Township dalam sebuah pernyataan singkat, yang mendesak masyarakat untuk menghindari area tersebut.
Video yang beredar di media sosial menunjukkan atap bangunan gereja terbakar dan asap mengepul, dengan sejumlah besar kendaraan darurat dikerahkan ke lokasi kejadian.
Baca Juga: Aktivis Charlie Kirk Ditembak Mati di Depan Publik AS, Dikenal sebagai Pendukung Israel
Jaksa Agung AS Pam Bondi mengutuk penembakan dan kebakaran mengerikan di gereja Mormon tersebut dalam sebuah unggahan di X, Senin (29/9/2025). Menurutnya, para agen FBI dan ATF sedang dalam perjalanan ke lokasi kejadian.
"Kekerasan seperti itu di tempat ibadah sungguh memilukan dan mengerikan. Mari bergabung dengan saya dalam mendoakan para korban tragedi mengerikan ini," ujarnya.
Direktur FBI Kash Patel telah mengonfirmasi bahwa agensinya berada di lokasi kejadian.
"Agen FBI berada di lokasi kejadian untuk membantu pihak berwenang setempat," tulisnya di X.
"Kekerasan di tempat ibadah adalah tindakan pengecut dan kriminal. Doa kami menyertai para korban dan keluarga mereka dalam tragedi mengerikan ini," imbuh dia.
Presiden AS Donald Trump mengecam penembakan mengerikan tersebut. Dalam sebuah unggahan di Truth Social setelah insiden tersebut, Trump mengatakan serangan itu merupakan bagian dari epidemi kekerasan di AS.
"Tersangka sudah tewas, tetapi masih banyak yang harus dipelajari. Ini tampaknya merupakan serangan lainnya yang ditargetkan terhadap umat Kristen di Amerika Serikat," tulisnya.
"Epidemi kekerasan di negara kita harus diakhiri, segera!".
Insiden itu terjadi di Gereja Latter Day Saints yang ramai di kota Grand Blanc, kurang dari setengah jam setelah kebaktian dimulai.
Sekitar pukul 10.25 pagi, seorang tersangka pria berusia 40 tahun menabrakkan mobilnya ke pintu depan gereja dan menembaki jemaat dengan senapan serbu, menurut Kepala Kepolisian Grand Blanc Township, William Renye, dalam konferensi pers.
Menurutnya, petugas segera merespons dan menangani penembak, yang tewas dalam baku tembak berikutnya.
"Sepuluh korban tembakan telah dibawa ke rumah sakit setempat saat ini, termasuk satu orang yang telah meninggal dunia," imbuh dia. Menurutnya, korban lainnya meninggal dunia di rumah sakit akibat luka-lukanya.
"Terjadi kebakaran, dan kami yakin itu sengaja dilakukan oleh tersangka ini," kata Renye.
Menurut Renye, pihak berwenang memperkirakan lebih banyak korban akan ditemukan setelah tempat kejadian perkara dibersihkan.
Beberapa hari sebelumnya, Trump berjanji untuk menindak tegas apa yang disebutnya "terorisme kiri radikal", menyusul penembakan di fasilitas ICE di Dallas.
(mas)
Lihat Juga :