Sekutu Putin: Tak Ada Bunker yang Bisa Lindungi AS dari Bom-bom Raksasa Rusia
Jum'at, 26 September 2025 - 11:29 WIB
loading...
Dmitry Medvedev, Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia yang juga sekutu Presiden Vladimir Putin, sebut tak ada bunker yang mampu lindungi AS dari bom raksasa Moskow. Foto/Sputnik/Ekaterina Shtukina
A
A
A
MOSKOW - Dmitry Medvedev, Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia yang juga sekutu Presiden Vladimir Putin, mengatakan Amerika Serikat (AS) harus ingat bahwa tak ada bunker yang dapat melindungi penduduknya dari bom-bom raksasa Moskow.
Mantan perdana menteri Rusia itu menyampaikan komentarnya sebagai respons atas wawancara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dengan media AS; Axios, di mana Zelensky mengatakan Kremlin tetap menjadi target potensial, dan para pejabat Rusia harus mengakhiri perang atau mencari perlindungan.
Medvedev, yang kembali menyebut Zelensky "pecandu narkoba", melalui platform media sosial baru Rusia; "Max", mengingatkan semua pihak bahwa Rusia adalah kekuatan nuklir.
Baca Juga: Kremlin Jawab Hinaan Trump: Rusia Beruang Sungguhan, Bukan Macan Kertas!
Dia lantas melontarkan ancaman terhadap AS. "Pecandu di Kyiv mengatakan bahwa Kremlin perlu tahu di mana tempat perlindungan bom itu agar mereka bisa bersembunyi ketika dia menggunakan senjata jarak jauh Amerika," tulis Medvedev.
"Yang perlu dipahami oleh orang aneh ini adalah: Rusia memiliki senjata yang tidak dapat ditangkal oleh tempat perlindungan bom mana pun. Amerika juga harus mengingat ini," imbuh dia, seperti dikutip Kyiv Post, Jumat (26/9/2025).
Medvedev secara konsisten melontarkan ancaman serangan nuklir terhadap Barat sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina, perilaku yang membuatnya dijuluki "pembawa kiamat".
Pada tahun 2024, Medvedev—melalui Telegram—sudah 12 kali mengancam akan mengebom Barat.
Ancaman terbaru Medvedev kepada AS juga muncul ketika Presiden AS Donald Trump membuat pernyataan mengejutkan setelah bertemu Zelensky pada hari Selasa—memuji pemimpin masa perang tersebut sambil menyebut Rusia sebagai "macan kertas", dan menambahkan bahwa dia yakin Ukraina dapat merebut kembali wilayahnya yang dikuasai Rusia.
Beberapa bulan sebelumnya, Trump juga mengecam Medvedev karena menggunakan "kata berawalan huruf N" setelah politisi Rusia itu mengancam akan memasok Teheran dengan senjata nuklir menyusul serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran.
"Apakah saya mendengar Mantan Presiden Medvedev, dari Rusia, dengan santai melontarkan kata 'N' (Nuklir!), dan mengatakan bahwa dia dan negara-negara lain akan memasok hulu ledak nuklir ke Iran? Apakah dia benar-benar mengatakannya atau, itu hanya khayalan saya?" tulis Trump.
Mantan perdana menteri Rusia itu menyampaikan komentarnya sebagai respons atas wawancara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dengan media AS; Axios, di mana Zelensky mengatakan Kremlin tetap menjadi target potensial, dan para pejabat Rusia harus mengakhiri perang atau mencari perlindungan.
Medvedev, yang kembali menyebut Zelensky "pecandu narkoba", melalui platform media sosial baru Rusia; "Max", mengingatkan semua pihak bahwa Rusia adalah kekuatan nuklir.
Baca Juga: Kremlin Jawab Hinaan Trump: Rusia Beruang Sungguhan, Bukan Macan Kertas!
Dia lantas melontarkan ancaman terhadap AS. "Pecandu di Kyiv mengatakan bahwa Kremlin perlu tahu di mana tempat perlindungan bom itu agar mereka bisa bersembunyi ketika dia menggunakan senjata jarak jauh Amerika," tulis Medvedev.
"Yang perlu dipahami oleh orang aneh ini adalah: Rusia memiliki senjata yang tidak dapat ditangkal oleh tempat perlindungan bom mana pun. Amerika juga harus mengingat ini," imbuh dia, seperti dikutip Kyiv Post, Jumat (26/9/2025).
Medvedev secara konsisten melontarkan ancaman serangan nuklir terhadap Barat sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina, perilaku yang membuatnya dijuluki "pembawa kiamat".
Pada tahun 2024, Medvedev—melalui Telegram—sudah 12 kali mengancam akan mengebom Barat.
Ancaman terbaru Medvedev kepada AS juga muncul ketika Presiden AS Donald Trump membuat pernyataan mengejutkan setelah bertemu Zelensky pada hari Selasa—memuji pemimpin masa perang tersebut sambil menyebut Rusia sebagai "macan kertas", dan menambahkan bahwa dia yakin Ukraina dapat merebut kembali wilayahnya yang dikuasai Rusia.
Beberapa bulan sebelumnya, Trump juga mengecam Medvedev karena menggunakan "kata berawalan huruf N" setelah politisi Rusia itu mengancam akan memasok Teheran dengan senjata nuklir menyusul serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran.
"Apakah saya mendengar Mantan Presiden Medvedev, dari Rusia, dengan santai melontarkan kata 'N' (Nuklir!), dan mengatakan bahwa dia dan negara-negara lain akan memasok hulu ledak nuklir ke Iran? Apakah dia benar-benar mengatakannya atau, itu hanya khayalan saya?" tulis Trump.
(mas)
Lihat Juga :