Saharjo, Penyelamat Hutan Indonesia yang Tak Gentar dengan Ancaman Pembunuhan
Sabtu, 12 September 2020 - 15:44 WIB
loading...
A
A
A
Profesor Saharjo mengirimkan informasi tersebut secara berkala kepada instansi yang bertanggung jawab untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan badan bencana.
“Misalnya, baru-baru ini terjadi kebakaran besar di Kalimantan Barat. Kami sampaikan kepada aparat setempat bahwa api sudah mendekati suatu tempat, harap segera bertindak karena api berada di lahan gambut," ujarnya. (Baca juga: NASA: Kebakaran Hutan Indonesia Terburuk dalam Sejarah )
Terkadang Profesor Saharjo turun ke lapangan untuk menyelidiki kasus dengan mengebor lahan gambut jika ada permintaan dari polisi, pemerintah dan universitas.
“Setiap langkah yang saya ambil tidak jauh berbeda dengan penelitian biasa. Mulai dari penentuan lokasi, kasus, sampel, metode dan analisa....sehingga menjadi satu rantai yang sulit untuk diperdebatkan," jelasnya.
Atas karyanya, Profesor Saharjo menyabet penghargaan John Maddox— sebuah penghargaan bagi peneliti yang menunjukkan keberanian besar membela sains dan penalaran ilmiah meski dimusuhi—di London November lalu.
Dia termasuk di antara 200 nominasi.
Dia juga menerima Global Landscape Fire Award dari University of Freiburg, Jerman, September lalu atas komitmennya dalam perlindungan hutan.
Mengingat Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau yang biasanya meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan, Saharjo sangat waspada.
“Pemerintah sudah sepakat untuk mengendalikan kebakaran secepatnya. Jadi operasi seperti modifikasi cuaca dan video call meeting dengan semua pemerintah daerah telah dilakukan," katanya.
“Tapi ini seperti punya 10 anak dan tidak semua bisa baik-baik saja....dan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sedang mengejar kasus-kasus yang tidak hanya melibatkan investor dalam negeri tetapi juga dari negara-negara tetangga,” imbuh dia.
Saat menangani kasus pengadilan, ada banyak tantangan yang harus dia tangani. Misalnya, tersangka akan selalu berusaha membela diri dengan mencari alasan.
Saharo mengatakan neberapa orang berpendapat bahwa lahan yang terbakar tidak “rusak” karena masih ada rumput yang tumbuh di atasnya.
“Tapi pernahkah terlintas dalam pikiran mereka bahwa lahan gambut yang terbakar membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk dipulihkan?," paparnya.
"Selain itu, selama kebakaran, emisi gas rumah kaca dilepaskan.... jadi itu tidak benar."
Pada 2015, Indonesia harus menghadapi kebakaran terbesar dalam hampir 20 tahun yang menghanguskan sekitar 2,6 juta hektare lahan. Profesor Saharjo dan timnya bekerja sama dengan universitas Amerika yang didanai oleh NASA untuk meneliti kebakaran lahan gambut.
Mereka menggunakan detektor khusus yang diimpor dari Amerika Serikat untuk mengambil sampel lahan gambut yang terbakar di provinsi Kalimantan Tengah.
Menurutnya, detektor itu hanya ada satu di seluruh dunia, dan bahkan telah digunakan di Mars.
“Untuk pertama kalinya di dunia, sampel yang kami ambil menunjukkan ada 90 jenis gas dalam asap. Ini diterbitkan dalam jurnal internasional pada tahun 2016," katanya.
“Sayangnya lebih dari 50 jenis gas di sana beracun,” lanjut Saharjo.
“Misalnya, baru-baru ini terjadi kebakaran besar di Kalimantan Barat. Kami sampaikan kepada aparat setempat bahwa api sudah mendekati suatu tempat, harap segera bertindak karena api berada di lahan gambut," ujarnya. (Baca juga: NASA: Kebakaran Hutan Indonesia Terburuk dalam Sejarah )
Terkadang Profesor Saharjo turun ke lapangan untuk menyelidiki kasus dengan mengebor lahan gambut jika ada permintaan dari polisi, pemerintah dan universitas.
“Setiap langkah yang saya ambil tidak jauh berbeda dengan penelitian biasa. Mulai dari penentuan lokasi, kasus, sampel, metode dan analisa....sehingga menjadi satu rantai yang sulit untuk diperdebatkan," jelasnya.
Atas karyanya, Profesor Saharjo menyabet penghargaan John Maddox— sebuah penghargaan bagi peneliti yang menunjukkan keberanian besar membela sains dan penalaran ilmiah meski dimusuhi—di London November lalu.
Dia termasuk di antara 200 nominasi.
Dia juga menerima Global Landscape Fire Award dari University of Freiburg, Jerman, September lalu atas komitmennya dalam perlindungan hutan.
Mengingat Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau yang biasanya meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan, Saharjo sangat waspada.
“Pemerintah sudah sepakat untuk mengendalikan kebakaran secepatnya. Jadi operasi seperti modifikasi cuaca dan video call meeting dengan semua pemerintah daerah telah dilakukan," katanya.
“Tapi ini seperti punya 10 anak dan tidak semua bisa baik-baik saja....dan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sedang mengejar kasus-kasus yang tidak hanya melibatkan investor dalam negeri tetapi juga dari negara-negara tetangga,” imbuh dia.
Saat menangani kasus pengadilan, ada banyak tantangan yang harus dia tangani. Misalnya, tersangka akan selalu berusaha membela diri dengan mencari alasan.
Saharo mengatakan neberapa orang berpendapat bahwa lahan yang terbakar tidak “rusak” karena masih ada rumput yang tumbuh di atasnya.
“Tapi pernahkah terlintas dalam pikiran mereka bahwa lahan gambut yang terbakar membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk dipulihkan?," paparnya.
"Selain itu, selama kebakaran, emisi gas rumah kaca dilepaskan.... jadi itu tidak benar."
Pada 2015, Indonesia harus menghadapi kebakaran terbesar dalam hampir 20 tahun yang menghanguskan sekitar 2,6 juta hektare lahan. Profesor Saharjo dan timnya bekerja sama dengan universitas Amerika yang didanai oleh NASA untuk meneliti kebakaran lahan gambut.
Mereka menggunakan detektor khusus yang diimpor dari Amerika Serikat untuk mengambil sampel lahan gambut yang terbakar di provinsi Kalimantan Tengah.
Menurutnya, detektor itu hanya ada satu di seluruh dunia, dan bahkan telah digunakan di Mars.
“Untuk pertama kalinya di dunia, sampel yang kami ambil menunjukkan ada 90 jenis gas dalam asap. Ini diterbitkan dalam jurnal internasional pada tahun 2016," katanya.
“Sayangnya lebih dari 50 jenis gas di sana beracun,” lanjut Saharjo.
Lihat Juga :