6 Alasan Jet Tempur dan Drone Turki Diborong Indonesia dan Malaysia, Salah Satunya Transfer Teknologi
Minggu, 21 September 2025 - 15:24 WIB
loading...
A
A
A
“Fleksibilitas Turki—kesiapannya untuk melokalisasi produksi, menanamkan teknologi, dan menyesuaikan paket—adalah yang membedakannya,” kata Yas, seraya menekankan bahwa koproduksi dan pelatihan merupakan hal penting untuk mempertahankan kapabilitas tanpa mengikis kedaulatan.
Para pejabat Turki menekankan bahwa jalur baru Vietnam akan berfokus pada pelatihan, hubungan industri pertahanan, penjagaan perdamaian PBB, dan pertukaran di bidang angkatan laut, udara, siber, dan keamanan non-tradisional—bidang-bidang yang selaras dengan doktrin non-blok Hanoi sekaligus membangun kapasitas praktis.
“Ini adalah kerja sama yang dibangun di atas pragmatisme dan kepercayaan,” kata Yas. “Baik Ankara maupun Hanoi adalah kekuatan menengah yang bertekad melindungi kedaulatan, membangun ketahanan, dan menghindari ketergantungan pada satu kekuatan besar mana pun.”
“Keduanya bukanlah alternatif,” katanya. “Keduanya adalah pilar pelengkap dari kehadiran yang berkelanjutan.”
Para pejabat Ankara menggaungkan narasi tersebut, menjadikan Asia Tenggara sebagai tempat pembuktian bagi ekonomi pertahanan Turki yang telah berkembang—drone, senjata presisi, kapal perang, dan kini jet generasi kelima—yang telah teruji pertempuran dari Kaukasus hingga Afrika Utara.
Pesan di Hanoi serupa: Turki ingin menerjemahkan kebangkitan industrinya menjadi kemitraan jangka panjang yang membangun kapasitas lokal dan mengurangi risiko pemasok tunggal.
“Turki dan Asia Tenggara memiliki kesamaan bahasa: keduanya menginginkan tatanan internasional yang lebih seimbang, sistem tata kelola global yang lebih inklusif, dan dunia di mana kekuatan menengah tidak direduksi menjadi pion dalam persaingan negara adidaya,” ujar Atli.
4. Tidak Mengancam
Menurut Yas, ‘Empat Tidak’ Vietnam yang telah lama berlaku—tidak ada aliansi militer, tidak berpihak pada satu kekuatan, tidak ada pangkalan asing, dan tidak ada penggunaan atau ancaman kekuatan—hanya menyisakan sedikit ruang bagi kemitraan yang terikat perjanjian. Namun, hal tersebut tidak menghalangi modernisasi atau kerja sama industri.Para pejabat Turki menekankan bahwa jalur baru Vietnam akan berfokus pada pelatihan, hubungan industri pertahanan, penjagaan perdamaian PBB, dan pertukaran di bidang angkatan laut, udara, siber, dan keamanan non-tradisional—bidang-bidang yang selaras dengan doktrin non-blok Hanoi sekaligus membangun kapasitas praktis.
“Ini adalah kerja sama yang dibangun di atas pragmatisme dan kepercayaan,” kata Yas. “Baik Ankara maupun Hanoi adalah kekuatan menengah yang bertekad melindungi kedaulatan, membangun ketahanan, dan menghindari ketergantungan pada satu kekuatan besar mana pun.”
5. Memiliki Industri Pertahanan yang Berkembang
Atli memandang gelombang aktivitas saat ini terdiri dari dua hal yang saling memperkuat: jangkauan multilateral ke ASEAN, dan jaringan hubungan antarnegara yang lebih erat.“Keduanya bukanlah alternatif,” katanya. “Keduanya adalah pilar pelengkap dari kehadiran yang berkelanjutan.”
Para pejabat Ankara menggaungkan narasi tersebut, menjadikan Asia Tenggara sebagai tempat pembuktian bagi ekonomi pertahanan Turki yang telah berkembang—drone, senjata presisi, kapal perang, dan kini jet generasi kelima—yang telah teruji pertempuran dari Kaukasus hingga Afrika Utara.
Pesan di Hanoi serupa: Turki ingin menerjemahkan kebangkitan industrinya menjadi kemitraan jangka panjang yang membangun kapasitas lokal dan mengurangi risiko pemasok tunggal.
“Turki dan Asia Tenggara memiliki kesamaan bahasa: keduanya menginginkan tatanan internasional yang lebih seimbang, sistem tata kelola global yang lebih inklusif, dan dunia di mana kekuatan menengah tidak direduksi menjadi pion dalam persaingan negara adidaya,” ujar Atli.
Lihat Juga :