Dunia Frustrasi, AS Veto Resolusi PBB Keenam untuk Gencatan Senjata Gaza

Jum'at, 19 September 2025 - 16:23 WIB
loading...
Dunia Frustrasi, AS...
Amerika Serikat (AS) kembali memveto resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyerukan gencatan senjata di Gaza. Foto/trt
A A A
NEW YORK - Amerika Serikat (AS) kembali memveto resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyerukan gencatan senjata di Gaza. Veto itu muncul saat Israel terus menggempur wilayah Palestina yang dilanda kelaparan tersebut untuk menduduki Kota Gaza.

Resolusi tersebut, yang dirancang 10 anggota terpilih, menyerukan gencatan senjata segera, tanpa syarat, dan permanen.

Resolusi tersebut juga menuntut Israel mencabut semua pembatasan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza dan menyerukan pembebasan tanpa syarat semua warga Israel yang ditawan Hamas.

Empat belas dari 15 anggota dewan memberikan suara mendukung proposal tersebut, sementara hanya Amerika Serikat yang menentangnya.

Ini menandai keenam kalinya AS menggunakan hak vetonya untuk memblokir langkah-langkah tersebut sejak dimulainya genosida Israel di Gaza hampir dua tahun lalu.

Veto AS disambut dengan frustrasi di tengah konsensus global yang sangat kuat yang mendukung gencatan senjata.

Perwakilan Aljazair, Amar Bendjama, menyampaikan pidato langsung kepada rakyat Palestina setelah pemungutan suara. "Maafkan kami," ujarnya.

"Maafkan kami, karena Dewan ini tidak dapat menyelamatkan anak-anak kalian – lebih dari 18.000 dari mereka telah dibunuh oleh Israel," ujar dia.

Ia melanjutkan, "Sejarah tidak akan menilai pidato kita; sejarah akan menilai tindakan kita. Malu atas ketidakberdayaan. Malu menghadapi genosida yang terjadi di depan mata kita."

Bendjama memperingatkan Dewan Keamanan PBB kini berisiko gagal untuk ketiga kalinya dalam menghentikan genosida, seperti yang terjadi di Rwanda pada tahun 1994 dan Bosnia pada tahun 1995.

Perwakilan Pakistan, Asim Iftikhar Ahmad, menggambarkan veto AS tersebut sebagai "momen gelap di Dewan ini."

"Dunia sedang menyaksikan. Tangisan anak-anak seharusnya menusuk hati kita," ujarnya.

China menuduh Amerika Serikat menyalahgunakan hak vetonya.

Menjelang pemungutan suara, Duta Besar Denmark untuk PBB, Christina Markus Lassen—yang berbicara mewakili 10 anggota—menyoroti krisis kemanusiaan yang semakin memburuk.

"Kelaparan telah dipastikan terjadi di Gaza—bukan diproyeksikan, bukan dideklarasikan, tetapi dikonfirmasi," tegas dia.

Dia menekankan, "Sementara itu, Israel telah memperluas operasi militernya di Kota Gaza, yang semakin memperparah penderitaan warga sipil. Situasi bencana ini—kegagalan kemanusiaan dan kemanusiaan—adalah yang mendorong kita untuk bertindak hari ini."

Pemungutan suara tersebut dilakukan beberapa hari setelah Israel mengumumkan dimulainya serangan darat di Kota Gaza, yang bertujuan merebut kota tersebut sebelum pendudukan penuh atas enklave Palestina tersebut.

Jet-jet tempur Israel membombardir Kota Gaza pada Kamis malam ketika tank-tank bergerak maju ke daerah tersebut, di mana ratusan ribu orang dibiarkan tanpa tempat berlindung atau makanan.

Sejak dimulainya genosida di Gaza pada Oktober 2023, Israel tanpa henti membom warga sipil sambil mengepung seluruh penduduk.

Akibatnya, Jalur Gaza dilanda kelaparan, dengan sebagian besar rumah rata dengan tanah, menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Sementara itu, pasukan Israel telah membunuh lebih dari 65.000 warga Palestina, dengan rata-rata hampir 90 orang per hari.

Lebih dari 80% korban tewas adalah warga sipil, termasuk sekitar 20.000 anak-anak.

Baca juga: Komunikasi Lumpuh di Kota Gaza, 800.000 Warga Palestina Terisolir seiring Gempuran Israel
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Aroma Match Fixing Rugikan...
Aroma Match Fixing Rugikan Timnas Iran di Piala Dunia 2026, Kenapa FIFA Tolak Investigasi?
Gempa Venezuela: Korban...
Gempa Venezuela: Korban Tewas Bertambah Jadi 1.719 Orang, Ribuan Masih Hilang
Ukraina Minta ke Rusia...
Ukraina Minta ke Rusia Perang Dibatasi di 4 Wilayah Saja, Terpojok?
Rekomendasi
Jokowi Hadiri HUT Ke-80...
Jokowi Hadiri HUT Ke-80 Bhayangkara di Cikeas
Badan Siber PP GP Ansor...
Badan Siber PP GP Ansor Kritik Ketertutupan Pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber
Kontroversi Piala Dunia...
Kontroversi Piala Dunia 2026: Iran Kecam Pejabat AS yang Ejek Kegagalan Team Melli
Berita Terkini
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Bagaimana Iran Menggunakan...
Bagaimana Iran Menggunakan Strategi Ubur-ubur untuk Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Infografis
3 Senjata Canggih Iran...
3 Senjata Canggih Iran yang Ciptakan Mimpi Buruk bagi AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved