Pekerja Perempuan Ini Bunuh Diri setelah Bos Menyebutnya Anjing Liar dalam Rapat, Urusannya Jadi Panjang
Selasa, 16 September 2025 - 00:02 WIB
loading...
Satomi, pekerja perempuan di Jepang yang bunuh diri setelah bos perusahaan menyebutnya anjing liar dalam rapat. Foto/Mothership
A
A
A
TOKYO - Seorang pekerja perempuan di Jepang menjadi pemberitaan media-media internasional setelah meninggal akibat bunuh diri yang dipicu pelecehan verbal oleh bosnya di tempat kerja. Kasus ini berbuntut panjang karena keluarga korban menggugat perusahaan.
Satomi, seorang pekerja dari produsen kosmetik D-UP Corporation yang berbasis di Tokyo meninggal pada tahun 2023 setelah bunuh diri. Keluarganya mengajukan gugatan terhadap perusahaan dan presiden perusahaan, menuduh mereka sebagai penyebab kematiannya.
Pengadilan setempat baru-baru ini memutuskan bahwa perusahaan dan presidennya bertanggung jawab atas kematian Satomi dan meminta presiden perusahaan untuk mengundurkan diri.
Baca Juga: Rusia Tembakkan Rudal Hipersonik di Depan Pintu NATO, Targetnya Hancur
Keluarga korban telah mengadakan konferensi pers pada 11 September lalu untuk memberikan informasi terbaru.
Mengutip laporan dari Asahi Shimbun, Senin (15/9/2025), korban bergabung dengan D-UP pada April 2021.
Kemudian pada bulan Desember, dia dipanggil ke sebuah rapat dengan presiden perusahaan, Mitsuru Sakai, di mana Sakai menegurnya dengan keras atas tindakan-tindakan seperti mengunjungi klien tanpa persetujuan sebelumnya.
Dalam rapat tersebut, Sakai memanggilnya "anjing liar", dan keesokan harinya mengatakan kepadanya: "Anjing yang lebih lemah menggonggong lebih keras."
Media Jepang lainnya, NHK, melaporkan bahwa Satomi didiagnosis depresi pada Januari 2022 dan kemudian mengambil cuti.
Pada bulan Agustus tahun itu, dia berupaya bunuh diri, yang membuatnya tidak sadarkan diri.
Dia akhirnya meninggal pada Oktober 2023 pada usia 25 tahun.
Menurut laporan NHK, orang tua Satomi telah mengajukan gugatan pada Juli 2023, menuntut ganti rugi dari Sakai dan perusahaan.
Pada Mei 2024, Kantor Inspeksi Standar Ketenagakerjaan Mita di Tokyo menemukan hubungan sebab akibat antara pelecehan verbal Sakai, depresi Satomi, dan juga kematian Satomi.
Hal ini mendorong mereka untuk mengklasifikasikan kematiannya sebagai kecelakaan kerja.
Pengadilan Distrik Tokyo mengeluarkan putusan pada 9 September 2025, yang menyatakan bahwa D-UP harus mengakui bahwa pelecehan oleh presidennya menyebabkan kematian Satomi dan presiden D-UP, Sakai, harus mengundurkan diri.
Menurut laporan NHK, jarang pengadilan meminta pengunduran diri presiden perusahaan.
Keluarga yang berduka kemudian mengumumkan dalam konferensi pers bahwa Sakai dan perusahaan akan membayar 150 juta yen Jepang (Rp16,7 miliar) sebagai uang penyelesaian.
Laporan surat kabar Asahi Shimbun menambahkan bahwa putusan tersebut juga mewajibkan D-UP untuk mengambil langkah-langkah guna mencegah insiden serupa terulang kembali.
D-UP kemudian merilis pernyataan di situs webnya, yang mengonfirmasi bahwa Sakai mengundurkan diri pada hari Rabu (10/9/2025).
Perusahaan juga meminta maaf kepada Satomi dan keluarganya, dan mereka berjanji untuk memperbaiki sistem mereka guna mencegah insiden serupa terulang di masa mendatang.
Langkah-langkah yang direncanakan D-UP antara lain merevisi aturan pencegahan pelecehan, memberikan pelatihan bagi manajemen dan karyawannya, serta mendirikan hotline konsultasi eksternal.
Saudara perempuan Satomi menjawab bahwa permintaan maaf tersebut datang terlambat.
"Sudah bertahun-tahun berlalu sejak saudara perempuan saya meninggal, jadi permintaan maaf sekarang rasanya kurang tepat," ujarnya. "Hasil pengadilannya bagus, tapi saya ingin (perusahaan dan presiden) meminta maaf selagi dia masih hidup."
Dia menggambarkan Satomi sebagai sosok pekerja keras dan berdedikasi pada hal-hal yang dia pedulikan. Dia berharap akan tercipta masyarakat di mana orang-orang yang berusaha sebaik mungkin dilindungi dan tidak dirundung.
Satomi, seorang pekerja dari produsen kosmetik D-UP Corporation yang berbasis di Tokyo meninggal pada tahun 2023 setelah bunuh diri. Keluarganya mengajukan gugatan terhadap perusahaan dan presiden perusahaan, menuduh mereka sebagai penyebab kematiannya.
Pengadilan setempat baru-baru ini memutuskan bahwa perusahaan dan presidennya bertanggung jawab atas kematian Satomi dan meminta presiden perusahaan untuk mengundurkan diri.
Baca Juga: Rusia Tembakkan Rudal Hipersonik di Depan Pintu NATO, Targetnya Hancur
Keluarga korban telah mengadakan konferensi pers pada 11 September lalu untuk memberikan informasi terbaru.
Disebut Anjing Liar dalam Rapat
Mengutip laporan dari Asahi Shimbun, Senin (15/9/2025), korban bergabung dengan D-UP pada April 2021.
Kemudian pada bulan Desember, dia dipanggil ke sebuah rapat dengan presiden perusahaan, Mitsuru Sakai, di mana Sakai menegurnya dengan keras atas tindakan-tindakan seperti mengunjungi klien tanpa persetujuan sebelumnya.
Dalam rapat tersebut, Sakai memanggilnya "anjing liar", dan keesokan harinya mengatakan kepadanya: "Anjing yang lebih lemah menggonggong lebih keras."
Media Jepang lainnya, NHK, melaporkan bahwa Satomi didiagnosis depresi pada Januari 2022 dan kemudian mengambil cuti.
Pada bulan Agustus tahun itu, dia berupaya bunuh diri, yang membuatnya tidak sadarkan diri.
Dia akhirnya meninggal pada Oktober 2023 pada usia 25 tahun.
Menurut laporan NHK, orang tua Satomi telah mengajukan gugatan pada Juli 2023, menuntut ganti rugi dari Sakai dan perusahaan.
Pada Mei 2024, Kantor Inspeksi Standar Ketenagakerjaan Mita di Tokyo menemukan hubungan sebab akibat antara pelecehan verbal Sakai, depresi Satomi, dan juga kematian Satomi.
Hal ini mendorong mereka untuk mengklasifikasikan kematiannya sebagai kecelakaan kerja.
Pengadilan Distrik Tokyo mengeluarkan putusan pada 9 September 2025, yang menyatakan bahwa D-UP harus mengakui bahwa pelecehan oleh presidennya menyebabkan kematian Satomi dan presiden D-UP, Sakai, harus mengundurkan diri.
Menurut laporan NHK, jarang pengadilan meminta pengunduran diri presiden perusahaan.
Keluarga yang berduka kemudian mengumumkan dalam konferensi pers bahwa Sakai dan perusahaan akan membayar 150 juta yen Jepang (Rp16,7 miliar) sebagai uang penyelesaian.
Laporan surat kabar Asahi Shimbun menambahkan bahwa putusan tersebut juga mewajibkan D-UP untuk mengambil langkah-langkah guna mencegah insiden serupa terulang kembali.
D-UP kemudian merilis pernyataan di situs webnya, yang mengonfirmasi bahwa Sakai mengundurkan diri pada hari Rabu (10/9/2025).
Perusahaan juga meminta maaf kepada Satomi dan keluarganya, dan mereka berjanji untuk memperbaiki sistem mereka guna mencegah insiden serupa terulang di masa mendatang.
Langkah-langkah yang direncanakan D-UP antara lain merevisi aturan pencegahan pelecehan, memberikan pelatihan bagi manajemen dan karyawannya, serta mendirikan hotline konsultasi eksternal.
Saudara perempuan Satomi menjawab bahwa permintaan maaf tersebut datang terlambat.
"Sudah bertahun-tahun berlalu sejak saudara perempuan saya meninggal, jadi permintaan maaf sekarang rasanya kurang tepat," ujarnya. "Hasil pengadilannya bagus, tapi saya ingin (perusahaan dan presiden) meminta maaf selagi dia masih hidup."
Dia menggambarkan Satomi sebagai sosok pekerja keras dan berdedikasi pada hal-hal yang dia pedulikan. Dia berharap akan tercipta masyarakat di mana orang-orang yang berusaha sebaik mungkin dilindungi dan tidak dirundung.
(mas)
Lihat Juga :