Apakah Arab Saudi Juga akan Diserang Israel?
Jum'at, 12 September 2025 - 20:16 WIB
loading...
A
A
A
Secara teknis mungkin ada kemampuan untuk serangan terbatas atau serangan komando/operasi khusus, tetapi serangan berskala besar menghadapi kendala operasional dan risiko tinggi.
Hubungan Riyadh–Washington adalah salah satu faktor pencegah terbesar. Saudi menerima dukungan militer dan peralatan dari AS; ada pula pertimbangan strategis AS agar konflik regional tidak meluas karena gangguan terhadap ekonomi global dan pasokan energi.
Jika Israel mempertimbangkan operasi besar terhadap Saudi, kemungkinan besar AS akan mengetahui atau terlibat dalam penilaian risiko dan ingatan soal fakta bahwa serangan pada negara yang memiliki hubungan dekat dengan AS bisa merusak solidaritas sekutu membuat tindakan unilateral Israel terhadap Saudi kurang mungkin tanpa koordinasi atau setidaknya pembicaraan tingkat tinggi.
Meski demikian, ketidakpastian politik Amerika dan preferensi kebijakan berbeda bisa memengaruhi seberapa tegas AS akan menahan tindakan semacam itu.
Riyadh sejauh ini berupaya menjaga jarak dari konfrontasi langsung dengan Israel meskipun ketegangan politik dan kecaman publik meningkat setelah beberapa serangan Israel yang dianggap melanggar norma, misalnya serangan di Doha.
Saudi memiliki kepentingan strategis menjaga stabilitas domestik dan ekonomi, termasuk proyek Vision 2030 yang sensitif terhadap gangguan geopolitik.
Saudi juga meningkatkan kapasitas pertahanan udara dan mencari jaminan strategis dari mitra global.
Agar Saudi menjadi sasaran militer Israel, Riyadh harus dipersepsikan sebagai lokasi aktif bagi operasi yang secara langsung mengancam Israel, misalnya pusat kendali serangan besar atau transit senjata strategis, skenario yang, sampai pertengahan 2025, belum menjadi narasi dominan di laporan terbuka.
Serangan terhadap Saudi akan memicu gempa diplomatik dan ekonomi: negara-negara Teluk lainnya mungkin bergerak mendekat ke Iran atau negara non-Barat untuk perlindungan, harga minyak bisa melonjak, dan solidaritas internasional terhadap Saudi akan memaksa reaksi keras di PBB dan forum multilateral.
Israel, yang di beberapa tahun terakhir terus berusaha memperluas dukungan diplomatik melalui normalisasi (Abraham Accords), akan mengincar risiko reputasi besar jika menyerang negara Teluk yang penting.
3. Peran Amerika Serikat dan Jaminan Keamanan
Hubungan Riyadh–Washington adalah salah satu faktor pencegah terbesar. Saudi menerima dukungan militer dan peralatan dari AS; ada pula pertimbangan strategis AS agar konflik regional tidak meluas karena gangguan terhadap ekonomi global dan pasokan energi.
Jika Israel mempertimbangkan operasi besar terhadap Saudi, kemungkinan besar AS akan mengetahui atau terlibat dalam penilaian risiko dan ingatan soal fakta bahwa serangan pada negara yang memiliki hubungan dekat dengan AS bisa merusak solidaritas sekutu membuat tindakan unilateral Israel terhadap Saudi kurang mungkin tanpa koordinasi atau setidaknya pembicaraan tingkat tinggi.
Meski demikian, ketidakpastian politik Amerika dan preferensi kebijakan berbeda bisa memengaruhi seberapa tegas AS akan menahan tindakan semacam itu.
4. Alasan untuk Menjadi Target
Riyadh sejauh ini berupaya menjaga jarak dari konfrontasi langsung dengan Israel meskipun ketegangan politik dan kecaman publik meningkat setelah beberapa serangan Israel yang dianggap melanggar norma, misalnya serangan di Doha.
Saudi memiliki kepentingan strategis menjaga stabilitas domestik dan ekonomi, termasuk proyek Vision 2030 yang sensitif terhadap gangguan geopolitik.
Saudi juga meningkatkan kapasitas pertahanan udara dan mencari jaminan strategis dari mitra global.
Agar Saudi menjadi sasaran militer Israel, Riyadh harus dipersepsikan sebagai lokasi aktif bagi operasi yang secara langsung mengancam Israel, misalnya pusat kendali serangan besar atau transit senjata strategis, skenario yang, sampai pertengahan 2025, belum menjadi narasi dominan di laporan terbuka.
5. Dampak Politik-Diplomatik dan Ekonomi
Serangan terhadap Saudi akan memicu gempa diplomatik dan ekonomi: negara-negara Teluk lainnya mungkin bergerak mendekat ke Iran atau negara non-Barat untuk perlindungan, harga minyak bisa melonjak, dan solidaritas internasional terhadap Saudi akan memaksa reaksi keras di PBB dan forum multilateral.
Israel, yang di beberapa tahun terakhir terus berusaha memperluas dukungan diplomatik melalui normalisasi (Abraham Accords), akan mengincar risiko reputasi besar jika menyerang negara Teluk yang penting.
Lihat Juga :