Pemerintah China Perketat Kontrol atas Kuil dan Reinkarnasi Tibet
Minggu, 07 September 2025 - 13:30 WIB
loading...
A
A
A
Pasal 4 dari “Measures for the Administration of Tibetan Buddhist Temples” yang direvisi, efektif Januari 2025, mewajibkan kuil dan para biksu untuk secara terbuka menyatakan loyalitas kepada PKC dan mempromosikan “Sinifikasi” serta “nilai-nilai sosialis", yang secara efektif mengubah ruang keagamaan menjadi platform propaganda partai.
Sistem manajemen reinkarnasi tetap menjadi area pengawasan utama negara. Setelah Panchen Lama yang diidentifikasi oleh Dalai Lama ke-14 menghilang pada 1995, pihak China mendukung kandidat lain. Negara tetap menegaskan memiliki kewenangan untuk menyetujui reinkarnasi tokoh religius tinggi Tibet, yang memicu perhatian internasional.
Kebijakan pendidikan di wilayah Tibet juga menjadi sorotan global. Laporan PBB dan organisasi HAM memperkirakan lebih dari satu juta anak Tibet ditempatkan di sekolah asrama yang dikelola negara. Lembaga-lembaga ini umumnya menekankan pengajaran bahasa Mandarin dan kurikulum standar. Beberapa laporan menunjukkan bahasa, budaya, dan sejarah Tibet kurang diperhatikan, memicu kekhawatiran bagi pelestarian budaya.
Di biara-biara Tibet, sesi pendidikan patriotik rutin diterapkan untuk memperkuat keselarasan dengan nilai-nilai nasional. Berbagai sumber internasional melaporkan penggunaan teknologi pengawasan, termasuk CCTV, pengenalan wajah, drone, dan pelacakan ponsel, di dalam dan sekitar area monastik. Bentuk ekspresi religius tertentu—seperti menampilkan gambar Dalai Lama atau membawa bendera doa—dilaporkan dilarang di beberapa wilayah.
Sejumlah negara dan organisasi HAM internasional menyatakan keprihatinan. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menempatkan China sebagai salah satu negara dengan pembatasan signifikan terhadap kebebasan beragama. Laporan mencatat regulasi administratif, penahanan, dan penghapusan simbol keagamaan.
Pendidikan Patriotik
Sistem manajemen reinkarnasi tetap menjadi area pengawasan utama negara. Setelah Panchen Lama yang diidentifikasi oleh Dalai Lama ke-14 menghilang pada 1995, pihak China mendukung kandidat lain. Negara tetap menegaskan memiliki kewenangan untuk menyetujui reinkarnasi tokoh religius tinggi Tibet, yang memicu perhatian internasional.
Kebijakan pendidikan di wilayah Tibet juga menjadi sorotan global. Laporan PBB dan organisasi HAM memperkirakan lebih dari satu juta anak Tibet ditempatkan di sekolah asrama yang dikelola negara. Lembaga-lembaga ini umumnya menekankan pengajaran bahasa Mandarin dan kurikulum standar. Beberapa laporan menunjukkan bahasa, budaya, dan sejarah Tibet kurang diperhatikan, memicu kekhawatiran bagi pelestarian budaya.
Di biara-biara Tibet, sesi pendidikan patriotik rutin diterapkan untuk memperkuat keselarasan dengan nilai-nilai nasional. Berbagai sumber internasional melaporkan penggunaan teknologi pengawasan, termasuk CCTV, pengenalan wajah, drone, dan pelacakan ponsel, di dalam dan sekitar area monastik. Bentuk ekspresi religius tertentu—seperti menampilkan gambar Dalai Lama atau membawa bendera doa—dilaporkan dilarang di beberapa wilayah.
Sejumlah negara dan organisasi HAM internasional menyatakan keprihatinan. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menempatkan China sebagai salah satu negara dengan pembatasan signifikan terhadap kebebasan beragama. Laporan mencatat regulasi administratif, penahanan, dan penghapusan simbol keagamaan.
Lihat Juga :