Kenangan Perang Transformatif Ungkap Kisah Tiga Kota di China
Selasa, 02 September 2025 - 17:44 WIB
loading...
Wisatawan mengunjungi Museum Sejarah 9.18 di Shenyang, Provinsi Liaoning, China timur laut, pada 12 Agustus 2025. Foto/Xinhua/Wu Qinghao
A
A
A
BEIJING - Zhang Xin, seorang veteran perang, tak akan pernah melupakan hari ketika para agresor Jepang menyerah. Yan'an, basis revolusioner di China barat laut, diterangi oleh banyak lentera, sementara suara sorak-sorai, petasan, gong, dan genderang bergema sepanjang malam.
Di Chongqing, China barat daya, Long Qiming, seorang pilot, membawa keluarganya ke sebuah studio foto untuk berfoto bersama.
Sementara itu, di Shenyang, China timur laut, seorang tentara bernama Yang Huafeng berbisik: "Ayah, ibu, akhirnya kita menang."
Yan'an, Chongqing, dan Shenyang membentuk segitiga tumpul di peta China. Seperti ratusan kota lainnya, masing-masing menyimpan kenangan akan Perang Perlawanan Rakyat China Melawan Agresi Jepang, yang berlangsung dari tahun 1931 hingga 1945.
"Banyak rekan saya gugur melawan penjajah," kata Yang. "Kemenangan ini diraih dengan susah payah."
Pada 1945, China meraih kemenangan setelah 14 tahun perjuangan tanpa henti, yang menelan korban tewas dan luka-luka yang sangat besar, yakni 35 juta jiwa dari pihak militer dan sipil.
Selama Perang Anti-Fasis Dunia, China membendung dan melawan sebagian besar pasukan Jepang, menumpas lebih dari 1,5 juta tentara musuh.
Pada 18 September 1931, pasukan Jepang meledakkan satu bagian dari jalur kereta yang berada di bawah kendali mereka di dekat Shenyang, ibu kota Provinsi Liaoning, dan menuduh tentara China sebagai dalih untuk melancarkan serangan.
Malam itu, Jepang membombardir barak-barak di dekatnya, menandai dimulainya 14 tahun invasi Jepang.
Reruntuhan barak-barak tersebut kini telah dilestarikan. Terletak di satu gang yang tenang, gerbang abu-abu yang telah dibangun kembali tampak tidak memiliki bekas lubang-lubang peluru.
Namun, di tempat inilah tembakan-tembakan pertama dilepaskan dalam perang perlawanan, pada saat pemimpin Nazi Adolf Hitler masih meletakkan fondasi untuk "visinya" bagi Jerman setelah Depresi Besar.
"Jepang adalah sarang pertama Perang Fasis Dunia," ujar Li Donglang, seorang profesor di Sekolah Partai Komite Sentral Partai Komunis China (Communist Party of China/CPC) (Akademi Tata Kelola Nasional). "Oleh karena itu, Insiden 18 September menandai dimulainya perjuangan global melawan Fasisme."
Setelah merebut Shenyang dan kemudian seluruh Provinsi Liaoning, Jepang segera menguasai seluruh China timur laut, termasuk Jilin dan Heilongjiang. Namun, perlawanan tak pernah berhenti.
Di pusat kota Shenyang yang ramai, satu gang dengan rumah gerbang (gatehouse) yang dibangun dari batu bata tampak biasa saja di antara gedung-gedung tinggi.
Namun, inilah Fu'an Lane, yang dulunya merupakan lokasi komite CPC setempat, di mana satu deklarasi dikeluarkan oleh CPC pada hari kedua setelah Insiden 18 September. Deklarasi ini diakui sebagai deklarasi pertama yang menentang penjajah Jepang.
Yang Huafeng, yang lahir pada 1933, masih ingat keberanian para gerilyawan di China timur laut saat itu.
"Jumlah mereka paling banyak hanya dua atau tiga ratus orang. Setiap kali melihat satu unit kecil pasukan Jepang, mereka langsung menghabisi mereka," kenangnya.
Veteran perang Yang Huafeng menceritakan kisah masa mudanya di Shenyang, Provinsi Liaoning, China timur laut, pada 30 Juni 2025. Foto/Xinhua/Pan Yulong
Karena kekurangan senjata, para pejuang membuat sendiri atau menggunakan senjata yang berhasil dirampas dari tentara Jepang.
Yang, yang kemudian bergabung dengan pasukan gerilya, berasal dari satu desa di Provinsi Heilongjiang.
Ayahnya ditangkap oleh pasukan Jepang dan dipaksa bekerja sebagai buruh. Saat diinterogasi, ayahnya menyatakan, "Saya orang China!" Akibatnya, dia dipukuli hingga tewas.
Ibunya ditembak mati saat mencoba menyelamatkan barang-barang dari rumah mereka yang terbakar.
Pada 1936, Zhang Xueliang, yang saat itu menjadi komandan tentara timur laut China yang mundur dari Shenyang, menyandera pemimpin Kuomintang, Chiang Kai-shek, dan meminta dia menghentikan perang saudara dan bersatu dengan CPC untuk melawan agresi Jepang.
Pada 1937, Jepang menyerang Beijing, menandai invasi besar-besaran ke China.
Di medan-medan perang utama, China yang miskin tidak sebanding dengan Jepang yang telah maju dalam hal industri, yang memiliki produksi baja lebih dari 140 kali lipat dibanding produksi China.
Setelah Beijing, kota-kota besar lainnya, seperti Shanghai, Nanjing, dan Wuhan, berturut-turut jatuh dengan cepat.
Akibatnya, ibu kota negara dipindahkan dari Nanjing di China timur ke Chongqing di China barat daya.
Migrasi massal pun terjadi, bahkan melampaui skala Dunkirk. "Sekitar 80 juta atau bahkan hampir 100 juta warga China, sekitar 15 hingga 20 persen dari seluruh populasi, bermigrasi," tulis sejarawan Inggris Rana Mitter dalam bukunya "Forgotten Ally: China's World War II, 1937-1945."
Para pengungsi dievakuasi dari Nanjing, tetapi 300.000 orang yang gagal melarikan diri dibantai oleh penjajah Jepang.
Sementara itu, universitas, pabrik, dan lembaga penelitian dari daerah-daerah pesisir direlokasi ke China barat daya, yang memungkinkan mereka melanjutkan perlawanan.
Dalam upaya menaklukkan China, pesawat-pesawat tempur Jepang mengebom Chongqing selama enam tahun, menewaskan dan melukai lebih dari 32.000 penduduk dan menghancurkan 17.000 rumah.
Su Yuankui, kini berusia 92 tahun, mengenang 5 Juni 1941 sebagai hari ketika dirinya kehilangan kedua saudara perempuannya di Chongqing.
Saat itu, Su baru berusia delapan tahun dan sedang makan malam ketika sirene meraung-raung.
Keluarganya bergegas ke tempat perlindungan, tetapi ketika semakin banyak orang berdatangan, Su terpisah, terhimpit di antara kerumunan, dan kemudian pingsan.
"Ketika saya bangun keesokan harinya, saya dikelilingi banyak jenazah," kenangnya.
Kedua saudara perempuannya termasuk di antara lebih dari 1.000 korban yang meninggal karena sesak napas dan terinjak-injak dalam peristiwa yang kemudian digambarkan sebagai salah satu tragedi serangan udara paling mematikan dalam Perang Dunia II.
Untuk bertahan hidup dari serangan bom Jepang, penduduk Chongqing menggali lebih dari 1.600 tempat perlindungan dari serangan udara di seluruh kota tersebut, salah satu upaya terbesar selama Perang Dunia II.
Di situs yang terdapat lubang raksasa tersebut, satu monumen kemudian didirikan dengan huruf-huruf besar yang berarti Benteng Spiritual.
Chongqing menjadi pusat komando Perang Anti-Fasis Dunia di Timur Jauh. Di pusat kota tersebut terdapat satu rumah yang dibangun dari batu bata berwarna abu-abu, yang merupakan bekas kediaman Jenderal Amerika Serikat (AS) Joseph Stilwell, komandan pasukan AS di Palagan China-Burma-India.
Di sinilah Stilwell berkoordinasi dengan para pemimpin China.
Keputusan-keputusan penting dibuat di sana, termasuk pengiriman 100.000 tentara ekspedisi China ke Myanmar untuk berperang melawan pasukan Jepang bersama Sekutu, dan meluncurkan pengangkutan udara The Hump, rute penting untuk pengiriman melalui udara melintasi Himalaya sekaligus cara utama Sekutu mengirimkan pasokan kargo dan personel ke China antara tahun 1942 dan 1945.
Ayah Long Wenwei, Long Qiming, yang berasal dari Hong Kong, bergabung dengan Angkatan Udara China.
"Ayah saya bilang mereka terbang di (rute) The Hump hampir setiap hari. Cuaca buruk dan pesawat tempur Jepang menjadi penyebab jatuhnya banyak pesawat," ungkap Long, yang kini berusia 81 tahun.
Dari 28 peserta pelatihan China dalam kelompok ayahnya, hanya beberapa yang selamat. "Banyak yang sarapan bersamanya tidak kembali pada malam harinya," ujar dia.
Kemudian, ayahnya ditugaskan ke unit pengebom. Dalam satu serangan ke gudang pasokan Jepang di Myanmar, dia menukik rendah untuk melepaskan bomnya dengan presisi. Sekembalinya, ekor pesawatnya dipenuhi 14 lubang peluru.
Di satu gua di atas bukit di Yan'an, Mao Zedong menulis esainya yang terkenal "Tentang Perang yang Berkepanjangan" (On Protracted War), yang menjadi panduan strategis untuk perlawanan.
“Musuh tidak dapat mencaplok habis seluruh China, meski bisa menduduki banyak wilayah untuk sementara. China memang tidak dapat dengan cepat mengusir penjajah, namun sebagian besar tanah akan tetap menjadi milik kita. Pada akhirnya, musuh akan dikalahkan, meski melalui perjuangan yang berat,” tulis Mao.
"Selama perang, CPC menerapkan strategi perlawanan total dan perang berkepanjangan, memimpin perang gerilya, membangun basis revolusioner, serta menggerakkan massa," ujar Tan Huwa, profesor di Universitas Yan'an.
![Kenangan Perang Transformatif Ungkap Kisah Tiga Kota di China]()
Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone ini menunjukkan lanskap Kota Yan'an, Provinsi Shaanxi, China barat laut, pada 3 Juni 2025. Foto/Xinhua/Zhang Bowen
Pada 1941, Zhang Xin yang kala itu berusia 14 tahun bergabung dengan Tentara Rute Kedelapan, dengan para pejuang China mengandalkan taktik gerilya.
"Jepang menduduki banyak kota, jadi kami bergerak ke pedesaan untuk membangun basis revolusioner. Wilayah pedesaan sangat luas," papar dia. "Siang hari kami berada di desa, malam hari kami berperang melawan musuh."
Meski persenjataan terbatas, pasukan China tetap bertahan. "Para perwira selalu memimpin di garis depan," ujar Zhang. "Saya masih muda, dan ketika mundur, komandan kadang mengizinkan saya naik kudanya."
Unit Zhang pernah menghadapi dua operasi penyapuan berskala besar di China utara. Dalam operasi terburuk, mereka harus berjalan dua hari dua malam untuk lolos. Banyak kawan seperjuangan yang gugur. Dari 1.500 orang, tak sampai 800 yang selamat.
Di Laishui, Provinsi Hebei, sepuluh prajurit bertahan untuk menutupi mundurnya pasukan. Memilih mati daripada ditangkap, mereka bertahan sebelum akhirnya mengambil keputusan final untuk melompat ke jurang.
“Namun, meski kalah persenjataan, pasukan China berhasil menahan banyak tentara Jepang dan memberi keyakinan kepada warga bahwa tentara mereka masih berjuang, menjaga api asa agar tetap menyala,” tutur Zhang.
"Pasukan yang dipimpin CPC melancarkan perang gerilya yang gigih di belakang garis musuh, memperluas basis revolusioner, sekaligus mendukung garis depan," ujar Tan.
"Seiring berlanjutnya perang, Yan'an secara bertahap menjadi pusat komando, dan pasukan serta milisi yang dipimpin oleh CPC berhasil mengendalikan lebih dari 60 persen pasukan Jepang yang menyerbu China," papar Liu Fanchao, seorang pakar sejarah CPC di Yan'an.
Menjelang akhir perang pada 1945, basis-basis yang dipimpin CPC mencakup hampir satu juta kilometer persegi dan menjadi tempat tinggal sekitar 100 juta orang.
Ketika akhirnya tiba di Yan'an, Zhang menyaksikan semangat baru, yakni kampanye Produksi Besar (Great Production) untuk swasembada, pemilu langsung dan pemerintahan demokratis, hadirnya pemuda progresif dari seluruh negeri, hingga kedatangan jurnalis asing seperti Edgar Snow, penulis "Red Star Over China."
"Di Yan'an, masyarakat melihat semangat perjuangan dan tekad gigih untuk bertahan sampai akhir. Mereka percaya inilah tumpuan harapan China," ujar Li Zongyuan, kurator Museum CPC.
Banyak sejarawan menilai kemenangan total dalam Perang Dunia II menjadi awal kebangkitan China.
"Sejak 1840, China berulang kali mengalami invasi militer dari kekuatan imperialis, dan semua perang itu berakhir dengan kekalahan China," ujar sejarawan Wang Jianxue.
"Namun, perang melawan agresi Jepang ini untuk pertama kalinya menyatukan bangsa dan berakhir dengan kemenangan total, yang mengembalikan kepercayaan diri kami," tambahnya.
"Kemenangan itu menjadi titik awal bagi rakyat China menuju kemerdekaan, kemakmuran, dan kemajuan," kata Wang.
China kemudian menjadi anggota pendiri Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sekaligus anggota tetap Dewan Keamanan, menandai pertama kalinya dalam sejarah modern China ikut menentukan tatanan internasional sebagai kekuatan besar.
Setelah pensiun, pilot Long Qiming menetap di Chongqing dan terjun ke dunia usaha, memanfaatkan peluang dari reformasi dan keterbukaan China yang dimulai pada akhir 1970-an.
"Dia membantu menangani ekspor baja pertama di kota itu sebanyak 5.000 ton. Itu momen yang membanggakan," kenang putranya, Long Wenwei.
![Kenangan Perang Transformatif Ungkap Kisah Tiga Kota di China]()
Wisatawan mengunjungi Museum Stilwell Chongqing di Distrik Yuzhong, Chongqing, China barat daya, pada 23 Agustus 2025. Foto/Xinhua/Wang Quanchao
Kini, Chongqing menjadi gerbang penting perdagangan luar negeri China, yang difasilitasi dengan layanan jalur kereta China-Eropa dan Koridor Perdagangan Darat-Laut Internasional Baru.
Kawasan tempat monumen perang berdiri kini bertransformasi menjadi distrik bisnis yang ramai, dengan kedai yang menyajikan kopi Kolombia hingga butik yang menawarkan busana berkelas dari Eropa.
Veteran perang Yang Huafeng bersyukur cucu laki-lakinya diterima di program pascasarjana bergengsi di sebuah universitas di Hong Kong, sementara cucu perempuannya kembali ke China setelah menuntut ilmu di Amerika Serikat dan kini bekerja di satu perusahaan otomotif Jerman di Shenyang.
Veteran Zhang Xin kemudian menjadi salah satu anggota awal kru darat Angkatan Udara China.
Dia menyaksikan lompatan besar negaranya di bidang penerbangan, tidak hanya mampu memproduksi pesawat besar tetapi juga dapat memproduksi pesawat cerdas menggunakan teknologi robot dalam proses manufakturnya.
"Kenangan perang memberikan pelajaran pahit, bahwa keterbelakangan membuat kita rentan terhadap serangan. Hal itu juga berlaku di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita harus lebih unggul dari yang lain dan mempercepat inovasi teknologi," ungkap Ha Enjing, manajer di Siasun Robot & Automation Co., Ltd., perusahaan robotika terkemuka di Shenyang yang kini melayani berbagai klien, seperti Rolls-Royce, dengan ekspor ke 40 lebih negara dan kawasan.
Yan'an yang dulu penuh pergolakan, kini penuh vitalitas. Di bagian selatan kota itu, yang semasa perang menjadi lokasi peluncuran kampanye swasembada, kota-kota kecil dan desa-desa mengalami perkembangan usaha yang pesat.
Desa Mafang, yang dulu dibelit kemiskinan, kini mengandalkan proyek perhotelan dan pengolahan makanan.
Tahun lalu, desa ini mencatatkan pendapatan per kapita yang dapat dibelanjakan (disposable income) sekitar 23.000 yuan (1 yuan = Rp2.291), naik 13.000 yuan hanya dalam waktu kurang dari satu dekade.
Di usia menjelang 100 tahun, Zhang Xin masih ingin mengunjungi kembali gua Yan'an, tempat dia dulu tinggal semasa perang.
"Rekan-rekan seperjuangan saya sudah tiada, tetapi cita-cita mereka tetap hidup," tuturnya. "Saya ingin katakan kepada mereka bahwa generasi muda kini sedang membangun China yang lebih kuat, negara yang tak akan ditindas oleh siapa pun, dan negara yang akan berkontribusi untuk menjaga perdamaian dunia."
Baca juga: Dari Genosida hingga Gentrifikasi: Rencana Trump Hapus Populasi Gaza Terungkap
Di Chongqing, China barat daya, Long Qiming, seorang pilot, membawa keluarganya ke sebuah studio foto untuk berfoto bersama.
Sementara itu, di Shenyang, China timur laut, seorang tentara bernama Yang Huafeng berbisik: "Ayah, ibu, akhirnya kita menang."
Yan'an, Chongqing, dan Shenyang membentuk segitiga tumpul di peta China. Seperti ratusan kota lainnya, masing-masing menyimpan kenangan akan Perang Perlawanan Rakyat China Melawan Agresi Jepang, yang berlangsung dari tahun 1931 hingga 1945.
"Banyak rekan saya gugur melawan penjajah," kata Yang. "Kemenangan ini diraih dengan susah payah."
Pada 1945, China meraih kemenangan setelah 14 tahun perjuangan tanpa henti, yang menelan korban tewas dan luka-luka yang sangat besar, yakni 35 juta jiwa dari pihak militer dan sipil.
Selama Perang Anti-Fasis Dunia, China membendung dan melawan sebagian besar pasukan Jepang, menumpas lebih dari 1,5 juta tentara musuh.
Awal Kesengsaraan
Pada 18 September 1931, pasukan Jepang meledakkan satu bagian dari jalur kereta yang berada di bawah kendali mereka di dekat Shenyang, ibu kota Provinsi Liaoning, dan menuduh tentara China sebagai dalih untuk melancarkan serangan.
Malam itu, Jepang membombardir barak-barak di dekatnya, menandai dimulainya 14 tahun invasi Jepang.
Reruntuhan barak-barak tersebut kini telah dilestarikan. Terletak di satu gang yang tenang, gerbang abu-abu yang telah dibangun kembali tampak tidak memiliki bekas lubang-lubang peluru.
Namun, di tempat inilah tembakan-tembakan pertama dilepaskan dalam perang perlawanan, pada saat pemimpin Nazi Adolf Hitler masih meletakkan fondasi untuk "visinya" bagi Jerman setelah Depresi Besar.
"Jepang adalah sarang pertama Perang Fasis Dunia," ujar Li Donglang, seorang profesor di Sekolah Partai Komite Sentral Partai Komunis China (Communist Party of China/CPC) (Akademi Tata Kelola Nasional). "Oleh karena itu, Insiden 18 September menandai dimulainya perjuangan global melawan Fasisme."
Setelah merebut Shenyang dan kemudian seluruh Provinsi Liaoning, Jepang segera menguasai seluruh China timur laut, termasuk Jilin dan Heilongjiang. Namun, perlawanan tak pernah berhenti.
Di pusat kota Shenyang yang ramai, satu gang dengan rumah gerbang (gatehouse) yang dibangun dari batu bata tampak biasa saja di antara gedung-gedung tinggi.
Namun, inilah Fu'an Lane, yang dulunya merupakan lokasi komite CPC setempat, di mana satu deklarasi dikeluarkan oleh CPC pada hari kedua setelah Insiden 18 September. Deklarasi ini diakui sebagai deklarasi pertama yang menentang penjajah Jepang.
Yang Huafeng, yang lahir pada 1933, masih ingat keberanian para gerilyawan di China timur laut saat itu.
"Jumlah mereka paling banyak hanya dua atau tiga ratus orang. Setiap kali melihat satu unit kecil pasukan Jepang, mereka langsung menghabisi mereka," kenangnya.

Veteran perang Yang Huafeng menceritakan kisah masa mudanya di Shenyang, Provinsi Liaoning, China timur laut, pada 30 Juni 2025. Foto/Xinhua/Pan Yulong
Karena kekurangan senjata, para pejuang membuat sendiri atau menggunakan senjata yang berhasil dirampas dari tentara Jepang.
Yang, yang kemudian bergabung dengan pasukan gerilya, berasal dari satu desa di Provinsi Heilongjiang.
Ayahnya ditangkap oleh pasukan Jepang dan dipaksa bekerja sebagai buruh. Saat diinterogasi, ayahnya menyatakan, "Saya orang China!" Akibatnya, dia dipukuli hingga tewas.
Ibunya ditembak mati saat mencoba menyelamatkan barang-barang dari rumah mereka yang terbakar.
Pada 1936, Zhang Xueliang, yang saat itu menjadi komandan tentara timur laut China yang mundur dari Shenyang, menyandera pemimpin Kuomintang, Chiang Kai-shek, dan meminta dia menghentikan perang saudara dan bersatu dengan CPC untuk melawan agresi Jepang.
Ketabahan dan Pengorbanan
Pada 1937, Jepang menyerang Beijing, menandai invasi besar-besaran ke China.
Di medan-medan perang utama, China yang miskin tidak sebanding dengan Jepang yang telah maju dalam hal industri, yang memiliki produksi baja lebih dari 140 kali lipat dibanding produksi China.
Setelah Beijing, kota-kota besar lainnya, seperti Shanghai, Nanjing, dan Wuhan, berturut-turut jatuh dengan cepat.
Akibatnya, ibu kota negara dipindahkan dari Nanjing di China timur ke Chongqing di China barat daya.
Migrasi massal pun terjadi, bahkan melampaui skala Dunkirk. "Sekitar 80 juta atau bahkan hampir 100 juta warga China, sekitar 15 hingga 20 persen dari seluruh populasi, bermigrasi," tulis sejarawan Inggris Rana Mitter dalam bukunya "Forgotten Ally: China's World War II, 1937-1945."
Para pengungsi dievakuasi dari Nanjing, tetapi 300.000 orang yang gagal melarikan diri dibantai oleh penjajah Jepang.
Sementara itu, universitas, pabrik, dan lembaga penelitian dari daerah-daerah pesisir direlokasi ke China barat daya, yang memungkinkan mereka melanjutkan perlawanan.
Dalam upaya menaklukkan China, pesawat-pesawat tempur Jepang mengebom Chongqing selama enam tahun, menewaskan dan melukai lebih dari 32.000 penduduk dan menghancurkan 17.000 rumah.
Su Yuankui, kini berusia 92 tahun, mengenang 5 Juni 1941 sebagai hari ketika dirinya kehilangan kedua saudara perempuannya di Chongqing.
Saat itu, Su baru berusia delapan tahun dan sedang makan malam ketika sirene meraung-raung.
Keluarganya bergegas ke tempat perlindungan, tetapi ketika semakin banyak orang berdatangan, Su terpisah, terhimpit di antara kerumunan, dan kemudian pingsan.
"Ketika saya bangun keesokan harinya, saya dikelilingi banyak jenazah," kenangnya.
Kedua saudara perempuannya termasuk di antara lebih dari 1.000 korban yang meninggal karena sesak napas dan terinjak-injak dalam peristiwa yang kemudian digambarkan sebagai salah satu tragedi serangan udara paling mematikan dalam Perang Dunia II.
Untuk bertahan hidup dari serangan bom Jepang, penduduk Chongqing menggali lebih dari 1.600 tempat perlindungan dari serangan udara di seluruh kota tersebut, salah satu upaya terbesar selama Perang Dunia II.
Di situs yang terdapat lubang raksasa tersebut, satu monumen kemudian didirikan dengan huruf-huruf besar yang berarti Benteng Spiritual.
Chongqing menjadi pusat komando Perang Anti-Fasis Dunia di Timur Jauh. Di pusat kota tersebut terdapat satu rumah yang dibangun dari batu bata berwarna abu-abu, yang merupakan bekas kediaman Jenderal Amerika Serikat (AS) Joseph Stilwell, komandan pasukan AS di Palagan China-Burma-India.
Di sinilah Stilwell berkoordinasi dengan para pemimpin China.
Keputusan-keputusan penting dibuat di sana, termasuk pengiriman 100.000 tentara ekspedisi China ke Myanmar untuk berperang melawan pasukan Jepang bersama Sekutu, dan meluncurkan pengangkutan udara The Hump, rute penting untuk pengiriman melalui udara melintasi Himalaya sekaligus cara utama Sekutu mengirimkan pasokan kargo dan personel ke China antara tahun 1942 dan 1945.
Ayah Long Wenwei, Long Qiming, yang berasal dari Hong Kong, bergabung dengan Angkatan Udara China.
"Ayah saya bilang mereka terbang di (rute) The Hump hampir setiap hari. Cuaca buruk dan pesawat tempur Jepang menjadi penyebab jatuhnya banyak pesawat," ungkap Long, yang kini berusia 81 tahun.
Dari 28 peserta pelatihan China dalam kelompok ayahnya, hanya beberapa yang selamat. "Banyak yang sarapan bersamanya tidak kembali pada malam harinya," ujar dia.
Kemudian, ayahnya ditugaskan ke unit pengebom. Dalam satu serangan ke gudang pasokan Jepang di Myanmar, dia menukik rendah untuk melepaskan bomnya dengan presisi. Sekembalinya, ekor pesawatnya dipenuhi 14 lubang peluru.
Mercu Suar Harapan
Di satu gua di atas bukit di Yan'an, Mao Zedong menulis esainya yang terkenal "Tentang Perang yang Berkepanjangan" (On Protracted War), yang menjadi panduan strategis untuk perlawanan.
“Musuh tidak dapat mencaplok habis seluruh China, meski bisa menduduki banyak wilayah untuk sementara. China memang tidak dapat dengan cepat mengusir penjajah, namun sebagian besar tanah akan tetap menjadi milik kita. Pada akhirnya, musuh akan dikalahkan, meski melalui perjuangan yang berat,” tulis Mao.
"Selama perang, CPC menerapkan strategi perlawanan total dan perang berkepanjangan, memimpin perang gerilya, membangun basis revolusioner, serta menggerakkan massa," ujar Tan Huwa, profesor di Universitas Yan'an.

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone ini menunjukkan lanskap Kota Yan'an, Provinsi Shaanxi, China barat laut, pada 3 Juni 2025. Foto/Xinhua/Zhang Bowen
Pada 1941, Zhang Xin yang kala itu berusia 14 tahun bergabung dengan Tentara Rute Kedelapan, dengan para pejuang China mengandalkan taktik gerilya.
"Jepang menduduki banyak kota, jadi kami bergerak ke pedesaan untuk membangun basis revolusioner. Wilayah pedesaan sangat luas," papar dia. "Siang hari kami berada di desa, malam hari kami berperang melawan musuh."
Meski persenjataan terbatas, pasukan China tetap bertahan. "Para perwira selalu memimpin di garis depan," ujar Zhang. "Saya masih muda, dan ketika mundur, komandan kadang mengizinkan saya naik kudanya."
Unit Zhang pernah menghadapi dua operasi penyapuan berskala besar di China utara. Dalam operasi terburuk, mereka harus berjalan dua hari dua malam untuk lolos. Banyak kawan seperjuangan yang gugur. Dari 1.500 orang, tak sampai 800 yang selamat.
Di Laishui, Provinsi Hebei, sepuluh prajurit bertahan untuk menutupi mundurnya pasukan. Memilih mati daripada ditangkap, mereka bertahan sebelum akhirnya mengambil keputusan final untuk melompat ke jurang.
“Namun, meski kalah persenjataan, pasukan China berhasil menahan banyak tentara Jepang dan memberi keyakinan kepada warga bahwa tentara mereka masih berjuang, menjaga api asa agar tetap menyala,” tutur Zhang.
"Pasukan yang dipimpin CPC melancarkan perang gerilya yang gigih di belakang garis musuh, memperluas basis revolusioner, sekaligus mendukung garis depan," ujar Tan.
"Seiring berlanjutnya perang, Yan'an secara bertahap menjadi pusat komando, dan pasukan serta milisi yang dipimpin oleh CPC berhasil mengendalikan lebih dari 60 persen pasukan Jepang yang menyerbu China," papar Liu Fanchao, seorang pakar sejarah CPC di Yan'an.
Menjelang akhir perang pada 1945, basis-basis yang dipimpin CPC mencakup hampir satu juta kilometer persegi dan menjadi tempat tinggal sekitar 100 juta orang.
Ketika akhirnya tiba di Yan'an, Zhang menyaksikan semangat baru, yakni kampanye Produksi Besar (Great Production) untuk swasembada, pemilu langsung dan pemerintahan demokratis, hadirnya pemuda progresif dari seluruh negeri, hingga kedatangan jurnalis asing seperti Edgar Snow, penulis "Red Star Over China."
"Di Yan'an, masyarakat melihat semangat perjuangan dan tekad gigih untuk bertahan sampai akhir. Mereka percaya inilah tumpuan harapan China," ujar Li Zongyuan, kurator Museum CPC.
Kejatuhan Musuh, Kebangkitan Bangsa
Banyak sejarawan menilai kemenangan total dalam Perang Dunia II menjadi awal kebangkitan China.
"Sejak 1840, China berulang kali mengalami invasi militer dari kekuatan imperialis, dan semua perang itu berakhir dengan kekalahan China," ujar sejarawan Wang Jianxue.
"Namun, perang melawan agresi Jepang ini untuk pertama kalinya menyatukan bangsa dan berakhir dengan kemenangan total, yang mengembalikan kepercayaan diri kami," tambahnya.
"Kemenangan itu menjadi titik awal bagi rakyat China menuju kemerdekaan, kemakmuran, dan kemajuan," kata Wang.
China kemudian menjadi anggota pendiri Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sekaligus anggota tetap Dewan Keamanan, menandai pertama kalinya dalam sejarah modern China ikut menentukan tatanan internasional sebagai kekuatan besar.
Setelah pensiun, pilot Long Qiming menetap di Chongqing dan terjun ke dunia usaha, memanfaatkan peluang dari reformasi dan keterbukaan China yang dimulai pada akhir 1970-an.
"Dia membantu menangani ekspor baja pertama di kota itu sebanyak 5.000 ton. Itu momen yang membanggakan," kenang putranya, Long Wenwei.

Wisatawan mengunjungi Museum Stilwell Chongqing di Distrik Yuzhong, Chongqing, China barat daya, pada 23 Agustus 2025. Foto/Xinhua/Wang Quanchao
Kini, Chongqing menjadi gerbang penting perdagangan luar negeri China, yang difasilitasi dengan layanan jalur kereta China-Eropa dan Koridor Perdagangan Darat-Laut Internasional Baru.
Kawasan tempat monumen perang berdiri kini bertransformasi menjadi distrik bisnis yang ramai, dengan kedai yang menyajikan kopi Kolombia hingga butik yang menawarkan busana berkelas dari Eropa.
Veteran perang Yang Huafeng bersyukur cucu laki-lakinya diterima di program pascasarjana bergengsi di sebuah universitas di Hong Kong, sementara cucu perempuannya kembali ke China setelah menuntut ilmu di Amerika Serikat dan kini bekerja di satu perusahaan otomotif Jerman di Shenyang.
Veteran Zhang Xin kemudian menjadi salah satu anggota awal kru darat Angkatan Udara China.
Dia menyaksikan lompatan besar negaranya di bidang penerbangan, tidak hanya mampu memproduksi pesawat besar tetapi juga dapat memproduksi pesawat cerdas menggunakan teknologi robot dalam proses manufakturnya.
"Kenangan perang memberikan pelajaran pahit, bahwa keterbelakangan membuat kita rentan terhadap serangan. Hal itu juga berlaku di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita harus lebih unggul dari yang lain dan mempercepat inovasi teknologi," ungkap Ha Enjing, manajer di Siasun Robot & Automation Co., Ltd., perusahaan robotika terkemuka di Shenyang yang kini melayani berbagai klien, seperti Rolls-Royce, dengan ekspor ke 40 lebih negara dan kawasan.
Yan'an yang dulu penuh pergolakan, kini penuh vitalitas. Di bagian selatan kota itu, yang semasa perang menjadi lokasi peluncuran kampanye swasembada, kota-kota kecil dan desa-desa mengalami perkembangan usaha yang pesat.
Desa Mafang, yang dulu dibelit kemiskinan, kini mengandalkan proyek perhotelan dan pengolahan makanan.
Tahun lalu, desa ini mencatatkan pendapatan per kapita yang dapat dibelanjakan (disposable income) sekitar 23.000 yuan (1 yuan = Rp2.291), naik 13.000 yuan hanya dalam waktu kurang dari satu dekade.
Di usia menjelang 100 tahun, Zhang Xin masih ingin mengunjungi kembali gua Yan'an, tempat dia dulu tinggal semasa perang.
"Rekan-rekan seperjuangan saya sudah tiada, tetapi cita-cita mereka tetap hidup," tuturnya. "Saya ingin katakan kepada mereka bahwa generasi muda kini sedang membangun China yang lebih kuat, negara yang tak akan ditindas oleh siapa pun, dan negara yang akan berkontribusi untuk menjaga perdamaian dunia."
Baca juga: Dari Genosida hingga Gentrifikasi: Rencana Trump Hapus Populasi Gaza Terungkap
(sya)
Lihat Juga :