Dari Genosida hingga Gentrifikasi: Rencana Trump Hapus Populasi Gaza Terungkap

Selasa, 02 September 2025 - 16:10 WIB
loading...
Dari Genosida hingga...
Pemandangan kehancuran dari perbatasan Gaza di Israel seiring berlanjutnya serangan Israel di Gaza pada 24 Agustus 2025. Foto/Tsafrir Abayov/Anadolu Agency
A A A
JALUR GAZA - Proposal pembersihan etnis terbaru yang menargetkan warga Palestina di Gaza telah muncul dalam bentuk inisiatif rekonstruksi pascaperang yang didukung pemerintahan Presiden Donald Trump. Dijuluki "GREAT Trust" (Rekonstitusi Gaza, Akselerasi dan Transformasi Ekonomi), rencana tersebut membayangkan apa yang disebut sebagai kepergian "sukarela" seluruh penduduk Gaza, dengan insentif tunai yang ditawarkan sebagai insentif.

Rencana tersebut digambarkan tidak lebih dari pemindahan paksa dengan kedok pembangunan kemanusiaan, melanggar hukum internasional dan melanggengkan penghapusan sistematis rakyat Palestina.

Dokumen setebal 38 halaman tersebut, yang ditinjau Washington Post dan dikembangkan tokoh-tokoh yang terlibat dalam Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang kontroversial, mengusulkan relokasi lebih dari dua juta penduduk Gaza ke negara ketiga atau ke zona internal terlarang selama masa perwalian yang diproyeksikan berlangsung selama 10 tahun di bawah administrasi AS.

Warga Palestina yang setuju untuk pergi akan menerima pembayaran sekaligus sebesar USD5.000 dan subsidi sewa serta makanan selama empat tahun, sementara tanah mereka akan dijadikan jaminan untuk pembangunan mewah, termasuk apa yang disebut dalam rencana tersebut sebagai "Gaza Trump Riviera".

Dibingkai sebagai visi transformatif untuk wilayah kantong tersebut, rencana tersebut telah dijual kepada investor dengan janji pengembalian hampir empat kali lipat dari investasi USD100 miliar.

Namun, di balik citra kota pintar dan resor pantai yang gemerlap, terdapat agenda untuk membongkar realitas demografi Gaza, mereduksi penduduknya menjadi hambatan sekali pakai yang harus disingkirkan dan digantikan oleh proyek-proyek perkotaan bergaya Barat yang melayani kepentingan elit regional.

Para kritikus mengatakan inisiatif tersebut didasarkan pada fondasi ideologis yang sama dengan proyek-proyek kolonial pemukim sebelumnya, menawarkan kompensasi finansial sebagai kedok pembersihan etnis, sambil membingkai pendudukan militer dalam bahasa modernisasi dan peluang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Gunakan Mode Autopilot,...
Gunakan Mode Autopilot, Mobil Tesla Ini Malah Tabrak Rumah dan Tewaskan Penghuninya
Mengejutkan, 92% Warga...
Mengejutkan, 92% Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Perundingan Iran-AS...
Perundingan Iran-AS Hasilkan 4 Kesepakatan Utama, Negosiator Teheran Sempat Walkout
Jenderal Iran Peringatkan...
Jenderal Iran Peringatkan Pasukan Israel: Tinggalkan Lebanon atau Diusir Secara Memalukan!
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Negosiator Iran dan...
Negosiator Iran dan AS Bertemu di Jenewa untuk Babak Baru Pembicaraan Demi Akhiri Perang
Selat Hormuz Ditutup...
Selat Hormuz Ditutup Lagi, Trump Ancam Lenyapkan Iran
Rekomendasi
Doa Anak Yatim Diyakini...
Doa Anak Yatim Diyakini Mustajab, Benarkah?
Raja Charles III Dikabarkan...
Raja Charles III Dikabarkan Akan Bertemu Archie dan Lilibet, Isyarat Damai Keluarga Kerajaan?
Rosan Roeslani: Dukungan...
Rosan Roeslani: Dukungan Prabowo Jadi Kunci Lahirnya Juara Dunia
Berita Terkini
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Mundur, Krisis Politik Berlanjut
Iran Menang Banyak!...
Iran Menang Banyak! Sanksi Dicabut dan Diizinkan Ekspor Minyak
Profil Abelardo De La...
Profil Abelardo De La Espriella, Pengacara Berjam Tangan Mewah yang Jadi Presiden Baru Kolombia
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved