Kenangan Perang Transformatif Ungkap Kisah Tiga Kota di China

Selasa, 02 September 2025 - 17:44 WIB
loading...
A A A
"Pasukan yang dipimpin CPC melancarkan perang gerilya yang gigih di belakang garis musuh, memperluas basis revolusioner, sekaligus mendukung garis depan," ujar Tan.

"Seiring berlanjutnya perang, Yan'an secara bertahap menjadi pusat komando, dan pasukan serta milisi yang dipimpin oleh CPC berhasil mengendalikan lebih dari 60 persen pasukan Jepang yang menyerbu China," papar Liu Fanchao, seorang pakar sejarah CPC di Yan'an.

Menjelang akhir perang pada 1945, basis-basis yang dipimpin CPC mencakup hampir satu juta kilometer persegi dan menjadi tempat tinggal sekitar 100 juta orang.

Ketika akhirnya tiba di Yan'an, Zhang menyaksikan semangat baru, yakni kampanye Produksi Besar (Great Production) untuk swasembada, pemilu langsung dan pemerintahan demokratis, hadirnya pemuda progresif dari seluruh negeri, hingga kedatangan jurnalis asing seperti Edgar Snow, penulis "Red Star Over China."

"Di Yan'an, masyarakat melihat semangat perjuangan dan tekad gigih untuk bertahan sampai akhir. Mereka percaya inilah tumpuan harapan China," ujar Li Zongyuan, kurator Museum CPC.

Kejatuhan Musuh, Kebangkitan Bangsa


Banyak sejarawan menilai kemenangan total dalam Perang Dunia II menjadi awal kebangkitan China.

"Sejak 1840, China berulang kali mengalami invasi militer dari kekuatan imperialis, dan semua perang itu berakhir dengan kekalahan China," ujar sejarawan Wang Jianxue.

"Namun, perang melawan agresi Jepang ini untuk pertama kalinya menyatukan bangsa dan berakhir dengan kemenangan total, yang mengembalikan kepercayaan diri kami," tambahnya.

"Kemenangan itu menjadi titik awal bagi rakyat China menuju kemerdekaan, kemakmuran, dan kemajuan," kata Wang.

China kemudian menjadi anggota pendiri Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sekaligus anggota tetap Dewan Keamanan, menandai pertama kalinya dalam sejarah modern China ikut menentukan tatanan internasional sebagai kekuatan besar.

Setelah pensiun, pilot Long Qiming menetap di Chongqing dan terjun ke dunia usaha, memanfaatkan peluang dari reformasi dan keterbukaan China yang dimulai pada akhir 1970-an.

"Dia membantu menangani ekspor baja pertama di kota itu sebanyak 5.000 ton. Itu momen yang membanggakan," kenang putranya, Long Wenwei.

Kenangan Perang Transformatif Ungkap Kisah Tiga Kota di China

Wisatawan mengunjungi Museum Stilwell Chongqing di Distrik Yuzhong, Chongqing, China barat daya, pada 23 Agustus 2025. Foto/Xinhua/Wang Quanchao

Kini, Chongqing menjadi gerbang penting perdagangan luar negeri China, yang difasilitasi dengan layanan jalur kereta China-Eropa dan Koridor Perdagangan Darat-Laut Internasional Baru.

Kawasan tempat monumen perang berdiri kini bertransformasi menjadi distrik bisnis yang ramai, dengan kedai yang menyajikan kopi Kolombia hingga butik yang menawarkan busana berkelas dari Eropa.

Veteran perang Yang Huafeng bersyukur cucu laki-lakinya diterima di program pascasarjana bergengsi di sebuah universitas di Hong Kong, sementara cucu perempuannya kembali ke China setelah menuntut ilmu di Amerika Serikat dan kini bekerja di satu perusahaan otomotif Jerman di Shenyang.

Veteran Zhang Xin kemudian menjadi salah satu anggota awal kru darat Angkatan Udara China.

Dia menyaksikan lompatan besar negaranya di bidang penerbangan, tidak hanya mampu memproduksi pesawat besar tetapi juga dapat memproduksi pesawat cerdas menggunakan teknologi robot dalam proses manufakturnya.

"Kenangan perang memberikan pelajaran pahit, bahwa keterbelakangan membuat kita rentan terhadap serangan. Hal itu juga berlaku di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita harus lebih unggul dari yang lain dan mempercepat inovasi teknologi," ungkap Ha Enjing, manajer di Siasun Robot & Automation Co., Ltd., perusahaan robotika terkemuka di Shenyang yang kini melayani berbagai klien, seperti Rolls-Royce, dengan ekspor ke 40 lebih negara dan kawasan.

Yan'an yang dulu penuh pergolakan, kini penuh vitalitas. Di bagian selatan kota itu, yang semasa perang menjadi lokasi peluncuran kampanye swasembada, kota-kota kecil dan desa-desa mengalami perkembangan usaha yang pesat.

Desa Mafang, yang dulu dibelit kemiskinan, kini mengandalkan proyek perhotelan dan pengolahan makanan.

Tahun lalu, desa ini mencatatkan pendapatan per kapita yang dapat dibelanjakan (disposable income) sekitar 23.000 yuan (1 yuan = Rp2.291), naik 13.000 yuan hanya dalam waktu kurang dari satu dekade.

Di usia menjelang 100 tahun, Zhang Xin masih ingin mengunjungi kembali gua Yan'an, tempat dia dulu tinggal semasa perang.

"Rekan-rekan seperjuangan saya sudah tiada, tetapi cita-cita mereka tetap hidup," tuturnya. "Saya ingin katakan kepada mereka bahwa generasi muda kini sedang membangun China yang lebih kuat, negara yang tak akan ditindas oleh siapa pun, dan negara yang akan berkontribusi untuk menjaga perdamaian dunia."

Baca juga: Dari Genosida hingga Gentrifikasi: Rencana Trump Hapus Populasi Gaza Terungkap
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Elon Musk Triliuner...
Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia, Kekayaannya Rp19.706,5 Triliun Setara 73 Kali Anggaran MBG
Pesona China yang Berbeda:...
Pesona China yang Berbeda: Eksplor Keunikan Infrastruktur Chongqing dan Alam Zhangjiajie
Laporan SIPRI: India...
Laporan SIPRI: India untuk Pertama Kalinya Kerahkan Senjata Berhulu Ledak Nuklir
Brutal! Geng Narkoba...
Brutal! Geng Narkoba Tembak Mati 5 Polisi Jelang Pembukaan Piala Dunia di Meksiko
Rekomendasi
Perlukah Melakukan Resolusi...
Perlukah Melakukan Resolusi Hidup di Tahun Baru Islam?
Sambut Libur Sekolah,...
Sambut Libur Sekolah, Jasa Marga Optimalkan One Call Center 133
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Berita Terkini
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Infografis
Daftar Skuad Timnas...
Daftar Skuad Timnas Mesir di Piala Dunia 2026, Mohamed Salah Ujung Tombak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved