Kenangan Perang Transformatif Ungkap Kisah Tiga Kota di China

Selasa, 02 September 2025 - 17:44 WIB
loading...
Kenangan Perang Transformatif...
Wisatawan mengunjungi Museum Sejarah 9.18 di Shenyang, Provinsi Liaoning, China timur laut, pada 12 Agustus 2025. Foto/Xinhua/Wu Qinghao
A A A
BEIJING - Zhang Xin, seorang veteran perang, tak akan pernah melupakan hari ketika para agresor Jepang menyerah. Yan'an, basis revolusioner di China barat laut, diterangi oleh banyak lentera, sementara suara sorak-sorai, petasan, gong, dan genderang bergema sepanjang malam.

Di Chongqing, China barat daya, Long Qiming, seorang pilot, membawa keluarganya ke sebuah studio foto untuk berfoto bersama.

Sementara itu, di Shenyang, China timur laut, seorang tentara bernama Yang Huafeng berbisik: "Ayah, ibu, akhirnya kita menang."

Yan'an, Chongqing, dan Shenyang membentuk segitiga tumpul di peta China. Seperti ratusan kota lainnya, masing-masing menyimpan kenangan akan Perang Perlawanan Rakyat China Melawan Agresi Jepang, yang berlangsung dari tahun 1931 hingga 1945.

"Banyak rekan saya gugur melawan penjajah," kata Yang. "Kemenangan ini diraih dengan susah payah."

Pada 1945, China meraih kemenangan setelah 14 tahun perjuangan tanpa henti, yang menelan korban tewas dan luka-luka yang sangat besar, yakni 35 juta jiwa dari pihak militer dan sipil.

Selama Perang Anti-Fasis Dunia, China membendung dan melawan sebagian besar pasukan Jepang, menumpas lebih dari 1,5 juta tentara musuh.

Awal Kesengsaraan


Pada 18 September 1931, pasukan Jepang meledakkan satu bagian dari jalur kereta yang berada di bawah kendali mereka di dekat Shenyang, ibu kota Provinsi Liaoning, dan menuduh tentara China sebagai dalih untuk melancarkan serangan.

Malam itu, Jepang membombardir barak-barak di dekatnya, menandai dimulainya 14 tahun invasi Jepang.

Reruntuhan barak-barak tersebut kini telah dilestarikan. Terletak di satu gang yang tenang, gerbang abu-abu yang telah dibangun kembali tampak tidak memiliki bekas lubang-lubang peluru.

Namun, di tempat inilah tembakan-tembakan pertama dilepaskan dalam perang perlawanan, pada saat pemimpin Nazi Adolf Hitler masih meletakkan fondasi untuk "visinya" bagi Jerman setelah Depresi Besar.

"Jepang adalah sarang pertama Perang Fasis Dunia," ujar Li Donglang, seorang profesor di Sekolah Partai Komite Sentral Partai Komunis China (Communist Party of China/CPC) (Akademi Tata Kelola Nasional). "Oleh karena itu, Insiden 18 September menandai dimulainya perjuangan global melawan Fasisme."

Setelah merebut Shenyang dan kemudian seluruh Provinsi Liaoning, Jepang segera menguasai seluruh China timur laut, termasuk Jilin dan Heilongjiang. Namun, perlawanan tak pernah berhenti.

Di pusat kota Shenyang yang ramai, satu gang dengan rumah gerbang (gatehouse) yang dibangun dari batu bata tampak biasa saja di antara gedung-gedung tinggi.

Namun, inilah Fu'an Lane, yang dulunya merupakan lokasi komite CPC setempat, di mana satu deklarasi dikeluarkan oleh CPC pada hari kedua setelah Insiden 18 September. Deklarasi ini diakui sebagai deklarasi pertama yang menentang penjajah Jepang.

Yang Huafeng, yang lahir pada 1933, masih ingat keberanian para gerilyawan di China timur laut saat itu.
"Jumlah mereka paling banyak hanya dua atau tiga ratus orang. Setiap kali melihat satu unit kecil pasukan Jepang, mereka langsung menghabisi mereka," kenangnya.

Kenangan Perang Transformatif Ungkap Kisah Tiga Kota di China

Veteran perang Yang Huafeng menceritakan kisah masa mudanya di Shenyang, Provinsi Liaoning, China timur laut, pada 30 Juni 2025. Foto/Xinhua/Pan Yulong

Karena kekurangan senjata, para pejuang membuat sendiri atau menggunakan senjata yang berhasil dirampas dari tentara Jepang.

Yang, yang kemudian bergabung dengan pasukan gerilya, berasal dari satu desa di Provinsi Heilongjiang.

Ayahnya ditangkap oleh pasukan Jepang dan dipaksa bekerja sebagai buruh. Saat diinterogasi, ayahnya menyatakan, "Saya orang China!" Akibatnya, dia dipukuli hingga tewas.

Ibunya ditembak mati saat mencoba menyelamatkan barang-barang dari rumah mereka yang terbakar.

Pada 1936, Zhang Xueliang, yang saat itu menjadi komandan tentara timur laut China yang mundur dari Shenyang, menyandera pemimpin Kuomintang, Chiang Kai-shek, dan meminta dia menghentikan perang saudara dan bersatu dengan CPC untuk melawan agresi Jepang.

Ketabahan dan Pengorbanan


Pada 1937, Jepang menyerang Beijing, menandai invasi besar-besaran ke China.

Di medan-medan perang utama, China yang miskin tidak sebanding dengan Jepang yang telah maju dalam hal industri, yang memiliki produksi baja lebih dari 140 kali lipat dibanding produksi China.

Setelah Beijing, kota-kota besar lainnya, seperti Shanghai, Nanjing, dan Wuhan, berturut-turut jatuh dengan cepat.
Akibatnya, ibu kota negara dipindahkan dari Nanjing di China timur ke Chongqing di China barat daya.

Migrasi massal pun terjadi, bahkan melampaui skala Dunkirk. "Sekitar 80 juta atau bahkan hampir 100 juta warga China, sekitar 15 hingga 20 persen dari seluruh populasi, bermigrasi," tulis sejarawan Inggris Rana Mitter dalam bukunya "Forgotten Ally: China's World War II, 1937-1945."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Elon Musk Triliuner...
Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia, Kekayaannya Rp19.706,5 Triliun Setara 73 Kali Anggaran MBG
Trump Klaim AS Telah...
Trump Klaim AS Telah Bikin Kesepakatan Hebat dengan Iran, Teheran Bilang Belum!
Pesona China yang Berbeda:...
Pesona China yang Berbeda: Eksplor Keunikan Infrastruktur Chongqing dan Alam Zhangjiajie
3 Pelaut India Tewas...
3 Pelaut India Tewas Akibat Serangan Kapal Tanker oleh AS di Lepas Pantai Oman
Putri Bajrakitiyabha...
Putri Bajrakitiyabha Meninggal Dunia, Thailand Umumkan Masa Berkabung Nasional
Rekomendasi
Babak Baru Kasus Erin...
Babak Baru Kasus Erin Wartia, Pelapor Serahkan Dokumen LPSK ke Penyidik
AS Juara Piala Dunia...
AS Juara Piala Dunia 2026, Jeep Siap Bagi-bagi Mobil Wrangler
Pertamina Pangkas 124...
Pertamina Pangkas 124 Anak Usaha, Ada yang di Merger hingga Likuidasi
Berita Terkini
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Infografis
Daftar Skuad Timnas...
Daftar Skuad Timnas Mesir di Piala Dunia 2026, Mohamed Salah Ujung Tombak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved