Kenangan Perang Transformatif Ungkap Kisah Tiga Kota di China
Selasa, 02 September 2025 - 17:44 WIB
loading...
A
A
A
Para pengungsi dievakuasi dari Nanjing, tetapi 300.000 orang yang gagal melarikan diri dibantai oleh penjajah Jepang.
Sementara itu, universitas, pabrik, dan lembaga penelitian dari daerah-daerah pesisir direlokasi ke China barat daya, yang memungkinkan mereka melanjutkan perlawanan.
Dalam upaya menaklukkan China, pesawat-pesawat tempur Jepang mengebom Chongqing selama enam tahun, menewaskan dan melukai lebih dari 32.000 penduduk dan menghancurkan 17.000 rumah.
Su Yuankui, kini berusia 92 tahun, mengenang 5 Juni 1941 sebagai hari ketika dirinya kehilangan kedua saudara perempuannya di Chongqing.
Saat itu, Su baru berusia delapan tahun dan sedang makan malam ketika sirene meraung-raung.
Keluarganya bergegas ke tempat perlindungan, tetapi ketika semakin banyak orang berdatangan, Su terpisah, terhimpit di antara kerumunan, dan kemudian pingsan.
"Ketika saya bangun keesokan harinya, saya dikelilingi banyak jenazah," kenangnya.
Kedua saudara perempuannya termasuk di antara lebih dari 1.000 korban yang meninggal karena sesak napas dan terinjak-injak dalam peristiwa yang kemudian digambarkan sebagai salah satu tragedi serangan udara paling mematikan dalam Perang Dunia II.
Untuk bertahan hidup dari serangan bom Jepang, penduduk Chongqing menggali lebih dari 1.600 tempat perlindungan dari serangan udara di seluruh kota tersebut, salah satu upaya terbesar selama Perang Dunia II.
Di situs yang terdapat lubang raksasa tersebut, satu monumen kemudian didirikan dengan huruf-huruf besar yang berarti Benteng Spiritual.
Chongqing menjadi pusat komando Perang Anti-Fasis Dunia di Timur Jauh. Di pusat kota tersebut terdapat satu rumah yang dibangun dari batu bata berwarna abu-abu, yang merupakan bekas kediaman Jenderal Amerika Serikat (AS) Joseph Stilwell, komandan pasukan AS di Palagan China-Burma-India.
Di sinilah Stilwell berkoordinasi dengan para pemimpin China.
Keputusan-keputusan penting dibuat di sana, termasuk pengiriman 100.000 tentara ekspedisi China ke Myanmar untuk berperang melawan pasukan Jepang bersama Sekutu, dan meluncurkan pengangkutan udara The Hump, rute penting untuk pengiriman melalui udara melintasi Himalaya sekaligus cara utama Sekutu mengirimkan pasokan kargo dan personel ke China antara tahun 1942 dan 1945.
Ayah Long Wenwei, Long Qiming, yang berasal dari Hong Kong, bergabung dengan Angkatan Udara China.
"Ayah saya bilang mereka terbang di (rute) The Hump hampir setiap hari. Cuaca buruk dan pesawat tempur Jepang menjadi penyebab jatuhnya banyak pesawat," ungkap Long, yang kini berusia 81 tahun.
Dari 28 peserta pelatihan China dalam kelompok ayahnya, hanya beberapa yang selamat. "Banyak yang sarapan bersamanya tidak kembali pada malam harinya," ujar dia.
Kemudian, ayahnya ditugaskan ke unit pengebom. Dalam satu serangan ke gudang pasokan Jepang di Myanmar, dia menukik rendah untuk melepaskan bomnya dengan presisi. Sekembalinya, ekor pesawatnya dipenuhi 14 lubang peluru.
Di satu gua di atas bukit di Yan'an, Mao Zedong menulis esainya yang terkenal "Tentang Perang yang Berkepanjangan" (On Protracted War), yang menjadi panduan strategis untuk perlawanan.
“Musuh tidak dapat mencaplok habis seluruh China, meski bisa menduduki banyak wilayah untuk sementara. China memang tidak dapat dengan cepat mengusir penjajah, namun sebagian besar tanah akan tetap menjadi milik kita. Pada akhirnya, musuh akan dikalahkan, meski melalui perjuangan yang berat,” tulis Mao.
"Selama perang, CPC menerapkan strategi perlawanan total dan perang berkepanjangan, memimpin perang gerilya, membangun basis revolusioner, serta menggerakkan massa," ujar Tan Huwa, profesor di Universitas Yan'an.
![Kenangan Perang Transformatif Ungkap Kisah Tiga Kota di China]()
Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone ini menunjukkan lanskap Kota Yan'an, Provinsi Shaanxi, China barat laut, pada 3 Juni 2025. Foto/Xinhua/Zhang Bowen
Pada 1941, Zhang Xin yang kala itu berusia 14 tahun bergabung dengan Tentara Rute Kedelapan, dengan para pejuang China mengandalkan taktik gerilya.
"Jepang menduduki banyak kota, jadi kami bergerak ke pedesaan untuk membangun basis revolusioner. Wilayah pedesaan sangat luas," papar dia. "Siang hari kami berada di desa, malam hari kami berperang melawan musuh."
Meski persenjataan terbatas, pasukan China tetap bertahan. "Para perwira selalu memimpin di garis depan," ujar Zhang. "Saya masih muda, dan ketika mundur, komandan kadang mengizinkan saya naik kudanya."
Unit Zhang pernah menghadapi dua operasi penyapuan berskala besar di China utara. Dalam operasi terburuk, mereka harus berjalan dua hari dua malam untuk lolos. Banyak kawan seperjuangan yang gugur. Dari 1.500 orang, tak sampai 800 yang selamat.
Di Laishui, Provinsi Hebei, sepuluh prajurit bertahan untuk menutupi mundurnya pasukan. Memilih mati daripada ditangkap, mereka bertahan sebelum akhirnya mengambil keputusan final untuk melompat ke jurang.
“Namun, meski kalah persenjataan, pasukan China berhasil menahan banyak tentara Jepang dan memberi keyakinan kepada warga bahwa tentara mereka masih berjuang, menjaga api asa agar tetap menyala,” tutur Zhang.
Sementara itu, universitas, pabrik, dan lembaga penelitian dari daerah-daerah pesisir direlokasi ke China barat daya, yang memungkinkan mereka melanjutkan perlawanan.
Dalam upaya menaklukkan China, pesawat-pesawat tempur Jepang mengebom Chongqing selama enam tahun, menewaskan dan melukai lebih dari 32.000 penduduk dan menghancurkan 17.000 rumah.
Su Yuankui, kini berusia 92 tahun, mengenang 5 Juni 1941 sebagai hari ketika dirinya kehilangan kedua saudara perempuannya di Chongqing.
Saat itu, Su baru berusia delapan tahun dan sedang makan malam ketika sirene meraung-raung.
Keluarganya bergegas ke tempat perlindungan, tetapi ketika semakin banyak orang berdatangan, Su terpisah, terhimpit di antara kerumunan, dan kemudian pingsan.
"Ketika saya bangun keesokan harinya, saya dikelilingi banyak jenazah," kenangnya.
Kedua saudara perempuannya termasuk di antara lebih dari 1.000 korban yang meninggal karena sesak napas dan terinjak-injak dalam peristiwa yang kemudian digambarkan sebagai salah satu tragedi serangan udara paling mematikan dalam Perang Dunia II.
Untuk bertahan hidup dari serangan bom Jepang, penduduk Chongqing menggali lebih dari 1.600 tempat perlindungan dari serangan udara di seluruh kota tersebut, salah satu upaya terbesar selama Perang Dunia II.
Di situs yang terdapat lubang raksasa tersebut, satu monumen kemudian didirikan dengan huruf-huruf besar yang berarti Benteng Spiritual.
Chongqing menjadi pusat komando Perang Anti-Fasis Dunia di Timur Jauh. Di pusat kota tersebut terdapat satu rumah yang dibangun dari batu bata berwarna abu-abu, yang merupakan bekas kediaman Jenderal Amerika Serikat (AS) Joseph Stilwell, komandan pasukan AS di Palagan China-Burma-India.
Di sinilah Stilwell berkoordinasi dengan para pemimpin China.
Keputusan-keputusan penting dibuat di sana, termasuk pengiriman 100.000 tentara ekspedisi China ke Myanmar untuk berperang melawan pasukan Jepang bersama Sekutu, dan meluncurkan pengangkutan udara The Hump, rute penting untuk pengiriman melalui udara melintasi Himalaya sekaligus cara utama Sekutu mengirimkan pasokan kargo dan personel ke China antara tahun 1942 dan 1945.
Ayah Long Wenwei, Long Qiming, yang berasal dari Hong Kong, bergabung dengan Angkatan Udara China.
"Ayah saya bilang mereka terbang di (rute) The Hump hampir setiap hari. Cuaca buruk dan pesawat tempur Jepang menjadi penyebab jatuhnya banyak pesawat," ungkap Long, yang kini berusia 81 tahun.
Dari 28 peserta pelatihan China dalam kelompok ayahnya, hanya beberapa yang selamat. "Banyak yang sarapan bersamanya tidak kembali pada malam harinya," ujar dia.
Kemudian, ayahnya ditugaskan ke unit pengebom. Dalam satu serangan ke gudang pasokan Jepang di Myanmar, dia menukik rendah untuk melepaskan bomnya dengan presisi. Sekembalinya, ekor pesawatnya dipenuhi 14 lubang peluru.
Mercu Suar Harapan
Di satu gua di atas bukit di Yan'an, Mao Zedong menulis esainya yang terkenal "Tentang Perang yang Berkepanjangan" (On Protracted War), yang menjadi panduan strategis untuk perlawanan.
“Musuh tidak dapat mencaplok habis seluruh China, meski bisa menduduki banyak wilayah untuk sementara. China memang tidak dapat dengan cepat mengusir penjajah, namun sebagian besar tanah akan tetap menjadi milik kita. Pada akhirnya, musuh akan dikalahkan, meski melalui perjuangan yang berat,” tulis Mao.
"Selama perang, CPC menerapkan strategi perlawanan total dan perang berkepanjangan, memimpin perang gerilya, membangun basis revolusioner, serta menggerakkan massa," ujar Tan Huwa, profesor di Universitas Yan'an.

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone ini menunjukkan lanskap Kota Yan'an, Provinsi Shaanxi, China barat laut, pada 3 Juni 2025. Foto/Xinhua/Zhang Bowen
Pada 1941, Zhang Xin yang kala itu berusia 14 tahun bergabung dengan Tentara Rute Kedelapan, dengan para pejuang China mengandalkan taktik gerilya.
"Jepang menduduki banyak kota, jadi kami bergerak ke pedesaan untuk membangun basis revolusioner. Wilayah pedesaan sangat luas," papar dia. "Siang hari kami berada di desa, malam hari kami berperang melawan musuh."
Meski persenjataan terbatas, pasukan China tetap bertahan. "Para perwira selalu memimpin di garis depan," ujar Zhang. "Saya masih muda, dan ketika mundur, komandan kadang mengizinkan saya naik kudanya."
Unit Zhang pernah menghadapi dua operasi penyapuan berskala besar di China utara. Dalam operasi terburuk, mereka harus berjalan dua hari dua malam untuk lolos. Banyak kawan seperjuangan yang gugur. Dari 1.500 orang, tak sampai 800 yang selamat.
Di Laishui, Provinsi Hebei, sepuluh prajurit bertahan untuk menutupi mundurnya pasukan. Memilih mati daripada ditangkap, mereka bertahan sebelum akhirnya mengambil keputusan final untuk melompat ke jurang.
“Namun, meski kalah persenjataan, pasukan China berhasil menahan banyak tentara Jepang dan memberi keyakinan kepada warga bahwa tentara mereka masih berjuang, menjaga api asa agar tetap menyala,” tutur Zhang.
Lihat Juga :