Miliarder Yahudi George Soros, NED, dan Dugaan Dalang Demo Ricuh di Indonesia

Selasa, 02 September 2025 - 15:40 WIB
loading...
A A A
Pola yang berulang ini memperlihatkan fungsi ganda NED: bukan hanya mendukung “masyarakat sipil", tetapi juga menyiapkan kanal politik bagi kelompok oposisi untuk mendapat legitimasi internasional.

Arab Spring dan Revolusi Warna


Pada 2011, ketika gelombang revolusi Arab Spring mengguncang Timur Tengah, NED kembali menjadi sorotan. Gerakan 6 April di Mesir, aktivis Bahrain, hingga jaringan oposisi di Yaman disebut mendapat pelatihan maupun dana dari NED.

Kritik-kritik yang bermunculan menyebut bahwa lembaga ini tidak sekadar mendorong demokrasi, tetapi juga memperkuat agenda geopolitik AS untuk menata ulang peta kekuasaan regional. Fenomena serupa terlihat di Ukraina pada masa Euromaidan (2013–2014), di mana Rusia menuding NED sebagai motor penggulingan Viktor Yanukovych—klaim yang berujung pada pelarangan resmi NED di Rusia tahun 2015.

China pun mengambil langkah serupa. Setelah mendukung berbagai inisiatif di Tibet, Uyghur, dan Hong Kong, NED mendapat sanksi dari Beijing. Bagi pemerintah China, lembaga ini tak ubahnya “front intelijen” yang memicu instabilitas dengan membiayai protes pro-demokrasi.

Thailand dan Malaysia


Di Asia Tenggara, NED dikaitkan dengan protes besar di Thailand pada 2020. Kubu pro-pemerintah menuding adanya campur tangan asing melalui hibah NED, meski Kedutaan AS di Bangkok membantah.

Di Malaysia, aktivis senior Kua Kia Soong menyebut NED sebagai “soft power CIA” yang merusak independensi gerakan sipil. Fakta bahwa sebagian dana mengalir ke NGO oposisi, termasuk Suaram sejak 2002, memperkuat persepsi bahwa NED berperan dalam pergantian kekuasaan politik di negara itu.

Kritikus dari Amerika Latin hingga Asia menilai NED sebagai wajah baru intervensi AS. Sejarawan William Robinson mencatat bahwa dana NED di Nikaragua pada 1980-an digunakan untuk melatih elite pro-AS, membiayai media anti-pemerintah, hingga membentuk jaringan elit transnasional. Dengan kata lain, demokrasi yang didorong adalah "low-intensity democracy" yang tetap ramah pasar dan selaras dengan kepentingan geopolitik Washington.

Sebaliknya, para pendukung menyebut NED sebagai “nafas hidup” bagi aktivis pro-demokrasi di rezim represif. Jurnalis, serikat buruh, hingga aktivis HAM di berbagai belahan dunia menyatakan bahwa tanpa NED, suara mereka akan hilang tertelan represi.

Pada 2025, NED menghadapi ancaman serius bukan dari luar, melainkan dari dalam negeri AS. Miliarder Elon Musk, yang sempat memimpin Departemen Government Efficiency (DOGE) di bawah pemerintahan Trump kedua, menyebut NED sebagai “organisasi jahat penuh korupsi".

Pendanaan sempat diblokir, memaksa NED menangguhkan sebagian besar operasinya. Meski akhirnya pengadilan memberi akses kembali ke dana, peristiwa ini menandai retaknya konsensus bipartisan di Washington mengenai pentingnya “promosi demokrasi” sebagai instrumen kekuatan global AS.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Iran Dapat Rp5.360 Triliun...
Iran Dapat Rp5.360 Triliun Jadi Inti Kesepakatan dengan AS, tapi Siapa yang Bayar?
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
MoU Ditandatangani,...
MoU Ditandatangani, Iran Nyatakan Kemenangan Atas AS
Ledakan Dahsyat Guncang...
Ledakan Dahsyat Guncang Fasilitas Gas Qatar, Korban Berjatuhan
Rekomendasi
Diam-diam Jadi Pengusaha,...
Diam-diam Jadi Pengusaha, Anneth Delliecia Ternyata Punya Brand Kuku Sendiri?
Ketua BEM FH Abdimaludin...
Ketua BEM FH Abdimaludin Akui Terima Uang Rp20 Juta dari Alumni, Diberikan oleh Polisi
Yusril Prihatin Mahasiswa...
Yusril Prihatin Mahasiswa UBK Terima Uang usai Demo: Perjuangan Harus Murni dan Berintegritas
Berita Terkini
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan...
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan dalam Negosiasi dengan AS, Termasuk Aset Senilai Rp214 Triliun
Dosen Ini Donorkan Organnya...
Dosen Ini Donorkan Organnya untuk Selamatkan 5 Orang, Staf RS Berbaris Beri Penghormatan Terakhir
Infografis
10 Universitas Terbaik...
10 Universitas Terbaik di Indonesia Versi THE Asia University Rankings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved