Miliarder Yahudi George Soros, NED, dan Dugaan Dalang Demo Ricuh di Indonesia
Selasa, 02 September 2025 - 15:40 WIB
loading...
A
A
A
"Negara ini adalah negara Asia Tenggara pertama yang bergabung dengan BRICS dan telah secara terbuka bekerja sama dengan China dalam Belt and Road Initiative global China," paparnya.
Selain itu, Indonesia merupakan negara dengan ekonomi terbesar kedelapan di dunia dalam hal paritas daya beli (PPP), ekonomi terbesar di ASEAN, dan negara terpadat keempat, dengan hampir 300 juta penduduk.
"Dari sudut pandang imperialisme Barat, semua ini menjadi sasaran empuk bagi Indonesia, target yang sangat layak untuk diserang dengan revolusi warna yang direkayasa Barat," kata Brown.
Didirikan pada 1983 di bawah bayang-bayang Perang Dingin, NED lahir sebagai instrumen baru AS untuk “mempromosikan demokrasi". Namun sejak awal, perjalanan lembaga ini selalu dikelilingi kontroversi.
Dibiayai hampir sepenuhnya oleh anggaran Kongres AS, NED berfungsi sebagai yayasan hibah yang menyalurkan dana kepada organisasi masyarakat sipil, partai politik, serikat buruh, hingga media.
Tetapi, bagi banyak pihak—dari akademisi hingga pemerintah asing—NED lebih dari sekadar NGO atau LSM: ia dianggap perpanjangan tangan kebijakan luar negeri Washington yang kerap berperan dalam krisis politik lintas benua.
Penciptaan NED tidak bisa dilepaskan dari pengalaman pahit AS di era 1960-an dan 1970-an, ketika operasi rahasia Badan Intelijen Pusat (CIA) untuk mendukung kelompok oposisi di berbagai negara terkuak dan menimbulkan resistensi global.
Presiden Ronald Reagan saat berkuasa di AS, lewat pidatonya di Westminster tahun 1982, mendorong ide membangun “infrastruktur demokrasi” secara terbuka. Seperti diakui pendiri NED, Allen Weinstein, “Banyak hal yang kami lakukan hari ini dulunya dikerjakan secara tertutup oleh CIA.”
Dengan demikian, NED menjadi jalur “overt” untuk aktivitas yang sebelumnya bersifat “covert".
Jejak awal NED tampak di Panama tahun 1984, ketika lembaga ini mendanai aktivis yang mendukung kandidat Ardito Barletta. Tidak lama berselang, NED menyalurkan dana ke kalangan intelektual China lewat jurnal "The Chinese Intellectual", yang kemudian terlibat dalam arus intelektual pro-demokrasi menjelang tragedi Tiananmen 1989. Dukungan finansial dan jaringan NED juga hadir di Yugoslavia sebelum perpecahan negeri itu pada awal 1990-an, dengan memberi ruang oposisi bertemu langsung dengan pejabat dan media AS.
Selain itu, Indonesia merupakan negara dengan ekonomi terbesar kedelapan di dunia dalam hal paritas daya beli (PPP), ekonomi terbesar di ASEAN, dan negara terpadat keempat, dengan hampir 300 juta penduduk.
"Dari sudut pandang imperialisme Barat, semua ini menjadi sasaran empuk bagi Indonesia, target yang sangat layak untuk diserang dengan revolusi warna yang direkayasa Barat," kata Brown.
Jejak Panjang NED dalam Krisis Dunia
Didirikan pada 1983 di bawah bayang-bayang Perang Dingin, NED lahir sebagai instrumen baru AS untuk “mempromosikan demokrasi". Namun sejak awal, perjalanan lembaga ini selalu dikelilingi kontroversi.
Dibiayai hampir sepenuhnya oleh anggaran Kongres AS, NED berfungsi sebagai yayasan hibah yang menyalurkan dana kepada organisasi masyarakat sipil, partai politik, serikat buruh, hingga media.
Tetapi, bagi banyak pihak—dari akademisi hingga pemerintah asing—NED lebih dari sekadar NGO atau LSM: ia dianggap perpanjangan tangan kebijakan luar negeri Washington yang kerap berperan dalam krisis politik lintas benua.
Penciptaan NED tidak bisa dilepaskan dari pengalaman pahit AS di era 1960-an dan 1970-an, ketika operasi rahasia Badan Intelijen Pusat (CIA) untuk mendukung kelompok oposisi di berbagai negara terkuak dan menimbulkan resistensi global.
Presiden Ronald Reagan saat berkuasa di AS, lewat pidatonya di Westminster tahun 1982, mendorong ide membangun “infrastruktur demokrasi” secara terbuka. Seperti diakui pendiri NED, Allen Weinstein, “Banyak hal yang kami lakukan hari ini dulunya dikerjakan secara tertutup oleh CIA.”
Dengan demikian, NED menjadi jalur “overt” untuk aktivitas yang sebelumnya bersifat “covert".
Jejak awal NED tampak di Panama tahun 1984, ketika lembaga ini mendanai aktivis yang mendukung kandidat Ardito Barletta. Tidak lama berselang, NED menyalurkan dana ke kalangan intelektual China lewat jurnal "The Chinese Intellectual", yang kemudian terlibat dalam arus intelektual pro-demokrasi menjelang tragedi Tiananmen 1989. Dukungan finansial dan jaringan NED juga hadir di Yugoslavia sebelum perpecahan negeri itu pada awal 1990-an, dengan memberi ruang oposisi bertemu langsung dengan pejabat dan media AS.
Lihat Juga :