Israel Menggila, Bom-bomnya di Kota Gaza Kini Seperti Gempa Bumi
Jum'at, 29 Agustus 2025 - 19:39 WIB
loading...
A
A
A
Warga mengenali mereka dari ledakan dahsyat dan memekakkan telinga yang ditimbulkannya.
“Ledakan itu terasa seperti gempa bumi,” ungkap Matar.
Ketika salah satu robot meledakkan satu rumah sekitar 300 meter dari rumahnya, Matar dan keluarganya merasakan dampaknya di rumah mereka, menyebabkan mereka mengalami luka ringan.
Bassem Mounir al-Hanawi, seorang warga di utara Kota Gaza, mengatakan ledakan yang mirip gempa bumi tersebut seringkali membuatnya sakit kepala parah selama berjam-jam karena kebisingan yang intens.
“Dua hari yang lalu, mereka meledakkan satu robot sekitar satu kilometer dari kami. Sepotong pecahan peluru seberat 150 kg mendarat tepat di sebelah kami,” ujarnya kepada Middle East Eye.
“Jika pecahan peluru itu mengenai tenda atau siapa pun di dekatnya, itu sudah cukup untuk membunuh mereka dan menyebabkan pembantaian,” ungkap dia.
Ayah satu anak berusia 31 tahun ini mengatakan serangan terbaru telah membuat warga "hidup dalam teror", karena serangan udara dan darat meningkat tanpa peringatan, meninggalkan jejak warga Palestina yang tewas dan terluka di jalanan.
Ia telah menyaksikan serangan-serangan sebelumnya di Kota Gaza utara, terutama di kamp pengungsi Jabalia, yang ia gambarkan seperti "kengerian dari Hari Kiamat".
Namun, ia mengatakan serangan dan serangan rudal saat ini lebih intens daripada apa pun yang pernah disaksikan warga sebelumnya.
Hanawi mengatakan baik ia maupun keluarganya "tidak memiliki kekuatan untuk bergerak bahkan sejauh dua puluh meter" dari rumah mereka, meskipun pasukan Israel terus bergerak maju.
“Kami telah mengungsi lebih dari tujuh kali. Hidup kami telah hancur, dan kami telah kehilangan begitu banyak. Kami kehilangan ayah saya,” ujar dia.
Dia menjelaskan, “Kami menjadi putus asa dan frustrasi. Apa pun yang terjadi, terjadilah.”
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, setidaknya 90% warga Palestina di Jalur Gaza yang diblokade telah mengungsi selama hampir dua tahun genosida, dengan banyak yang terpaksa mengungsi beberapa kali.
Sebagai bagian dari rencana pendudukan barunya, Israel dilaporkan berusaha memaksa hampir seluruh dari satu juta warga sipil Kota Gaza untuk mengungsi ke selatan.
“Ledakan itu terasa seperti gempa bumi,” ungkap Matar.
Ketika salah satu robot meledakkan satu rumah sekitar 300 meter dari rumahnya, Matar dan keluarganya merasakan dampaknya di rumah mereka, menyebabkan mereka mengalami luka ringan.
Bassem Mounir al-Hanawi, seorang warga di utara Kota Gaza, mengatakan ledakan yang mirip gempa bumi tersebut seringkali membuatnya sakit kepala parah selama berjam-jam karena kebisingan yang intens.
“Dua hari yang lalu, mereka meledakkan satu robot sekitar satu kilometer dari kami. Sepotong pecahan peluru seberat 150 kg mendarat tepat di sebelah kami,” ujarnya kepada Middle East Eye.
“Jika pecahan peluru itu mengenai tenda atau siapa pun di dekatnya, itu sudah cukup untuk membunuh mereka dan menyebabkan pembantaian,” ungkap dia.
Ayah satu anak berusia 31 tahun ini mengatakan serangan terbaru telah membuat warga "hidup dalam teror", karena serangan udara dan darat meningkat tanpa peringatan, meninggalkan jejak warga Palestina yang tewas dan terluka di jalanan.
Ia telah menyaksikan serangan-serangan sebelumnya di Kota Gaza utara, terutama di kamp pengungsi Jabalia, yang ia gambarkan seperti "kengerian dari Hari Kiamat".
Namun, ia mengatakan serangan dan serangan rudal saat ini lebih intens daripada apa pun yang pernah disaksikan warga sebelumnya.
Tidak Ada Tempat Aman di Gaza
Hanawi mengatakan baik ia maupun keluarganya "tidak memiliki kekuatan untuk bergerak bahkan sejauh dua puluh meter" dari rumah mereka, meskipun pasukan Israel terus bergerak maju.
“Kami telah mengungsi lebih dari tujuh kali. Hidup kami telah hancur, dan kami telah kehilangan begitu banyak. Kami kehilangan ayah saya,” ujar dia.
Dia menjelaskan, “Kami menjadi putus asa dan frustrasi. Apa pun yang terjadi, terjadilah.”
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, setidaknya 90% warga Palestina di Jalur Gaza yang diblokade telah mengungsi selama hampir dua tahun genosida, dengan banyak yang terpaksa mengungsi beberapa kali.
Sebagai bagian dari rencana pendudukan barunya, Israel dilaporkan berusaha memaksa hampir seluruh dari satu juta warga sipil Kota Gaza untuk mengungsi ke selatan.
Lihat Juga :