Pilpres Amerika Serikat, Buku Jadi Senjata Politik AS
Jum'at, 11 September 2020 - 11:15 WIB
loading...
A
A
A
Mantan penasihat keamanan nasional John Bolton menulis buku berjudul "The Room Where It Happened: A White House Memoir.” Berbeda dengan buku Woodward yang tidak menuai protes dari Trump, buku yang ditulis Bolton justru mendapatkan kecaman dari Trump. (Baca juga: Jakarta PSBB Lagi, Kegiatan Ekonomi Jabodetabek Bisa Ambles)
Pemerintahan Trump mengungkapkan pelarangan terhadap buku berjudul "The Room Where It Happened: A White House Memoir," karena mengandung informasi rahasia dan mengancam keamanan nasional. Buku direncanakan akan dijual di toko buku dan online pada Selasa (besok). Tetapi, buku tersebut telah didapatkan oleh banyak media dan jurnalis. Buku itu sangat menelanjangi Trump yang terus mengalami penurunan popularitas.
Salah satu hal terpenting dalam buku tersebut adalah tudingan kalau Trump meminta bantuan China untuk memenangkan pemilu presiden pada November mendatang. Bolton mengungkapkan, Trump meminta Presiden China Xi Jinping untuk menjamin agar dia bisa menang pada pemilu presiden. Tuduhan Bolton mengacu pada pertemuan antara Trump dan Xi pada pertemuan G20 di Osaka, Jepang, Juni 2019. Presiden China itu mengeluh bahwa sejumlah kalangan di AS menyerukan perang dingin yang baru, menurut Bolton dalam cuplikan buku tersebut. Trump, seperti disebutkan Bolton, kemudian berasumsi bahwa Xi merujuk pada orang-orang Partai Demokrat.
Dalam buku tersebut, Bolton juga membahas klaim-klaim yang berujung pada sidang pemakzulan Trump. Klaim itu, antara lain, Trump menahan bantuan militer ke Ukraina guna menekan Presiden Volodymyr Zelensky agar memulai penyelidikan terhadap Joe Biden dan putranya, Hunter. Trump membantah laporan tersebut, setelah sidang berjalan selama dua pekan di Senat yang dikendalikan Partai Republik, dia tidak dimakzulkan. (Lihat videonya: Tawuran Remaja Sambil Berenang Kembali Terjadi di Jakarta Utara)
Buku yang tidak kalah mengejutkan adalah berjudul “Too Much and Never Enough: How My Family Created the World's Most Dangerous Man” yang ditulis keponakan Presiden Trump, yakni Mary Trump. Mary merupakan seorang psikolog sehingga dia berbicara mengenai psikologi Trump. "Donald merupakan pria yang sangat rusak secara psikologis, berdasarkan asuhan dan hubungan dengan orang tuanya," katanya dilansir CNN. (Andika H Mustaqim)
Pemerintahan Trump mengungkapkan pelarangan terhadap buku berjudul "The Room Where It Happened: A White House Memoir," karena mengandung informasi rahasia dan mengancam keamanan nasional. Buku direncanakan akan dijual di toko buku dan online pada Selasa (besok). Tetapi, buku tersebut telah didapatkan oleh banyak media dan jurnalis. Buku itu sangat menelanjangi Trump yang terus mengalami penurunan popularitas.
Salah satu hal terpenting dalam buku tersebut adalah tudingan kalau Trump meminta bantuan China untuk memenangkan pemilu presiden pada November mendatang. Bolton mengungkapkan, Trump meminta Presiden China Xi Jinping untuk menjamin agar dia bisa menang pada pemilu presiden. Tuduhan Bolton mengacu pada pertemuan antara Trump dan Xi pada pertemuan G20 di Osaka, Jepang, Juni 2019. Presiden China itu mengeluh bahwa sejumlah kalangan di AS menyerukan perang dingin yang baru, menurut Bolton dalam cuplikan buku tersebut. Trump, seperti disebutkan Bolton, kemudian berasumsi bahwa Xi merujuk pada orang-orang Partai Demokrat.
Dalam buku tersebut, Bolton juga membahas klaim-klaim yang berujung pada sidang pemakzulan Trump. Klaim itu, antara lain, Trump menahan bantuan militer ke Ukraina guna menekan Presiden Volodymyr Zelensky agar memulai penyelidikan terhadap Joe Biden dan putranya, Hunter. Trump membantah laporan tersebut, setelah sidang berjalan selama dua pekan di Senat yang dikendalikan Partai Republik, dia tidak dimakzulkan. (Lihat videonya: Tawuran Remaja Sambil Berenang Kembali Terjadi di Jakarta Utara)
Buku yang tidak kalah mengejutkan adalah berjudul “Too Much and Never Enough: How My Family Created the World's Most Dangerous Man” yang ditulis keponakan Presiden Trump, yakni Mary Trump. Mary merupakan seorang psikolog sehingga dia berbicara mengenai psikologi Trump. "Donald merupakan pria yang sangat rusak secara psikologis, berdasarkan asuhan dan hubungan dengan orang tuanya," katanya dilansir CNN. (Andika H Mustaqim)
(ysw)
Lihat Juga :