Pilpres Amerika Serikat, Buku Jadi Senjata Politik AS
Jum'at, 11 September 2020 - 11:15 WIB
loading...
A
A
A
Trump mengindikasikan bahwa dia mengetahui lebih banyak tentang tingkat keparahan penyakit Covid-19 daripada yang ia katakan di depan umum. Menurut rekaman percakapan, Trump memberi tahu Woodward pada Februari lalu bahwa virus korona lebih mematikan daripada flu.
"Itu menyebar melalui udara," kata Trump kepada Woodward pada 7 Februari. "Itu selalu lebih sulit daripada sentuhan. Anda tidak perlu menyentuh apa pun. Betul? Tetapi dengan udara, Anda hanya perlu menghirup udara dan begitulah penyebarannya. Karenanya, (virus korona) ini sangat rumit. Sangat pelik. (Virus korona) itu juga lebih mematikan daripada flu-flu yang berat,” kata Trump.
Namun, pada bulan yang sama, Trump berjanji bahwa virus itu "sangat terkendali" dan jumlah kasus akan segera mendekati nol. Dia juga secara terbuka menyiratkan flu biasa lebih berbahaya daripada Covid-19. Saat berbicara di Capitol Hill pada 10 Maret, Trump berkata: "Tenang saja. Itu akan hilang." Sembilan hari kemudian, hanya hitungan hari setelah Gedung Putih mengumumkan pandemi sebagai darurat nasional, Trump mengatakan kepada Woodward: "Saya ingin selalu mengecilkannya. Saya masih suka mengecilkannya, karena saya tidak ingin membuat panik." (Baca juga: Jaga Tingkat Hidrasi, Jangan Tunggu Haus Baru Minum)
Buku Rage juga mengungkapkan tentang aksi antirasisme di AS. Woodward menulis bahwa dia mengungkit protes Black Lives Matter dalam percakapan dengan sang presiden pada 19 Juni, menyarankan bahwa orang "kulit putih yang memiliki hak istimewa" seperti diri mereka harus berusaha memahami bagaimana perasaan orang kulit hitam Amerika. "Anda benar-benar meminum Kool-Aid itu, betul," kata Trump. "Dengarkan saja dirimu,"ujarnya.
Protes yang meluas secara nasional terhadap kebrutalan polisi dan rasisme dipicu oleh kematian George Floyd di Minnesota pada Mei lalu. Trump juga mengulangi pernyataan bahwa dia telah berbuat lebih banyak untuk orang keturunan Afrika-Amerika daripada presiden mana pun selain Abraham Lincoln yang menghapus perbudakan. Kemudian pada 8 Juli, Trump kembali menegaskan bahwa dia telah "melakukan banyak hal untuk komunitas kulit hitam", tetapi "tidak merasakan rasa cinta apa pun".
Buku Woodward juga mengutip puluhan surat antara Trump dan Kim Jong-un dari Korea Utara (Korut). Dalam surat-suratnya yang diisi dengan bahasa berbunga-bunga, Kim dilaporkan menyebut Trump sebagai "Your Excellency (Yang Mulia)" dan menyatakan "persahabatan yang mendalam dan istimewa akan bekerja sebagai kekuatan magis."
Bukan Hanya Satu Buku Saja
"Itu menyebar melalui udara," kata Trump kepada Woodward pada 7 Februari. "Itu selalu lebih sulit daripada sentuhan. Anda tidak perlu menyentuh apa pun. Betul? Tetapi dengan udara, Anda hanya perlu menghirup udara dan begitulah penyebarannya. Karenanya, (virus korona) ini sangat rumit. Sangat pelik. (Virus korona) itu juga lebih mematikan daripada flu-flu yang berat,” kata Trump.
Namun, pada bulan yang sama, Trump berjanji bahwa virus itu "sangat terkendali" dan jumlah kasus akan segera mendekati nol. Dia juga secara terbuka menyiratkan flu biasa lebih berbahaya daripada Covid-19. Saat berbicara di Capitol Hill pada 10 Maret, Trump berkata: "Tenang saja. Itu akan hilang." Sembilan hari kemudian, hanya hitungan hari setelah Gedung Putih mengumumkan pandemi sebagai darurat nasional, Trump mengatakan kepada Woodward: "Saya ingin selalu mengecilkannya. Saya masih suka mengecilkannya, karena saya tidak ingin membuat panik." (Baca juga: Jaga Tingkat Hidrasi, Jangan Tunggu Haus Baru Minum)
Buku Rage juga mengungkapkan tentang aksi antirasisme di AS. Woodward menulis bahwa dia mengungkit protes Black Lives Matter dalam percakapan dengan sang presiden pada 19 Juni, menyarankan bahwa orang "kulit putih yang memiliki hak istimewa" seperti diri mereka harus berusaha memahami bagaimana perasaan orang kulit hitam Amerika. "Anda benar-benar meminum Kool-Aid itu, betul," kata Trump. "Dengarkan saja dirimu,"ujarnya.
Protes yang meluas secara nasional terhadap kebrutalan polisi dan rasisme dipicu oleh kematian George Floyd di Minnesota pada Mei lalu. Trump juga mengulangi pernyataan bahwa dia telah berbuat lebih banyak untuk orang keturunan Afrika-Amerika daripada presiden mana pun selain Abraham Lincoln yang menghapus perbudakan. Kemudian pada 8 Juli, Trump kembali menegaskan bahwa dia telah "melakukan banyak hal untuk komunitas kulit hitam", tetapi "tidak merasakan rasa cinta apa pun".
Buku Woodward juga mengutip puluhan surat antara Trump dan Kim Jong-un dari Korea Utara (Korut). Dalam surat-suratnya yang diisi dengan bahasa berbunga-bunga, Kim dilaporkan menyebut Trump sebagai "Your Excellency (Yang Mulia)" dan menyatakan "persahabatan yang mendalam dan istimewa akan bekerja sebagai kekuatan magis."
Bukan Hanya Satu Buku Saja
Lihat Juga :