Trump Ingin 20 Ton Plutonium Perang Dingin Dijadikan Bahan Bakar Nuklir, Pakar Sebut Rencana Gila
Minggu, 24 Agustus 2025 - 13:08 WIB
loading...
A
A
A
Menurut memo tersebut, industri akan bertanggung jawab atas biaya transportasi, perancangan, pembangunan, dan penghentian operasional fasilitas yang telah disetujui DOE untuk mendaur ulang, memproses, dan memproduksi bahan bakar tersebut.
Detail mengenai volume plutonium, tanggung jawab industri dalam rencana tersebut, dan kemungkinan waktu pengumuman di AS, belum pernah dilaporkan sebelumnya.
Sebanyak 20 metrik ton tersebut akan diambil dari cadangan plutonium tingkat senjata yang lebih besar, yaitu 34 metrik ton, yang sebelumnya telah dijanjikan Amerika Serikat untuk dimusnahkan berdasarkan perjanjian non-proliferasi dengan Rusia pada tahun 2000.
Departemen Energi tidak mengonfirmasi atau membantah laporan tersebut, hanya mengatakan bahwa departemen tersebut sedang mengevaluasi berbagai strategi untuk membangun dan memperkuat rantai pasokan domestik untuk bahan bakar nuklir, termasuk plutonium, sebagaimana diarahkan oleh perintah Trump.
Mendorong industri kelistrikan AS merupakan prioritas kebijakan pemerintahan Trump karena permintaan listrik AS meningkat untuk pertama kalinya dalam dua dekade seiring dengan lonjakan pusat data yang dibutuhkan untuk artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Gagasan untuk menggunakan surplus plutonium sebagai bahan bakar telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pakar keselamatan nuklir yang berpendapat bahwa upaya serupa sebelumnya telah gagal.
Berdasarkan perjanjian tahun 2000, plutonium awalnya direncanakan untuk dikonversi menjadi bahan bakar oksida campuran atau MOX untuk digunakan di pembangkit listrik tenaga nuklir. Namun pada tahun 2018, pemerintahan Trump yang pertama membatalkan kontrak untuk proyek MOX yang disebut-sebut akan menelan biaya lebih dari USD50 miliar.
Detail mengenai volume plutonium, tanggung jawab industri dalam rencana tersebut, dan kemungkinan waktu pengumuman di AS, belum pernah dilaporkan sebelumnya.
Sebanyak 20 metrik ton tersebut akan diambil dari cadangan plutonium tingkat senjata yang lebih besar, yaitu 34 metrik ton, yang sebelumnya telah dijanjikan Amerika Serikat untuk dimusnahkan berdasarkan perjanjian non-proliferasi dengan Rusia pada tahun 2000.
Departemen Energi tidak mengonfirmasi atau membantah laporan tersebut, hanya mengatakan bahwa departemen tersebut sedang mengevaluasi berbagai strategi untuk membangun dan memperkuat rantai pasokan domestik untuk bahan bakar nuklir, termasuk plutonium, sebagaimana diarahkan oleh perintah Trump.
Mendorong industri kelistrikan AS merupakan prioritas kebijakan pemerintahan Trump karena permintaan listrik AS meningkat untuk pertama kalinya dalam dua dekade seiring dengan lonjakan pusat data yang dibutuhkan untuk artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Gagasan untuk menggunakan surplus plutonium sebagai bahan bakar telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pakar keselamatan nuklir yang berpendapat bahwa upaya serupa sebelumnya telah gagal.
Berdasarkan perjanjian tahun 2000, plutonium awalnya direncanakan untuk dikonversi menjadi bahan bakar oksida campuran atau MOX untuk digunakan di pembangkit listrik tenaga nuklir. Namun pada tahun 2018, pemerintahan Trump yang pertama membatalkan kontrak untuk proyek MOX yang disebut-sebut akan menelan biaya lebih dari USD50 miliar.
Lihat Juga :