Putin Memenangkan Konsesi Ukraina di Alaska, tapi...

Minggu, 17 Agustus 2025 - 06:54 WIB
loading...
A A A
Putin diburu oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC), dituduh melakukan kejahatan perang dengan membawa ratusan anak dari Ukraina. Rusia membantah melakukan kesalahan apa pun, dengan mengatakan bahwa tindakannya adalah untuk memindahkan anak-anak tanpa pendamping dari zona konflik. Baik Rusia maupun Amerika Serikat bukanlah anggota ICC.

Dmitry Medvedev, mantan presiden Rusia dan sekutu dekat Putin, mengatakan bahwa KTT tersebut telah mencapai terobosan besar dalam memulihkan hubungan AS-Rusia, yang disesalkan Putin berada pada level terendah sejak Perang Dingin.

"Mekanisme pertemuan tingkat tinggi antara Rusia dan Amerika Serikat telah dipulihkan sepenuhnya," ujarnya.

Namun, Putin tidak mendapatkan semua yang diinginkannya dan tidak jelas seberapa tahan lama pencapaiannya tersebut.

Salah satunya, Trump tidak memberinya pemulihan ekonomi yang diinginkannya—sesuatu yang akan mendorong presiden Rusia di saat ekonominya menunjukkan tanda-tanda ketegangan setelah lebih dari tiga tahun perang dan sanksi Barat yang semakin ketat.

Yuri Ushakov, ajudan kebijakan luar negeri Putin, mengatakan sebelum KTT bahwa pembicaraan akan menyentuh isu-isu perdagangan dan ekonomi.

Putin telah membawa menteri keuangannya dan kepala dana kekayaan negara Rusia jauh-jauh ke Alaska untuk membahas potensi kesepakatan di Arktik, energi, antariksa, dan sektor teknologi.

Namun, pada akhirnya, mereka tidak mendapat kesempatan. Trump mengatakan kepada wartawan di Air Force One sebelum pertemuan puncak dimulai bahwa tidak akan ada bisnis yang dilakukan sampai perang di Ukraina berakhir.

Juga tidak jelas berapa lama penangguhan sanksi yang dimenangkan Putin akan berlangsung.

Trump mengatakan mungkin perlu dua atau tiga minggu sebelum dia perlu kembali mempertimbangkan penerapan sanksi sekunder terhadap China, untuk mengurangi pembiayaan bagi mesin perang Moskow.

Trump juga tidak—berdasarkan informasi yang sejauh ini telah dipublikasikan—melakukan apa yang paling ditakutkan oleh beberapa politisi Ukraina dan Eropa, yaitu mengkhianati Kyiv dengan membuat kesepakatan yang mengabaikan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Trump menegaskan bahwa Zelenskiy-lah yang menentukan apakah dia akan setuju—atau tidak—dengan gagasan pertukaran lahan dan elemen-elemen lain untuk penyelesaian damai yang telah dibahas presiden AS dengan Putin di Alaska.

Meskipun, seperti yang ditunjukkan oleh pertemuan sengit Trump dengan Zelensky di Oval Office Gedung Putih awal tahun ini, jika Trump merasa pemimpin Ukraina itu tidak terlibat secara konstruktif, dia dapat dengan cepat menyerangnya.

Memang, Trump dengan cepat mulai menekan Zelensky, yang diperkirakan akan tiba di Washington pada hari Senin, dengan mengatakan setelah KTT bahwa Ukraina harus membuat kesepakatan karena, "Rusia adalah kekuatan yang sangat besar, dan mereka tidak".
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
AS dan Iran Kembali...
AS dan Iran Kembali Saling Serang Pasca-Tandatangani Perjanjian Damai
Kalahkan Jerman di Piala...
Kalahkan Jerman di Piala Dunia, Paraguay Umumkan Hari Libur Nasional
Rekomendasi
Profil Nadiem Makarim,...
Profil Nadiem Makarim, Menteri Era Jokowi yang Divonis 10 Tahun Penjara
Divonis 10 Tahun Penjara,...
Divonis 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Ajukan Banding
Breaking News! Nadiem...
Breaking News! Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara di Kasus Chromebook
Berita Terkini
Media Asing Soroti Nasib...
Media Asing Soroti Nasib Nadiem Divonis 10 Tahun Penjara: Eks Bos Gojek yang Dinyatakan Korupsi
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Apakah Gerakan Amal...
Apakah Gerakan Amal Bisa Menggantikan Hizbullah?
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Indonesia Lunasi Proyek...
Indonesia Lunasi Proyek Jet Tempur KF-21 Korsel Rp6,9 Triliun, Dapat Transfer Teknologi Apa?
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved