Putin Memenangkan Konsesi Ukraina di Alaska, tapi...

Minggu, 17 Agustus 2025 - 06:54 WIB
loading...
Putin Memenangkan Konsesi...
Pertemuan tiga jam dengan Presiden AS Donald Trump di Alaska dianggap sebagai kemenangan diplomasi Presiden Rusia Vladimir Putin terkait perang Ukraina. Foto/X @centralnewsza
A A A
MOSKOW - Moskow telah menggambarkan pertemuan 3 jam dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Alaska sebagai kemenangan diplomasi Presiden Rusia Vladimir Putin.

Putin berhasil meyakinkan Trump bahwa gencatan senjata Ukraina bukanlah jalan keluar. Pemimpin Kremlin itu juga berhasil mencegah sanksi AS, dan secara spektakuler menggagalkan upaya Barat selama bertahun-tahun untuk mengisolasi dirinya.

Di luar Rusia, Putin juga secara luas dipuji sebagai pemenang KTT Alaska. Sedangkan di dalam negeri, media pemerintah Rusia menggambarkan Trump sebagai negarawan yang bijaksana, meskipun para kritikus di Barat menuduhnya tidak kompeten.

Media pemerintah Rusia banyak menyoroti fakta bahwa Putin diberi kesempatan terbang dengan pengawalan militer AS, bahwa Trump menunggunya di karpet merah, dan kemudian membiarkan presiden Rusia itu ikut bersamanya di belakang "Big Beast", limusin kepresidenan AS.

Baca Juga: Langka, Jet Tempur Siluman F-35 dan F-22 AS Mengawal Putin Pulang

"Media Barat berada dalam kondisi yang bisa digambarkan sebagai kegilaan yang hampir gila total," kata Maria Zakharova, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (17/8/2025).

"Selama tiga tahun, mereka membicarakan isolasi Rusia, dan hari ini mereka menyaksikan karpet merah digelar untuk menyambut presiden Rusia di Amerika Serikat," ujarnya.

Namun, kemenangan terbesar Putin dalam pertemuan puncak berkaitan dengan perang di Ukraina, di mana dia tampaknya telah meyakinkan Trump, setidaknya sebagian, untuk menerima visi Rusia tentang bagaimana sebuah kesepakatan seharusnya dilakukan.

Trump datang ke pertemuan tersebut dengan mengatakan bahwa dia menginginkan gencatan senjata yang cepat dan mengancam Putin dan pembeli minyak mentah terbesar Rusia—China—dengan sanksi.

Setelah itu, Trump mengatakan dia setuju dengan Putin bahwa para negosiator harus langsung menuju penyelesaian damai dan bukan melalui gencatan senjata seperti yang dituntut Ukraina dan sekutu Eropanya—sebelumnya dengan dukungan AS.

"Posisi presiden AS telah berubah setelah pembicaraan dengan Putin, dan sekarang diskusi akan berfokus bukan pada gencatan senjata, tetapi pada akhir perang. Dan tatanan dunia baru. Seperti yang diinginkan Moskow," ujar Olga Skabeyeva, salah satu pembawa acara bincang-bincang paling terkemuka di televisi pemerintah Rusia, di Telegram.

Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022, dengan alasan bahwa dukungan Kyiv terhadap Barat telah menjadi ancaman bagi keamanannya, sesuatu yang dibantah Ukraina sebagai dalih palsu untuk apa yang disebutnya perampasan tanah bergaya kolonial.

Perang tersebut—yang paling mematikan di Eropa selama 80 tahun—telah menewaskan atau melukai lebih dari satu juta orang dari kedua belah pihak, termasuk ribuan warga sipil yang sebagian besar berasal dari Ukraina, menurut para analis.

Tak Ada Reset Ekonomi


Fakta bahwa KTT itu bahkan terjadi merupakan kemenangan bagi Putin bahkan sebelum dimulai, mengingat bagaimana pertemuan itu membawanya keluar dari dinginnya hubungan diplomatik dengan begitu megah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Presiden Serbia Aleksandar...
Presiden Serbia Aleksandar Vučić Umumkan Pengunduran Diri
Trump Kirim Delegasi...
Trump Kirim Delegasi ke Qatar, Iran: Tak Ada Negosiasi Apa pun dengan AS!
Rekomendasi
Tumbangkan Jerman, Paraguay...
Tumbangkan Jerman, Paraguay Rayakan dengan Libur Nasional
Breaking News! Nadiem...
Breaking News! Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara di Kasus Chromebook
RGI dan NNA Jalin Kemitraan,...
RGI dan NNA Jalin Kemitraan, Perluas Distribusi SKT ke Wilayah Baru
Berita Terkini
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Apakah Gerakan Amal...
Apakah Gerakan Amal Bisa Menggantikan Hizbullah?
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Indonesia Lunasi Proyek...
Indonesia Lunasi Proyek Jet Tempur KF-21 Korsel Rp6,9 Triliun, Dapat Transfer Teknologi Apa?
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved