5 Wartawan Al Jazeera Tewas Dibombardir Israel di Gaza
Senin, 11 Agustus 2025 - 08:37 WIB
loading...
A
A
A
Al-Sharif adalah salah satu wajah paling dikenal di saluran tersebut yang bekerja di lapangan di Gaza, memberikan laporan harian dalam liputan rutin.
Setelah konferensi pers oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada hari Minggu, di mana pemimpin Zionis itu membela persetujuannya terhadap serangan baru di Gaza, Al-Sharif mengunggah pesan di X yang menggambarkan "pengeboman Israel yang intens dan terkonsentrasi" di Kota Gaza.
Salah satu pesan terakhirnya termasuk video pendek yang menunjukkan serangan Israel di dekatnya yang menghantam Kota Gaza.
Pada bulan Juli, Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mengeluarkan pernyataan yang menyerukan perlindungannya karena juru bicara militer Israel berbahasa Arab, Avichay Adraee, meningkatkan serangan daring terhadap reporter tersebut dengan menuduhnya sebagai "teroris" Hamas.
Setelah serangan tersebut, CPJ mengatakan pihaknya terkejut mengetahui kematian para jurnalis Al Jazeera.
"Pola Israel melabeli jurnalis sebagai militan tanpa memberikan bukti yang kredibel menimbulkan pertanyaan serius tentang niat dan penghormatannya terhadap kebebasan pers," kata Direktur Regional CPJ, Sara Qudah, yang dilansir AFP.
"Jurnalis adalah warga sipil dan tidak boleh menjadi sasaran. Mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini harus dimintai pertanggungjawaban," paparnya.
Sindikat Jurnalis Palestina mengutuk apa yang mereka sebut sebagai "kejahatan berdarah" Israel berupa pembunuhan.
Israel dan Al Jazeera telah menjalin hubungan yang penuh pertikaian selama bertahun-tahun. Otoritas Zionis melarang saluran tersebut di Israel dan menggerebek kantor-kantornya setelah perang terbaru di Gaza.
Setelah konferensi pers oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada hari Minggu, di mana pemimpin Zionis itu membela persetujuannya terhadap serangan baru di Gaza, Al-Sharif mengunggah pesan di X yang menggambarkan "pengeboman Israel yang intens dan terkonsentrasi" di Kota Gaza.
Salah satu pesan terakhirnya termasuk video pendek yang menunjukkan serangan Israel di dekatnya yang menghantam Kota Gaza.
Pada bulan Juli, Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mengeluarkan pernyataan yang menyerukan perlindungannya karena juru bicara militer Israel berbahasa Arab, Avichay Adraee, meningkatkan serangan daring terhadap reporter tersebut dengan menuduhnya sebagai "teroris" Hamas.
Setelah serangan tersebut, CPJ mengatakan pihaknya terkejut mengetahui kematian para jurnalis Al Jazeera.
"Pola Israel melabeli jurnalis sebagai militan tanpa memberikan bukti yang kredibel menimbulkan pertanyaan serius tentang niat dan penghormatannya terhadap kebebasan pers," kata Direktur Regional CPJ, Sara Qudah, yang dilansir AFP.
"Jurnalis adalah warga sipil dan tidak boleh menjadi sasaran. Mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini harus dimintai pertanggungjawaban," paparnya.
Sindikat Jurnalis Palestina mengutuk apa yang mereka sebut sebagai "kejahatan berdarah" Israel berupa pembunuhan.
Israel dan Al Jazeera telah menjalin hubungan yang penuh pertikaian selama bertahun-tahun. Otoritas Zionis melarang saluran tersebut di Israel dan menggerebek kantor-kantornya setelah perang terbaru di Gaza.
Lihat Juga :