Indonesia Hobi Beli Beragam Jet Tempur Bak Gado-gado, Strategi Pertahanannya Dianggap Tak Jelas
Minggu, 10 Agustus 2025 - 12:53 WIB
loading...
A
A
A
Pada tahun 2022, Indonesia menandatangani kesepakatan senilai USD8,1 miliar untuk 42 jet Dassault Rafale.
Sejalan dengan ini, Indonesia bermitra dengan Korea Selatan dalam produksi bersama KF-21 Boramae. Indonesia awalnya setuju untuk mendanai 20 persen dari biaya pengembangan, yang diperkirakan mencapai USD8 miliar, tetapi kemudian bernegosiasi untuk mengurangi kontribusinya menjadi USD437 juta, yang mengakibatkan penurunan tingkat transfer teknologi.
Meskipun program Boramae menghadapi tantangan, termasuk serangkaian pembayaran yang terlewat, program ini akan tetap dilanjutkan setelah negosiasi dengan Korea Selatan.
Indonesia telah mengoperasikan pesawat tempur dari Amerika Serikat, Rusia, Brasil, dan Inggris. Sejumlah laporan juga mengindikasikan bahwa Indonesia sedang mengevaluasi atau sedang dalam proses pengadaan F-15EX Amerika Serikat, Su-35 Rusia, dan yang terbaru, J-10 China.
"Namun, diversifikasi persenjataan berisiko menimbulkan berbagai tantangan operasional," lanjut Pandie.
"Menggunakan beragam platform canggih dari berbagai negara berarti Angkatan Udara Indonesia harus bergulat dengan tantangan seperti interoperabilitas antarcabang angkatan dan dengan mitra eksternal," imbuh dia.
Beragamnya jenis pesawat mengakibatkan sistem perawatan yang tidak terstandarisasi, peningkatan upaya logistik untuk pengadaan dan pembayaran suku cadang, serta banyaknya jalur pelatihan paralel. "Tantangan-tantangan ini tidak hanya mahal tetapi juga melemahkan efektivitas, kesiapan, dan koordinasi operasional," kritik Pandie.
Kekhawatiran operasional ini diperparah oleh implikasi geopolitik dari pendekatan Indonesia terhadap keputusan pengadaan. Komitmennya yang goyah terhadap kesepakatan seperti program KF-21 dapat memperburuk hubungan dengan mitra dan merusak kredibilitas serta keandalan Indonesia sebagai mitra pertahanan.
Sejalan dengan ini, Indonesia bermitra dengan Korea Selatan dalam produksi bersama KF-21 Boramae. Indonesia awalnya setuju untuk mendanai 20 persen dari biaya pengembangan, yang diperkirakan mencapai USD8 miliar, tetapi kemudian bernegosiasi untuk mengurangi kontribusinya menjadi USD437 juta, yang mengakibatkan penurunan tingkat transfer teknologi.
Meskipun program Boramae menghadapi tantangan, termasuk serangkaian pembayaran yang terlewat, program ini akan tetap dilanjutkan setelah negosiasi dengan Korea Selatan.
Indonesia telah mengoperasikan pesawat tempur dari Amerika Serikat, Rusia, Brasil, dan Inggris. Sejumlah laporan juga mengindikasikan bahwa Indonesia sedang mengevaluasi atau sedang dalam proses pengadaan F-15EX Amerika Serikat, Su-35 Rusia, dan yang terbaru, J-10 China.
"Namun, diversifikasi persenjataan berisiko menimbulkan berbagai tantangan operasional," lanjut Pandie.
"Menggunakan beragam platform canggih dari berbagai negara berarti Angkatan Udara Indonesia harus bergulat dengan tantangan seperti interoperabilitas antarcabang angkatan dan dengan mitra eksternal," imbuh dia.
Beragamnya jenis pesawat mengakibatkan sistem perawatan yang tidak terstandarisasi, peningkatan upaya logistik untuk pengadaan dan pembayaran suku cadang, serta banyaknya jalur pelatihan paralel. "Tantangan-tantangan ini tidak hanya mahal tetapi juga melemahkan efektivitas, kesiapan, dan koordinasi operasional," kritik Pandie.
Kekhawatiran operasional ini diperparah oleh implikasi geopolitik dari pendekatan Indonesia terhadap keputusan pengadaan. Komitmennya yang goyah terhadap kesepakatan seperti program KF-21 dapat memperburuk hubungan dengan mitra dan merusak kredibilitas serta keandalan Indonesia sebagai mitra pertahanan.
Lihat Juga :