Indonesia Hobi Beli Beragam Jet Tempur Bak Gado-gado, Strategi Pertahanannya Dianggap Tak Jelas

Minggu, 10 Agustus 2025 - 12:53 WIB
loading...
A A A
"Berkomitmen pada kesepakatan senjata baru yang mahal seperti KAAN atau Rafale, sementara tidak melakukan pembayaran dan mengurangi kontribusi untuk program KF-21, tidak hanya dapat melemahkan kepercayaan dengan mitra yang ada tetapi juga melemahkan daya tarik Indonesia di masa mendatang," jelas Pandie.

Selain itu, memilih pemasok senjata lebih dari sekadar keputusan teknis atau komersial, tetapi juga mengirimkan sinyal politik. Dengan terus mengeksplorasi kesepakatan senjata dengan berbagai kekuatan yang terkadang bersaing, Indonesia berisiko mengirimkan pesan yang kontradiktif kepada mitra strategisnya.

Prancis akan segera mengirimkan gelombang pertama jet tempur Rafale dan mungkin mengharapkan Indonesia untuk menyelaraskan diri dalam isu-isu strategis tertentu, terutama di Indo-Pasifik di mana Paris menginginkan kehadiran yang lebih besar.

Pada saat yang sama, mitra-mitra lain di Barat mungkin menafsirkan meningkatnya keterlibatan pertahanan Indonesia dengan Rusia atau China sebagai tanda-tanda pergeseran strategis—terutama di era persaingan kekuatan besar yang semakin ketat.

Sebagai negara yang secara historis non-blok yang beroperasi dalam lingkungan geopolitik dan keamanan yang semakin tidak menentu, Indonesia telah lama berupaya mempertahankan otonomi dalam urusan luar negerinya. "Namun, otonomi ini harus dikelola dengan hati-hati agar tidak terkesan transaksional atau bahkan tidak dapat diandalkan," papar Pandie.

Menurutnya, semua ini menggarisbawahi masalah yang lebih luas—kurangnya koherensi strategis dalam perencanaan pertahanan Indonesia. Belum ada buku putih pertahanan yang diperbarui sejak 2015 untuk menetapkan prioritas yang jelas.

Selain itu, rencana modernisasinya, program Kekuatan Esensial Minimum, berakhir pada 2024 tanpa mencapai targetnya. Sebuah plan, Kekuatan Esensial Optimal, sedang dibahas tetapi detail pastinya belum diumumkan.

"Kesenjangan ini menciptakan kekosongan di mana akuisisi skala besar dilakukan tanpa landasan doktrinal yang jelas atau penilaian transparan terhadap nilai jangka panjang. Tanpa strategi panduan terpusat, pengadaan berisiko didorong oleh kalkulasi politik jangka pendek, atau lebih buruk lagi, preferensi pribadi alih-alih tujuan strategis," imbuh Pandie.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Operasi Siber China...
Operasi Siber China Diduga Targetkan Uyghur, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan
Jepang Bentuk Badan...
Jepang Bentuk Badan Intelijen Baru untuk Pertama Kalinya sejak Perang Dunia II, Ini 5 Alasannya
10 Danau Terjernih di...
10 Danau Terjernih di Dunia, Nomor 7 dari Indonesia
Siapa Zhang Zhidong?...
Siapa Zhang Zhidong? Warga China yang Dituduh sebagai Raja Fentanyl Meksiko
Terungkap, Gempa Dahsyat...
Terungkap, Gempa Dahsyat Sumatra Sebabkan Singapura Tenggelam Secara Bertahap
AS Kembalikan 2 Arca...
AS Kembalikan 2 Arca Buddha Abad ke-8 ke Indonesia, Hasil Curian Douglas Latchford
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia Naik Tembus Rp8.030 Triliun di Akhir Mei 2026
Dituduh Spionase Iran,...
Dituduh Spionase Iran, 3 Orang Dijatuhi Hukuman Penjara Seumur Hidup di Bahrain
Perdana! Selandia Baru...
Perdana! Selandia Baru Konfirmasi Kasus Pertama Flu Burung H5N1
Rekomendasi
Kaposwil Satgas PRR...
Kaposwil Satgas PRR Aceh Minta BPBD Percepat Pembangunan Huntap
Keamanan Diperketat...
Keamanan Diperketat Jelang Duel Panas Inggris vs Argentina
JPU Tolak Permohonan...
JPU Tolak Permohonan PK Nikita Mirzani Terkait Kasus ITE dan TPPU
Berita Terkini
Iran Sedang Mempersiapkan...
Iran Sedang Mempersiapkan Ujian Besar terhadap Blokade AS di Selat Hormuz
Trump Desak Netanyahu...
Trump Desak Netanyahu Tarik Pasukan Israel dari Suriah dan Lebanon
Biaya Perang AS di Iran...
Biaya Perang AS di Iran Setara Buang Emas Lebih dari 15.000 Kg Per Hari
IRGC Tegaskan Selat...
IRGC Tegaskan Selat Hormuz akan Tetap Tertutup sampai Kejahatan AS Berakhir
Iran Serang Pesawat...
Iran Serang Pesawat F-18 AS di Pangkalan Azraq Yordania
Operasi Siber China...
Operasi Siber China Diduga Targetkan Uyghur, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved