IRGC Iran Sebut Setan yang Upayakan Solusi 2 Negara Israel-Palestina
Minggu, 03 Agustus 2025 - 08:24 WIB
loading...
IRGC Iran mengecam upaya untuk mempromosikan solusi dua negara guna mengakhiri konflik Israel-Palestina. Foto/Tasnim
A
A
A
TEHERAN - Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengecam upaya untuk mempromosikan solusi dua negara guna mengakhiri konflik Israel-Palestina. Kecaman muncul beberapa hari setelah konferensi PBB yang diketuai bersama oleh Arab Saudi mendorong solusi tersebut.
"Upaya-upaya setan ini mengamanatkan solusi dua negara untuk mengakhiri masalah Palestina," kata IRGC Iran dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu, menandai peringatan satu tahun pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh oleh Israel di Teheran.
"Namun perlawanan tetap teguh di jalan Haniyeh dan yang lainnya," lanjut pernyataan tersebut, seperti dikutip dari Iran International, Minggu (3/8/2025).
Baca Juga: 5 Negara Asia yang Diam-diam Dukung Israel, Salah Satunya Mayoritas Muslim
Garda Revolusi juga mengatakan bahwa jalan ke depan bukanlah kompromi politik, melainkan perlawanan yang berkelanjutan.
Mengutip slogan Hamas yang dikaitkan dengan Haniyeh, pernyataan IRGC lebih lanjut berbunyi: "Kami tidak mengakui Israel—tidak pernah, tidak pernah, tidak pernah."
Sementara itu, sebuah Konferensi Internasional Tingkat Tinggi untuk Penyelesaian Damai Masalah Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara telah berlangsung di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada 28-30 Juli 2025.
Konferensi tersebut, yang diketuai bersama oleh Prancis dan Arab Saudi, bertujuan untuk menghidupkan kembali upaya menuju solusi dua negara antara Israel dan Palestina, dengan fokus pada pencapaian perdamaian yang adil dan abadi.
Iran, yang kerap menyerukan pemusnahan Israel, menolak solusi dua negara yang akan menciptakan negara Palestina merdeka di samping Israel. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan pada tahun 2015 bahwa Israel harus dihancurkan dalam waktu 25 tahun.
Pernyataan IRGC menggambarkan perang di Gaza sebagai genosida yang dilakukan Israel dengan tujuan yang lebih luas, yaitu merebut wilayah-wilayah strategis dan kaya sumber daya di dunia Islam.
“Mereka yang merekayasa genosida di Gaza tidak diragukan lagi mengejar tujuan yang lebih besar—menelan wilayah-wilayah kaya dan strategis dunia Muslim,” katanya.
“Namun dengan pertolongan Tuhan, pecahnya kesunyian global dan gelombang protes internasional anti-Zionis akan menghancurkan harapan dan ambisi kelompok kriminal Zionis-Amerika, yang kini harus menunggu terungkapnya nasib tersembunyi mereka," imbuh IRGC.
IRGC kembali mengutuk pembunuhan Haniyeh di Teheran, yang terjadi saat dia berada di kota itu untuk menghadiri pelantikan presiden Iran.
IRGC menganggap perlawanan Palestina yang berkelanjutan sebagai warisan Haniyeh dan para pemimpin perjuangan anti-Israel lainnya yang terbunuh.
"Badai al-Aqsa bukanlah peristiwa yang akan berlalu, melainkan sebuah doktrin strategis yang disegel oleh darah para martir," katanya, merujuk pada serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Sejak serangan 7 Oktober yang menewaskan sedikitnya 1.200 orang dan menyandera lebih dari 250 orang oleh kelompok militan Palestina tersebut, kampanye militer Israel telah menewaskan lebih dari 60.000 orang di Gaza, menurut statistik Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas.
Militer Israel mengeklaim setidaknya 20.000 di antaranya yang tewas adalah militan.
Menegaskan Israel menggunakan kelaparan dan pengepungan sebagai instrumen perang, IRGC mendesak organisasi internasional untuk mengakui taktik tersebut sebagai kejahatan perang dan menjatuhkan sanksi serius kepada pemerintah Israel.
"Penciptaan kelaparan yang disengaja merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang diakui," papar IRGC.
IRGC, sebuah paramiliter yang kuat di Iran dengan peran ekonomi dan intelijen yang ekstensif, ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat pada tahun 2019 di bawah Presiden Donald Trump. Amerika dan Kanada telah mendesak sekutu-sekutu Eropa untuk melakukan hal yang sama.
"Upaya-upaya setan ini mengamanatkan solusi dua negara untuk mengakhiri masalah Palestina," kata IRGC Iran dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu, menandai peringatan satu tahun pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh oleh Israel di Teheran.
"Namun perlawanan tetap teguh di jalan Haniyeh dan yang lainnya," lanjut pernyataan tersebut, seperti dikutip dari Iran International, Minggu (3/8/2025).
Baca Juga: 5 Negara Asia yang Diam-diam Dukung Israel, Salah Satunya Mayoritas Muslim
Garda Revolusi juga mengatakan bahwa jalan ke depan bukanlah kompromi politik, melainkan perlawanan yang berkelanjutan.
Mengutip slogan Hamas yang dikaitkan dengan Haniyeh, pernyataan IRGC lebih lanjut berbunyi: "Kami tidak mengakui Israel—tidak pernah, tidak pernah, tidak pernah."
Sementara itu, sebuah Konferensi Internasional Tingkat Tinggi untuk Penyelesaian Damai Masalah Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara telah berlangsung di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada 28-30 Juli 2025.
Konferensi tersebut, yang diketuai bersama oleh Prancis dan Arab Saudi, bertujuan untuk menghidupkan kembali upaya menuju solusi dua negara antara Israel dan Palestina, dengan fokus pada pencapaian perdamaian yang adil dan abadi.
Iran, yang kerap menyerukan pemusnahan Israel, menolak solusi dua negara yang akan menciptakan negara Palestina merdeka di samping Israel. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan pada tahun 2015 bahwa Israel harus dihancurkan dalam waktu 25 tahun.
Perang Israel-Hamas di Gaza
Pernyataan IRGC menggambarkan perang di Gaza sebagai genosida yang dilakukan Israel dengan tujuan yang lebih luas, yaitu merebut wilayah-wilayah strategis dan kaya sumber daya di dunia Islam.
“Mereka yang merekayasa genosida di Gaza tidak diragukan lagi mengejar tujuan yang lebih besar—menelan wilayah-wilayah kaya dan strategis dunia Muslim,” katanya.
“Namun dengan pertolongan Tuhan, pecahnya kesunyian global dan gelombang protes internasional anti-Zionis akan menghancurkan harapan dan ambisi kelompok kriminal Zionis-Amerika, yang kini harus menunggu terungkapnya nasib tersembunyi mereka," imbuh IRGC.
IRGC kembali mengutuk pembunuhan Haniyeh di Teheran, yang terjadi saat dia berada di kota itu untuk menghadiri pelantikan presiden Iran.
IRGC menganggap perlawanan Palestina yang berkelanjutan sebagai warisan Haniyeh dan para pemimpin perjuangan anti-Israel lainnya yang terbunuh.
"Badai al-Aqsa bukanlah peristiwa yang akan berlalu, melainkan sebuah doktrin strategis yang disegel oleh darah para martir," katanya, merujuk pada serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Sejak serangan 7 Oktober yang menewaskan sedikitnya 1.200 orang dan menyandera lebih dari 250 orang oleh kelompok militan Palestina tersebut, kampanye militer Israel telah menewaskan lebih dari 60.000 orang di Gaza, menurut statistik Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas.
Militer Israel mengeklaim setidaknya 20.000 di antaranya yang tewas adalah militan.
Menegaskan Israel menggunakan kelaparan dan pengepungan sebagai instrumen perang, IRGC mendesak organisasi internasional untuk mengakui taktik tersebut sebagai kejahatan perang dan menjatuhkan sanksi serius kepada pemerintah Israel.
"Penciptaan kelaparan yang disengaja merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang diakui," papar IRGC.
IRGC, sebuah paramiliter yang kuat di Iran dengan peran ekonomi dan intelijen yang ekstensif, ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat pada tahun 2019 di bawah Presiden Donald Trump. Amerika dan Kanada telah mendesak sekutu-sekutu Eropa untuk melakukan hal yang sama.
(mas)
Lihat Juga :