China Dituduh Ingin Senjata Nuklirnya Meneror Amerika Serikat
Jum'at, 01 Agustus 2025 - 08:00 WIB
loading...
A
A
A
"Dengan kata lain, seiring China mempercepat modernisasi nuklir, AS dan sekutunya perlu meyakinkan Beijing bahwa hal itu hanya akan mempercepat persenjataan konvensional AS dan sekutunya, yang membuat kemenangan militer China atas Taiwan semakin kecil kemungkinannya dan lebih mahal," bunyi kesimpulan laporan Hudson Institute, sebagaimana dikutip Newsweek, Jumat (1/8/2025).
Perkiraan angka dari Departemen Pertahanan AS dan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa China telah membangun cadangan senjata nuklir setidaknya 600 hulu ledak—peningkatan 100 dalam satu tahun. Meskipun kekuatan Asia Timur ini diperkirakan akan memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada tahun 2030, hal ini masih menempatkan Beijing jauh di belakang Moskow dan Washington.
Sebagai bagian dari modernisasi militer China yang sedang berlangsung, Presiden Xi Jinping telah memerintahkan percepatan pengembangan kekuatan penangkal strategis. Beijing juga mengatakan bahwa mereka "dipaksa" untuk bergabung dengan klub nuklir eksklusif—yang saat ini beranggotakan sembilan negara—sebagai tanggapan atas ancaman nuklir, untuk mengakhiri monopoli nuklir, dan untuk mencegah perang nuklir.
Sementara itu, Kedutaan Besar China di Washington merespons tuduhan lembaga think tank tersebut dengan mengatakan kepada Newsweek: "China mematuhi kebijakan tidak menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu dalam keadaan apa pun dan kapan pun, dan berkomitmen tanpa syarat untuk tidak menggunakan atau mengancam akan menggunakan senjata nuklir terhadap negara-negara non-senjata nuklir atau negara-negara di zona bebas senjata nuklir. China adalah satu-satunya negara pemilik senjata nuklir yang mengadopsi kebijakan semacam itu. China akan terus berkomitmen teguh untuk menjaga kepentingan keamanannya yang sah dan menjunjung tinggi perdamaian dan stabilitas dunia."
"China secara konsisten berpegang pada strategi nuklir untuk membela diri, selalu menjaga kekuatan nuklirnya pada tingkat minimum yang diperlukan untuk keamanan nasional, dan tidak terlibat dalam perlombaan senjata,"imbuh Kedutaan Besar China.
Perkiraan angka dari Departemen Pertahanan AS dan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa China telah membangun cadangan senjata nuklir setidaknya 600 hulu ledak—peningkatan 100 dalam satu tahun. Meskipun kekuatan Asia Timur ini diperkirakan akan memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada tahun 2030, hal ini masih menempatkan Beijing jauh di belakang Moskow dan Washington.
Sebagai bagian dari modernisasi militer China yang sedang berlangsung, Presiden Xi Jinping telah memerintahkan percepatan pengembangan kekuatan penangkal strategis. Beijing juga mengatakan bahwa mereka "dipaksa" untuk bergabung dengan klub nuklir eksklusif—yang saat ini beranggotakan sembilan negara—sebagai tanggapan atas ancaman nuklir, untuk mengakhiri monopoli nuklir, dan untuk mencegah perang nuklir.
Sementara itu, Kedutaan Besar China di Washington merespons tuduhan lembaga think tank tersebut dengan mengatakan kepada Newsweek: "China mematuhi kebijakan tidak menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu dalam keadaan apa pun dan kapan pun, dan berkomitmen tanpa syarat untuk tidak menggunakan atau mengancam akan menggunakan senjata nuklir terhadap negara-negara non-senjata nuklir atau negara-negara di zona bebas senjata nuklir. China adalah satu-satunya negara pemilik senjata nuklir yang mengadopsi kebijakan semacam itu. China akan terus berkomitmen teguh untuk menjaga kepentingan keamanannya yang sah dan menjunjung tinggi perdamaian dan stabilitas dunia."
"China secara konsisten berpegang pada strategi nuklir untuk membela diri, selalu menjaga kekuatan nuklirnya pada tingkat minimum yang diperlukan untuk keamanan nasional, dan tidak terlibat dalam perlombaan senjata,"imbuh Kedutaan Besar China.
(mas)
Lihat Juga :