Puluhan Komandan Militer China Dipecat, Xi Jinping Konsolidasikan Kekuatan Jelang 2027

Rabu, 30 Juli 2025 - 10:02 WIB
loading...
Puluhan Komandan Militer...
Presiden Xi Jinping melakukan pembersihan besar-besaran terhadap jajaran petinggi militer China. Foto/Hongkong Gov via Hongkong FP
A A A
JAKARTA - Di tengah meningkatnya latihan militer China yang diyakini sebagai persiapan menginvasi Taiwan, Presiden Xi Jinping melakukan pembersihan besar-besaran terhadap jajaran petinggi militer. Hal ini memicu spekulasi bahwa sang pemimpin tertinggi Partai Komunis China (PKC) itu tengah memperkuat kendalinya atas militer dan kekuasaan secara keseluruhan.

Sejak meraih masa jabatan ketiga yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 2022, yang dinilai melanggar batasan masa jabatan yang sebelumnya dianggap tak tertulis, Xi telah memecat lebih dari 20 komandan senior Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), termasuk dari Angkatan Laut, Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan pasukan rudal nuklir.

Mengutip dari News.com.au, Rabu (30/7/2025), pembersihan ini terjadi saat PKC seharusnya bersiap memilih pemimpin berikutnya yang akan menjabat pada 2027, tahun yang juga menandai peringatan 100 tahun berdirinya PLA—serta tenggat waktu yang pernah disebut mantan Direktur CIA Bill Burns sebagai target China untuk “melakukan invasi yang sukses ke Taiwan.”

Baca Juga: China Pecat Menhan Jenderal Li Shangfu yang Menghilang Hampir 2 Bulan

Namun, apakah pembersihan ini pertanda keseriusan Xi untuk merebut Taiwan? Atau justru menunjukkan adanya pertarungan kekuasaan internal yang tersembunyi?

Menurut Presiden Jamestown Foundation, Peter Mattis, tidak ada tanda krisis politik yang eksplisit, “tapi ada gema dari sesuatu yang sedang terjadi di kedalaman politik internal PKC.”

Konsolidasi Kekuatan


Tiga dari enam komandan militer utama di Komisi Militer Pusat (CMC)—badan pengawas militer tertinggi PKC—telah dicopot. Menteri Pertahanan Li Shangfu menghilang sejak 2023 sebelum akhirnya dipecat. Direktur Departemen Kerja Politik, Laksamana Miao Hua, juga dipecat karena “pelanggaran disiplin serius". Wakil Ketua CMC Jenderal He Weidong belum terlihat di publik selama hampir enam bulan.

“Belum pernah setengah dari anggota CMC dipecat dalam waktu sesingkat ini,” ujar Profesor Taylor Fravel dari MIT. “Yang lebih aneh, semua pejabat ini sebelumnya dipromosikan oleh Xi sendiri.”

Kini, CMC hanya tersisa empat anggota. Salah satunya adalah Xi sendiri sebagai ketua, yang membuat keputusan militer sepenuhnya berada di tangannya. Menurut analis dari Singapura, Dr Zi Yang, kondisi ini menciptakan ruang gema (echo chamber) dan minimnya keragaman pemikiran di jajaran militer China.

Baca Juga: Penuntutan 2 Jenderal PLA Perlihatkan 'Penyakit' Serius di Militer China

Pembersihan Demi Loyalitas


Selain pembersihan di tingkat CMC, dua laksamana tinggi lain, Li Hanjun dan Li Pengcheng, juga dicopot. Namun informasi rinci soal kasus mereka nyaris tidak tersedia. Tuduhan umumnya hanya disebut sebagai “pelanggaran disiplin”.

Salah satu dugaan motifnya adalah korupsi. Kasus terbaru bahkan menyebut adanya personel pasukan rudal yang menyedot bahan bakar dari rudal nuklir untuk memasak karena fasilitas dapur mereka tak dirawat—informasi yang bocor dari intelijen AS.

Namun, menurut Fravel, pembersihan ini juga bisa diarahkan pada pejabat yang dianggap membentuk “gunung kekuasaan” pribadi dalam tubuh PLA, yang dianggap mengancam kontrol Xi.

Sayangnya, menurut Dr Zi, “atmosfer penuh ketakutan ini memberi Xi suara tunggal dalam urusan pertahanan, meski ia tak memiliki latar belakang militer kuat.”

Xi Ingin Berkuasa Seumur Hidup?


Bulan lalu, Politbiro PKC mengumumkan pembentukan “badan pengambilan keputusan dan koordinasi Komite Sentral” yang baru. Badan ini mengeklaim memperkuat kepemimpinan terpusat dalam kebijakan besar. Namun, Xi hanya disebut sebagai anggota, bukan sebagai pemimpin utama.

Absennya penerus yang jelas memperkuat dugaan bahwa Xi berambisi memimpin seumur hidup. Pleno PKC yang dijadwalkan bulan depan—biasanya menjadi forum pemilihan pemimpin masa depan—akan menjadi penanda penting apakah Xi benar-benar mengamankan kekuasaan tanpa batas waktu.

“Para elite PKC mungkin sepakat tentang visi kejayaan China di masa lalu, tapi tidak semuanya sepakat siapa yang harus memimpin jalan ke sana,” ujar Mattis.

Meski begitu, Xi telah memastikan bahwa jarinya tetap berada di pelatuk kekuatan militer. “Partai memegang kendali atas senjata,” kata Dr Zi. “Tapi komando tunggal tanpa perdebatan bisa sangat membahayakan kesiapan tempur PLA.”
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Media Pemerintah China:...
Media Pemerintah China: Jepang Benar-benar Simulasikan Serangan terhadap Kapal Induk Liaoning
7 Pekerjaan Pertama...
7 Pekerjaan Pertama Para Pemimpin Dunia yang Tak Banyak Diketahui, Ada yang Jual Teh hingga Jadi Tukang Kayu
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
Panda Bond Akan Manfaatkan...
Panda Bond Akan Manfaatkan Skema LCT, Bisa Tambah Cadev USD50 Miliar
Update Korban Gempa...
Update Korban Gempa Venezuela: 235 Orang Tewas dan 70.000 Keluarga Terdampak
Gempa Venezuela: Korban...
Gempa Venezuela: Korban Tewas Tembus 1.700 Orang, 5.000 Lainnya Luka
Rekomendasi
Sidang Praperadilan,...
Sidang Praperadilan, Roy Suryo Geleng-geleng Kepala Dengar Jawaban Polda Metro Jaya
Sidang Lanjutan Praperadilan...
Sidang Lanjutan Praperadilan Roy Suryo, Polda Metro Jaya Bacakan Jawaban
Maroko Ciptakan Sejarah...
Maroko Ciptakan Sejarah Baru di Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Apakah Gerakan Amal...
Apakah Gerakan Amal Bisa Menggantikan Hizbullah?
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Indonesia Lunasi Proyek...
Indonesia Lunasi Proyek Jet Tempur KF-21 Korsel Rp6,9 Triliun, Dapat Transfer Teknologi Apa?
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Infografis
Perang Pecah, Ini Perbandingan...
Perang Pecah, Ini Perbandingan Kekuatan Militer Thailand vs Kamboja
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved