Seorang Sukarelawan Sakit, Uji Klinis Vaksin AstraZeneca Dihentikan
Kamis, 10 September 2020 - 10:35 WIB
loading...
A
A
A
Dalam catatan BBC, insiden itu merupakan kedua kalinya uji coba vaksin virus corona dari Universitas Oxford ditunda. Peristiwa semacam itu rutin dalam uji coba skala besar, dan terjadi setiap kali relawan dirawat di rumah sakit lantaran penyebab penyakit mereka tidak segera diketahui. Pengujian vaksin diperkirakan dapat dilanjutkan dalam hitungan hari.
Sementara itu, Australia mengaku tidak khawatir dnegan penundaan uji klinis tersebut. “Dengan informasi yang saya dapatkan, saya tidak khawatir,” kata Deputi Kepala Pejabat Medis Australia, Nick Coatsworth kepada Sky News. Dia mengungkapkan, uji coba itu tidak berarti vaksin tersebut tidak aman.
“Justru itu menjadi hal positif karena menunjukkan pengembangan vaksin yang terakselerasi dan keselamatan menjadi aspek prioritas,” kata Coastworth. Dia mengungkapkan, Australia seperti kebanyakan pemerintahan negara lain telah berinvestasi dalam sejumlah kandidat vaksin. Sebelumnya, Australia mengatakan akan mendapatkan dosis pertama vaksin AstraZeneca pada Januari 2021 jika uji klinisnya sukses.
Saham AstraZeneca langsung turun 8% dalam perdagangan di AS. Sementara, saham perusahana farmasi yang mengembangkan vaksin seperti Moderna Inc naik lebih dari 4% sedangkan Pfizer hanya naik tidak lebih dari 1 %. Moderna mengaku tidak mengetahui adanya dampak dalam uji klinis vaksinnya saat ini.
Pada Selasa (8/9/2020), sembilan perusahaan pengembang vaksin Covid-19 berusaha meyakinkan publik dengan mengumumkan sebuah "ikrar bersejarah" untuk menjunjung tinggi standar ilmiah dan etika dalam pengembangan vaksin. (Baca juga: Ternyata Tidur Bisa Cegah Alzheimer)
AstraZeneca adalah di antara sembilan perusahaan yang menandatangani ikrar untuk hanya mengajukan permohonan persetujuan peraturan setelah vaksin melalui tiga fase studi klinis. Perusahaan-perusahaan raksasa Johnson & Johnson, BioNTech, GlaxoSmithKline, Pfizer, Merk, Moderna, Sanofi dan Novavax adalah para penandatangan lainnya. Janji itu adalah "selalu menjadikan keselamatan dan kesehatan para individu yang divaksinasi sebagai prioritas utama kami".
Sementara itu, Australia mengaku tidak khawatir dnegan penundaan uji klinis tersebut. “Dengan informasi yang saya dapatkan, saya tidak khawatir,” kata Deputi Kepala Pejabat Medis Australia, Nick Coatsworth kepada Sky News. Dia mengungkapkan, uji coba itu tidak berarti vaksin tersebut tidak aman.
“Justru itu menjadi hal positif karena menunjukkan pengembangan vaksin yang terakselerasi dan keselamatan menjadi aspek prioritas,” kata Coastworth. Dia mengungkapkan, Australia seperti kebanyakan pemerintahan negara lain telah berinvestasi dalam sejumlah kandidat vaksin. Sebelumnya, Australia mengatakan akan mendapatkan dosis pertama vaksin AstraZeneca pada Januari 2021 jika uji klinisnya sukses.
Saham AstraZeneca langsung turun 8% dalam perdagangan di AS. Sementara, saham perusahana farmasi yang mengembangkan vaksin seperti Moderna Inc naik lebih dari 4% sedangkan Pfizer hanya naik tidak lebih dari 1 %. Moderna mengaku tidak mengetahui adanya dampak dalam uji klinis vaksinnya saat ini.
Pada Selasa (8/9/2020), sembilan perusahaan pengembang vaksin Covid-19 berusaha meyakinkan publik dengan mengumumkan sebuah "ikrar bersejarah" untuk menjunjung tinggi standar ilmiah dan etika dalam pengembangan vaksin. (Baca juga: Ternyata Tidur Bisa Cegah Alzheimer)
AstraZeneca adalah di antara sembilan perusahaan yang menandatangani ikrar untuk hanya mengajukan permohonan persetujuan peraturan setelah vaksin melalui tiga fase studi klinis. Perusahaan-perusahaan raksasa Johnson & Johnson, BioNTech, GlaxoSmithKline, Pfizer, Merk, Moderna, Sanofi dan Novavax adalah para penandatangan lainnya. Janji itu adalah "selalu menjadikan keselamatan dan kesehatan para individu yang divaksinasi sebagai prioritas utama kami".
Lihat Juga :